
PERINGATAN peristiwa yang sangat luar biasa, yakni malam Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Desa Pegayaman, selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat dari semua kalangan. Dari anak-anak, ibu-ibu dan tentu bapak-bapak. Sebab, dalam pelaksanaan peringatan Isra’ Mi’raj ini, masyarakat dapat menyimak kajian kisah yang sangat luar biasa, yakni cerita perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram hingga Sidratul Muntaha. Cerita tersebut sangat berkesan dan sangat melekat dalam jiwa masyarakat Pegayaman.
Bayangkan, dari kalangan anak-anak usia di bawah 10 tahun sudah ikut mendengar pengajian tersebut. Anak-anak ikut begadang di masjid sampai pukul 02.00 dini hari. Terkadang melihat situasi dan kondisi sosial, dan malah yang di zaman dahulu sampai pukul 03.00 pagi. Tapi pada peringatan Isra Mi’raj tahun ini hanya sampai pukul 01.00 dini hari.
Makna-makna yang terkandung dalam Isra Mi’raj dan cerita yang ditafsirkan dari masing-masing para guru pembaca kitab Dardir, akan sangat memberikan kesan kepada para jamaah. Jamaah yang hadir pada kesempatan ini adalah dari kalangan anak-anak, ibu-ibu dan remaja putra putri dan bapak-bapak. Serta para undangan dari karangan para ustadz untuk membaca kitab Dardir.
Selain itu, juga hadir juga dari bapak-bapak yang sudah sepuh. Mereka sangat antusias memenuhi masjid untuk ikut dengan takzim mendengarkan kajian-kajian kitab Dardir yang dibacakan oleh para ustadz.
Begitu gembiranya anak-anak menyambut peringatan Isra Mi’raj ini sampai mereka membuat kesepakatan-kesepakatan di antara mereka untuk bersama-sama hadir begadang di masjid menunggu pembacaan dan mendengar pembacaan kitab Dardir. Selain memang ada yang diharapkan, yakni ketika pembacaan kitab Dardir ini akan dibagikan nasi bungkus yang telah disiapkan oleh ibu-ibu.
Ibu-ibu juga tak kalah bahagianya dalam menyiapkan sajian berupa nasi yang dibungkus, dan juga jajan yang dibungkus. Setiap ibu membawa minimal dua bungkus, baik itu jajan maupun nasi. Itulah yang nanti dibagikan kepada warga yang hadir di masjid sampai usainya acara peringatan Isra Mi’raj ini.
Para remaja putra putri dari kalangan remaja masjid dan yang lainnya juga sangat bergembira menyambut peringatan Isra Mi’raj. Mereka telah melakukan pembersihan sehari sebelum acara, melakukan persiapan-persiapan peringatan Isra Mi’raj.
Tiga hari menjelang peringatan Isra Mi’raj, panitia mengadakan rapat. Panitia mengumpulkan semua kepengurusan Masjid Jamik Safinatussalam Desa Pegayaman, dari semua sub-sub bidang kepengurusan. Seperti imaroh yang mengurus tentang kemakmuran masjid. Bagian idaroh yang mengurus tentang kegiatan-kegiatan an-nas dengan hubungan masyarakat dan pendidikan, serta bagian yang mengurus tentang administrasi masjid.
Panitia inilah yang mengatur pelaksanaan peringatan Isra Mi’raj. Misalnya siapa yang harus diundang untuk membaca kitab Dardir, dan bagaimana sistem konsumsi pelaksanaan. Khusus konsumsi, ada dua cara dalam penyediaannya. Pertama, para undangan dan pengisi pengajian atau pembaca kitab Dardir konsumsinya dibuatkan oleh panitia khusus.
Sementara yang dibagikan kepada warga adalah konsumsi yang memang disedekahkan oleh warga. Biasanya berlimpah jumlahnya. Ini membuktikan bahwa sikap warga dalam memperingati Isra Mi’raj ini sangat antusias. Sedekah konsumsi yang diberikan warga kadang-kadang sampai berlebih.
Peringatan Isra Mi’raj diawali dengan pembacaan ayat kitab suci Alquran. Penghulu Desa Pegayaman kemudian membuka acara. Dilanjutkan dengan pembacaan kitab Dardir yang dibuka kajiannya oleh Kepala Desa Pegayaman yang juga ahli dalam pembacaan kitab Dardir. Kepala desa ini adalah jebolan pondok pesantren.
Inilah yang membuat menarik peringatan Isra Mi’raj Desa Pegayaman. Dilaksanakan dan diisi oleh dua pimpinan, yakni pimpinan adat dan pimpinan pemerintah. Penghulu desa sebagai pimpinan adat, dan kepala desa sebagai pimpinan pemerintahan mampu memberikan contoh kepada generasi muda bahwa sebagai seorang pemimpin harus mampu membidangi masalah dunia dan akhirat. Di dalam keilmuan ini, mungkin hanya ada di Pegayaman sementara ini.
Setelah dibacakan oleh kepala desa, pembacaan kitab Dardir akan dilanjutkan oleh wakil penghulu. Ada dua wakil penghulu di Pegayaman, yakni wakil penghulu 1 dan wakil penghulu 2. Setelah wakil penghulu 1 dan 2 berhenti membaca kitab Dardir dilanjutkan oleh ustadz-ustadz muda Pegayaman yang diundang. Mereka biasanya tamatan pondok pesantren.
Kajian-kajian kitab Dardir ini disajikan dengan multitafsir dari masing-masing disiplin ilmu para ustadz. Semua itu dikaji dengan contoh-contoh yang sudah terimplementasi di lapangan. Diharapkan ke depannya juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh jamaah Pegayaman, baik yang hadir di dalam masjid maupun yang mendengar dari loudspeaker masjid. Sebab, dalam pengajian ini, disamping menggunakan loudspeaker luar juga menggunakan loudspeaker dalam.
Dalam melaksanakan Isra Mi’raj tahun ini, karena kondisi di Bali masih level 3 pandemi Covid-19, maka panitia membuat kesepakatan bahwa acara Isra Mi’raj bisa dilaksanakan dengan catatan tetap menjalankan protokol Kesehatan. Jam pelaksanaan juga diatur, dari pukul 21.00 Wita sampai pukul 01.00 Wita.
Alhamdulillah, peringatan Isra Mi’raj tahun 2022 ini berjalan dengan lancar dan baik. Semoga pelaksanaan peringatan Isra Mi’raj ini selalu bisa dilaksanakan sebagai sebuah kegiatan budaya yang bernuansa ibadah dengan ciri khas Pegayaman.
Ada beberapa pelajaran yang dipetik dari pelaksanaan peringatan Isra Mi’raj di Desa Pegayaman. Pertama, kita bisa mereview pengetahuan sejarah perjalanan kisah Rasulullah SAW dalam menerima tugas berat sebagai Nabi dan Rasul untuk umat Islam pada khususnya, dan alam semesta pada umumnya. Kedua, mempertahankan budaya Pegayaman sebagai sebuah kearifan local, warisan yang sangat luar biasa. Kearifan lokal ini hanya Pegayaman yang punya.
Ketiga, memberi sebuah beban pembelajaran kepada generasi muda agar terus belajar kitab Dardir dan secara regeneratif bisa tersambung, sehingga budaya ini bisa bertahan. Keempat, sebagai ajang silaturrahim bagi warga Pegayaman, baik yang ada di alas (hutan), desa, serta pengingat bagi warga Pegayaman yang ada di luar Desa Pegayaman.
Kelima, memberi kesan yang khusus bagi memori anak-anak generasi Pegayaman untuk bisa melaksanakan ketika dia dewasa nanti. Keenam, merupakan catatan sejarah yang sangat luar biasa. Adat ini bisa terus berlangsung di Pegayaman. (bs)






