BULELENG – Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali, Dr. Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si., mengatakan, menanam pohon adalah menanam nafas kehidupan. Menanam pohon juga adalah menanam harapan.
Hal itu dikatakannya saat memberikan sambutan pada acara “Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Oleh Pramuka Madrasah Se-Provinsi Bali” yang dipusatkan di MTs Negeri 1 Buleleng, Patas, Kecamatan Gerokgak, Rabu (11/6/2025). Acara tersebut juga diikuti secara daring oleh Pramuka Madrasah se-Provinsi Bali.
Menurut Dr. Sri Marheni, kegiatan penanaman pohon ini bukan sekadar seremonial atau formalitas saja. “Ini adalah langkah nyata yang mencerminkan komitmen kuat madrasah dan gerakan Pramuka dalam mewujudkan cinta lingkungan, membangun karakter, menanam nilai kemandirian, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap sesama dan alam,” ujarnya.

Dr. Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si.
“Kata-kata orang bijak bahwa menanam pohon, meski ia tahu mungkin tak sempat berteduh di bawahnya. Sebab, menanam pohon adalah menanam sebuah harapan,” sambungnya.
Menurut Dr. Sri Marheni, melalui kegiatan ini, pihaknya ingin membentuk pribadi-pribadi tangguh dan berjiwa hijau, yang cinta pada alam, cinta pada bumi, dan cinta pada kehidupan. Kata dia, Pramuka Madrasah hari ini adalah agen perubahan menuju masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Dijelaskan juga bahwa kegiatan ini juga sejalan dengan semangat Kurikulum Cinta yang akan segera diluncurkan oleh Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, yang mengedepankan nilai-nilai Cinta Tuhan, Cinta Ilmu, Cinta Sesama, dan juga Cinta Lingkungan. “Ini sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik madrasah,” tegasnya.

Dikatakan, Pramuka bukan hanya baris-berbaris dan tali-temali, tetapi juga adalah jalan pengabdian dan media pembentukan jiwa nasionalis, agamis, dan ekologis.
Ia mengatakan, Pulau Bali dikenal sebagai Pulau Dewata yang sarat makna spiritual dan kearifan lokal. Menurutnya, melalui gerakan ini, kita ingin membumikan kembali semangat Tri Hita Karana-harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan harmoni dengan lingkungan.
“Mari kita jaga Bali, mari kita hijaukan kembali tanah-tanah yang gersang, hutan-hutan yang meranggas, dan halaman-halaman madrasah yang kering. Karena sesungguhnya barang siapa menanam kebaikan, maka ia akan menuai keberkahan. Barang siapa menanam pohon, maka ia telah menanam nafas kehidupan,” ujar Dr. Sri Marheni.
Ia mengajak seluruh madrasah se-Bali untuk menjadikan momentum ini sebagai gerakan berkelanjutan. Bukan hanya hari ini, tetapi menjadi budaya madrasah di masa depan.
Sementara Kepala Kemenag Buleleng, I Gede Sumarawan, menjelaskan, gerakan penanaman bibit pohon ini untuk menginformasikan betapa pentingnya pelestarian alam. Betapa pentingnya menghijaukan alam ini. Kata dia, ini sesuai dengan program Menteri Agama yang disebut ecoteologi.
“Di mana intinya kita bersahabat dengan alam. Menurut Menteri Agama ketika manusia ingin bahagia, maka bagaimana menjaga hubungan baik dengan Tuhan, bagaimana dengan sesama dan bagaimana alam di sekitar ini,” katanya.

Menurutnya, kegiatan ini ingin memberikan pelajaran kepada anak-anak Pramuka untuk terus bisa melestarikan alam ini. Kata dia, jika hubungan kita dengan Tuhan atau Sang Pencipta baik, dengan manusia juga baik, maka dengan alam seharusnya juga baik. “Kalau ketiga hubungan ini bisa kita laksanakan dengan baik, manusia akan mendapatkan kebahagiaan,” tegas Sumarawan.
Dikatakan, bibit pohon yang ditanam dalam gerakan penanaman 1 juta pohon adalah matoa. Kata dia, pohon matoa kalau tumbuh baik dan subur nanti akan rindang, sehingga bisa memberikan kesejukan, dan kedamaian.
Pohon matoa ini juga berbuah. “Jadi, disamping pohon ini memberikan kerindangan, kedamaian, dan mengayomi, buahnya merupakan sumber vitamin yang sangat bermanfaat bagi manusia,” tandas Sumarawan. (bs)

