KAWASAN muara Tukad Buleleng di kota Singaraja semakin diramaikan warga memancing. Ada sensasi yang khas ketika memancing di titik ini, yakni bisa menikmati aroma pagi pantai Buleleng dan menikmati view jembatan Belanda yang bersejarah dan deretan bangunan rumah warga di pinggir sungai (tukad) yang menyerupai view sungai berlatar bangunan di Venesia, Italia.
Selasa pagi, 24 Juni 2025. Kota Singaraja baru bangun. Matahari baru setinggi sekitar 15 derajat. Jalan setapak sebelah timur muara Tukad Buleleng, atau dari sebelah barat Hotel Singaraja hingga jembatan putih Belanda, suasana mulai ramai.
Sejumlah warga, ada yang mengajak istri, ada juga yang mengajak anak, melempar pancing. Ke arah tukad, ke dalam sungai. Mereka mengambil posisi berjejer di tembok penyengker jalan yang berhias lampu.


Ya mereka memancing. Memancing di muara yang belakangan ini sering mengalami pasang di pagi hari. Karena itu, muara tukad (sungai) hingga bawah jembatan Belanda nyaris terisi penuh air laut.
Warga yang memancing di sana datang dari berbagai desa. Menggunakan pancing jenis joran berukuran kecil hingga besar. Umpan yang dibawa biasanya cacing atau udang. Ada penjual cacing untuk umpan pancing di sekitar daerah itu.
Jenis ikan yang mereka dapatkan ketika memancing di muara Tukad Buleleng tersebut kebanyakan ikan cotek, dan jenis ikan kecil lainnya.
Beberapa pemancing mengaku tidak peduli dengan jenis ikan hasil pancingannya. Bagi mereka, ada sesuatu yang lebih diinginkan dengan memancing di muara tukad yang pernah menjadi ajang pertempuran di zaman Belanda tersebut.
“Lumayan Pak,” kata Kadek, seorang pemancing menunjukkan hasil pancingannya. Ada tujuh ekor ikan cotek seukuran telapak tangan bayi di dalam ember kecil yang dibawanya.
Baginya, menarik ikan yang memakan umpan pancingnya tentu mendegupkan rasa bahagia di dadanya. Apalagi ketika ikan bermain-main dengan pancingnya, tarik lepas, tarik lepas. Ada rasa penasaran yang menggairahkan, untuk melakukan trik tarik-lepas tali pancing agar ikan tertangkap pancing. Puncak rasa bahagianya ketika strike, dan ikan berhasil dipindahkan ke ember.
Namun, kata Kadek, ada sensasi berbeda ketika memancing di muara Tukad Buleleng dibandingkan di spot atau lokasi lain. Ia bisa menikmati aroma uap air pantai yang khas muara. Juga jika memandang ke utara, ia bisa menikmati pantai Buleleng, patung pejuang yang menjadi ikon Pelabuhan Tua Buleleng, hingga aktivitas nelayan dengan perahu-perahu mungilnya.
Jika memandang ke selatan, ia bisa menikmati view jembatan putih bersejarah yang dibangun Belanda. View jejeran rumah, toko, menara masjid, dan bangunan-bangunan lainnya yang menyerupai view di sungai Venesia, Italia. Juga view bentangan bukit Buleleng selatan dengan rentetan awan gemawannya.
Pemancing bisa juga sambil menyeruput kopi atau teh hangat yang bisa dibeli di warung lesehan yang ada di dekat lokasi. Atau bisa juga membawanya dari rumah. Lengkapi dengan pisang goreng atau ote-ote hangat.


“Bayangkan, sambil memandangi view-view itu, ada sentuhan-sentuhan menggoda di tali-tali pancing, ah betapa sensasionalnya,” tutur Kadek, yang mengaku dari Banyuning ini.
Hal senada diungkapkan Purnomo. Ia mengaku biasanya memancing di bibir pantai atau menyewa perahu memancing ke tengah laut. Namun, ia juga sering memancing di sungai atau muara Tukad Buleleng tersebut.
“Asyik juga memancing di sini, walaupun ikannya kecil-kecil,” katanya. Baginya memancing di titik tersebut cocok untuk melepaskan penat.
Kadek dan Purnomo membayangkan jika muara Tukad Buleleng dikeruk lebih dalam. Dan di sisi barat atau timur dibangun semacam trotoar yang dilengkapi tempat untuk duduk orang memancing, pasti semakin banyak warga yang akan memancing di sana.
“Coba bikin trotoar dari muara hingga satu kilometer ke selatan. Terus sungai dikeruk sedikit, sehingga air laut lebih masuk ke arah selatan, saya yakin banyak warga yang akan memancing di sini,” kata Purnomo.
Apalagi jika di beberapa titik, misalnya, dilengkapi kanopi untuk berteduh. Tentu warga akan betah memancing hingga siang hari sekalipun.
“Daerah ini akan jadi lokasi memancing yang mengasyikkan. Memancing di muara, di bawah jembatan Belanda dan di pinggir-pinggir sungai dengan latar belakang bangunan yang mirip kota-kota di Eropa ini,” ujar Purnomo. (yum)

