LONTAR Buda Kecapi—atau dalam beberapa tulisan disebut Usada Budha Kecapi—adalah salah satu naskah lontar tradisional Bali yang memuat pengetahuan tentang pengobatan tradisional, etika praktisi (usadha), dan hubungan manusia dengan alam.
Meski tidak sepopuler kakawin besar atau babad sejarah, lontar ini menarik banyak perhatian penulis, sastrawan, dan cendekiawan kontemporer karena lapisan filosofis, etis, dan ekologis yang terkandung di dalamnya.
Pandangan mereka menunjukkan bahwa Buda Kecapi lebih dari sekadar teks pengobatan—ia adalah sumber wawasan hidup yang kaya dan relevan bagi pembaca masa kini.
Pandangan-pandangan penulis dan sastrawan tentang Buda Kecapi yang dikumpulkan dalam acara Festival Sastra di Singaraja atau Singaraja Literary Festival, Juli 2025, menyebutkan bahwa Buda Kecapi bukan semata teks, melainkan semacam simpul yang mengikat sastra, spiritualitas, dan keseharian.
Seperti Royyan Julian, misalnya. Sastrawan muda asal Pulau Garam itu pernah membahas Usada Budha Kecapi secara naratif dan kontekstual dalam esainya Darma Kosmik ‘Usada Budha Kecapi’. Ia berpendapat bahwa naskah Buda Kecapi memasukkan ajaran tradisional dalam bentuk cerita dan puisi sehingga mudah diingat dan diwariskan secara lisan maupun tertulis.
Menurut Royyan, struktur naratif Buda Kecapi menggabungkan dimensi spiritual dan material pengobatan, di mana ritual dan mantra tidak terpisah dari praktik herbal—hal yang mencerminkan pandangan tradisional tentang keterkaitan manusia dengan alam dan kekuatan ilahi.

Dalam kisah teks itu sendiri, tokoh seperti Buda Kecapi menjadi guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya nilai pengetahuan komprehensif tentang penyembuhan dan kehidupan sehari-hari.
Penekanan Royyan pada kombinasi narasi sederhana dan dimensi spiritual-material menjadikan Buda Kecapi bukan hanya teks pengobatan, tetapi juga karya dengan nilai estetika tradisional yang kuat.
Sementara itu, berangkat dari sudut pandang ekologis, dalam esainya yang berjudul Buda Kecapi Sastrasanga: Membaca Hari, Harmoni Bumi, Jero Penyarikan Duuran Batur (I Ketut Eriadi Ariana), akademisi sekaligus tokoh muda agama Hindu di Batur, melihat lontar ini sebagai wacana yang melampaui batas teks usadha semata.
Menurutnya, Buda Kecapi tidak sekadar panduan pengobatan, tetapi juga refleksi filosofis tentang hakikat manusia sebagai bagian dari alam yang tunduk pada hukum kosmik (rta).
Bagi Jero Penyarikan, keterikatan manusia dengan alam dalam Buda Kecapi menawarkan kritik terhadap pola hidup modern yang sering kali mengabaikan siklus ekologi dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, teks ini, menurutnya, memiliki relevansi kontemporer dalam menghadapi perubahan iklim dan ketidakseimbangan ekologis.
Putu Eka Guna Yasa, pengkaji lontar dan akademisi, dalam esainya Śāsana Balian Bali dalam Lontar Buddha Kĕcapi menyoroti dimensi etika dan spiritual teks ini, terutama terkait praktik dunia pengobatan tradisional Bali. Bagi Guna, Buda Kecapi menampilkan seorang figur ideal (Buddha Kecapi) yang bukan hanya mahir secara teknis dalam pengobatan, tetapi juga menekankan etika guru-murid dan profesionalisme pengusadha (pengobat).
Guna menelaah bagaimana lontar ini mengajarkan disiplin moral dalam praktik pengobatan, termasuk kehati-hatian dalam diagnosis dan perlakuan terhadap pasien, serta prinsip keseimbangan antara imbalan materi dan komitmen terhadap keselamatan manusia.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Buda Kecapi bukan sekadar teks ritual, tetapi juga teks yang mengejawantahkan tanggung jawab sosial dan moral dalam kehidupan nyata.
Pandangan Jero Penyarikan dan Guna Yasa menunjukkan dimensi yang berbeda dalam membaca Buda Kecapi—yang satu lebih filosofis dan ekologis, yang lain lebih etis dan spiritual. Namun, keduanya sama-sama menempatkan lontar ini sebagai lebih dari sekadar dokumen kuno.
Bagi kedua penulis, teks ini adalah jendela ke dalam cara hidup yang lebih seimbang antara manusia, alam, dan semesta. Bahkan, sosok seperti Dee Lestari, sastrawan kenamaan Tanah Air, menautkan Buda Kecapi dengan gagasan ekologis dan spiritual yang lebih luas, yakni bahwa manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari alam, sebuah tema yang juga tampak dalam karya-karyanya seperti Partikel. Pandangan ini membuka ruang bagi interpretasi yang lintas batas antara teks kuno dan sastra modern.
Dalam kajian yang lebih luas, Ratih Kumala, Oka Rusmini, dan Chynta Hariadi, yang berbicara dalam sesi Narasi Perempuan yang Menyembuhkan, banyak mengaitkan gagasan penyembuhan yang terkandung dalam lontar dengan pengalaman perempuan dalam narasi kontemporer.
Selain itu, dalam forum Puisi yang Mengobati Diri, para penulis seperti Henry Manampiring, Putu Fajar Arcana, dan Shinta Febriany juga mengaitkan konsep penyembuhan dalam Buda Kecapi dengan kehidupan manusia hari ini, tapi lebih menonjolkan bagaimana bahasa dan ritme puisi dapat menjadi media reflektif terhadap luka batin dan proses pemulihan jiwa.
Sedangkan menurut Inderjeet Mani (novelis kelahiran India), Menka Shivdasani (penyair, editor, penerjemah, dan peneliti), dan Joseph Callins, gagasan penyembuhan dalam Buda Kecapi dapat dibaca sebagai bagian dari wacana global tentang hubungan antara budaya lokal dan kebutuhan spiritual manusia modern.
Tak sampai di situ, seniman seperti Ni Nyoman Sani, Putu Fajar Arcana, dan I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa bahkan menggali nilai estetis lontar tersebut melalui medium visual. Meskipun bukan dalam bentuk tulisan, tetapi tetap memengaruhi cara pandang tentang narasi Buda Kecapi sebagai inspirasi kreatif.
Keragaman pandangan dari para penulis, sastrawan, dan seniman di atas menunjukkan bahwa Buda Kecapi tidak hanya dilihat sebagai dokumen kuno semata, tetapi sebagai teks yang relevan dalam diskursus kontemporer—baik dalam kajian sastra, pengobatan, etika kehidupan, maupun refleksi ekologis. Melalui pendapat-pendapat ini, teks lontar menjadi medium dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan modernitas.
Tampaknya, hampir semua pandangan itu bertemu pada satu titik: Buda Kecapi adalah contoh bagaimana sastra bisa menjadi laku. Ia tidak berhenti sebagai kata-kata di daun lontar, tetapi merembes ke cara orang memandang hidup, menata diri, dan memahami waktu.
Dalam pengertian ini, penulis, sastrawan, dan seniman yang membicarakannya sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang lebih luas: tentang kemungkinan sastra untuk tetap bersahaja, tetap berguna, dan tetap bernapas di tengah dunia yang semakin banal.
Sampai di sini, Buda Kecapi yang dibahas dalam sesi-si seminar di festival yang didukung Kementerian Kebudayaan melalaui Dana Indonesiana itu mungkin tidak akan pernah menjadi teks yang ramai diperdebatkan di seminar-seminar besar. Tetapi justru di situlah posisinya menjadi penting.
Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah sastra, selalu ada teks-teks yang bekerja di pinggir, yang tidak mengejar pusat perhatian, namun diam-diam menjaga api kecil kebudayaan agar tidak padam. Dan bagi sejumlah penulis, sastrawan, dan seniman, api kecil itulah yang sering kali paling setia menerangi jalan. (bs)

