PERJALANAN hidup seseorang kadang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Sosok Masduki yang saat ini dikenal masyarakat sebagai seorang pengacara handal Jembrana, misalnya. Perjalanan panjangnya menjadi seperti sekarang ini jarang diketahui oleh masyarakat.
Masduki muda memulai dengan susah payah, bermodal keberanian. Selepas wisuda dari kampusnya di Malang, ia menikahi seorang putri asal kota Malang. Mereka hidup bersama dengan mengontrak sebuah rumah kecil di pinggiran Jembatan Syarif Tue Loloan.

Berbekal modal nekad, Masduki muda mulai bekerja sebagai seorang servis HP maupun monitor televisi, soder menyoder dan bermain-main dengan elektronikpun ia geluti sejak 2003 hingga tahun 2015 silam.
Sejak tahun 2015 silam mencoba, ia menapaki karir sebagai pengacara yang menangani rata-rata 15 sampai dengan 20 kasus setiap tahunnya. Baik kasus para klien yang diselesaikan di pengadilan negeri maupun di pengadilan agama.
Sosok Masduki, ayah dari 3 putra dan 1 putri ini juga mengajak asisten untuk mengurusi berkas-berkas administrasi.
Pontang-panting Masduki yang memulai karir dari nol sebagai pengacara pemula hingga kini menjadi seorang pengacara top di kota Negara. Hal ini merupakan cambukan bagi seorang pemuda kampung Loloan Barat yang keluarganya berasal dari keluarga pas-pasan.
Berbagai hinaan maupun celaan sudah kenyang diterima oleh Masduki muda kala itu, karena berambisi meneruskan kuliahnya dengan dana yang seadanya saja.

Sebutan tingkatan atau kelas karir dari golongan berdasi tidak membuat seorang Masduki lupa daratan ataupun lupa masa silamnya. Ia tetap merakyat dan bersahaja.
Sebagai pengacara ternama, Masdukipun tetap tidak mematok harga ataupun tarif setiap kasusnya. Akan tetapi harga selalu berdasarkan kesepakatan yang ditempuh bersama kliennya. Dengan kata lain, untuk urusan harga atau tarif cukup fleksibel saja.
Sederhana saja, padahal beliau termasuk kaum intelektual akademisi profesi advokasi. Di tengah kesibukannya, Masduki tetap meluangkan untuk mengajak ngopi konco lawas.
Tetapi satu motto ataupun prinsip yang tetap dipegang oleh beliau yaitu “Jangan lupakan waktu ngopimu, sesibuk apapun kerjamu”. Untuk satu hal ini, penulis sepakat sudah. (bs)

