DENPASAR – Karena letaknya yang strategis, Provinsi Bali dalam perencanaan pembangunan nasional Indonesia memiliki peran strategis yang dicantumkan dalam RPJPN 2025-2045. Yaitu Tema Koridor Ekonomi: Superhub Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusantara Bertaraf Internasional.
Demikian bunyi naskah dalam Raperda tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Daerah (RPJMD) Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2025-2029 yang diajukan Gubernur Bali dalam rapat paripurna DPRD Bali, Senin (16/6/2025). Raperda dibacakan Wakil Gubernur Bali, Nyoman Giri Prasta, mewakili Gubernur Bali pada rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya, tersebut.
Dalam naskah tersebut dijelaskan, wilayah Bali-Nusa Tenggara memiliki potensi pariwisata yang beragam mulai dari wisata alam, wisata bahari, wisata budaya, wisata buatan dan wisata minat khusus yang tersebar di seluruh wilayah, serta potensi ekonomi kreatif berbasis komoditas unggulan dan budaya tradisi lokal.
“Pengembangan potensi ini telah didukung dengan adanya penetapan DPP, KSPN, dan destinasi pariwisata pengembangan yang diharapkan mampu memberikan multiplier effects pada berbagai sektor, khususnya terkait industri pariwisata dan ekonomi kreatif seperti akomodasi, kuliner, fesyen, kriya, seni pertunjukan, dan lainnya.”
Berkaitan dengan hal tersebut, wilayah Bali-Nusa Tenggara juga memiliki berbagai potensi ekonomi kreatif, baik yang didukung oleh komoditas unggulan maupun yang dipengaruhi oleh ragam budaya dan tradisi lokal.
Dijelaskan juga, Provinsi Bali sebagai salah satu tulang punggung pariwisata di Indonesia, telah memiliki 3.219 usaha ekonomi kreatif dan memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan berupa kopi Kintamani dan Pupuan, mete Kubu, salak Sibetan Karangasem, garam Amed, kerajinan perak Celuk Gianyar, dan tenun Gringsing.
Tenun di wilayah Bali-Nusa Tenggara memiliki motif yang khas sebagai wujud rantai budaya dan tradisi turun temurun yang bernilai ekonomi, serta potensial untuk dikembangkan hingga mampu berkontribusi pada industri fesyen internasional.
“Wilayah Bali-Nusa Tenggara memiliki beragam komoditas unggulan berupa komoditas tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan tangkap, dan perikanan budidaya. Potensi ini dapat dilihat dari besarnya produksi yang dapat mendukung peningkatan hilirisasi komoditas unggulan yang berorientasi ekspor,” demikian penjelasan dalam naskah RPJMD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2025-2045 tersebut.
Dipaparkan, Provinsi Bali memiliki potensi seperti cabai, kopi, udang, tuna, cengkeh, sapi, babi, ayam, dan rumput laut. Pengembangan potensi khususnya untuk komoditas tanaman pangan, perkebunan dan peternakan telah didukung dengan adanya Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) dan Kawasan Food Estate.
Sementara, pengembangan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) juga dilakukan untuk mendukung pemanfaatan potensi perikanan dan kelautan. Potensi komoditas unggulan juga dapat menopang rantai pasok industri akomodasi dan makan minum, serta bahan baku ekonomi kreatif lainnya dalam menunjang pengembangan pariwisata wilayah.
Wilayah Bali juga memiliki sumber EBT yang sangat potensial untuk dikembangkan. Provinsi Bali memiliki potensi tenaga surya sebesar 21,56 GW.
Provinsi Bali juga memiliki potensi demografi yang menarik, di mana sebagian besar penduduknya berada di usia produktif, sehingga ini menjadi bonus demografi, dengan sekitar 70,96% penduduknya berada di usia produktif. Hal ini menunjukkan potensi sumber daya manusia yang besar untuk pembangunan dan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan inovasi.
Bali juga memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan budaya yang kaya yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kepadatan penduduk Bali mencapai 798 jiwa per kilometer persegi, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Kepadatan ini memberikan potensi untuk pengembangan infrastruktur dan layanan publik yang lebih baik.
Bali memiliki budaya yang kaya, termasuk seni tari, pertunjukan, dan upacara adat yang menarik wisatawan lokal dan internasional. Penguatan Lembaga-lembaga adat juga akan mendukung lestarinya budaya Bali. Budaya ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing. Bali terkenal sebagai destinasi wisata andalan dengan berbagai keindahan alam, budaya, dan kuliner. Sektor pariwisata dapat terus dikembangkan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah. (bs)

