
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Buleleng, Moh. Ali Susanto, M.Pd., mendapat undangan berkunjung ke Spanyol dari Dubes RI untuk Kerajaan Spanyol, Dr. Muhammad Najib. Apa saja yang dilakukan selama di negeri Matador tersebut, berikut catatan Moh. Ali Susanto, secara berseri. Ini catatan seri ke-2.
SETELAH mengunjungi GSD International School di Buitrago del Lozoya, saya dan Mbak Ela, bersama Dubes Dr. Najib, ingin melanjutkan perjalanan ke Museum Picasso koleksi orang terdekatnya bernama Eugenio Arias.
Arias merupakan teman spesial, tepatnya tukar cukur pribadi Picasso selama hidup. Kedekatan inilah yang membuat saat-saat tertentu, Picasso menghadiahkan karya-karyanya kepada Arias. Termasuk coretan atau goresan yang ditorehkan Picasso pada alat atau bahan yang dimiliki Arias. Yang eksklusif di museum ini ada coretan tangan Picasso di tempat alat cukur Arias. Ini hanya ada satu di dunia, yakni di museum ini.
Museum Picasso berada kurang lebih 80 km di luar kota Madrid. Tepatnya di wilayah Buitrago del Lozoya.
Di wilayah ini sebenarnya juga ada situs berupa gereja yang di dalamnya terdapat lambang-lambang agama dunia termasuk Islam. Ada tulisan Allah dan Muhammad di dalam gereja. Ada juga benteng yang dulunya dibangun untuk mempertahankan serbuan musuh dari luar wilayah ini.
Namun, sayangnya karena kondisi fisik Mas Dr. Najib dan saya sendiri belum bugar betul karena perubahan iklim yang agak ekstrem, maka diputuskan untuk menunda kunjungan ke situs tersebut.
Sementara pada hari ke-3 di Spanyol, agenda kami mengunjungi masjid-masjid di kota Madrid. Berangkat pukul 10 pagi dari Wisma Duta Indonesia, kami langsung ke masjid Arab atau orang Madrid menyebut masjid M-30. Disebut Masjid Arab karena masjid ini merupakan wakaf Kerajaan Arab Saudi dan manajemen masjid juga langsung dikelola oleh orang Arab. Disebut masjid M-30 karena letaknya di tengah kota Madrid (M) dan berada di lingkar 30.
Menariknya, di masjid ini terdapat restoran, sekolah, perpustakaan besar dan tentu saja ruang sholat. Saya bersyukur langsung diterima dan ditemani oleh Muhammad Sa’id, orang Jordania yang kedudukannya sebagai sekretaris pengelola masjid.
Di masjid ini kurang lebih 15 orang per bulan masuk Islam. Islam di Eropa saat ini menjadi agama dengan perkembangan yang sangat pesat. Mungkin karena cara dakwah mereka jauh dari kata memaksa, menakut-nakuti, dan bahkan dengan cara intimadasi.
Kebetulan kunjungan saya juga bersama dengan orang lokal bernama Ana. Dia tertarik untuk masuk masjid dan dengan sangat ramah diterima oleh pihak pengelola. Dia tidak diwajibkan harus memakai pakaian yang menutup aurat dulu. Atau dicurigai najis. Dia bebas berjalan mengelilingi masjid bahkan ke ruang utama yang digunakan untuk sholat. Tentu ini sangat menarik berdakwah di daerah mayoritas nonmuslim.
Hal menarik lainnya, di masjid ini juga terdapat koleksi Al Quran dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Di Masjid Arab ini terdapat Al Quran terjemahan dari Kantor Kementerian Agama RI. (bs)
Bersambung ….







