BULELENG – Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Bali me-launching buku “Jejak Islam di Bali” karya penulis dr. Soegianto Sastrodiwiryo. Launching buku tersebut dilaksanakan di sela-sela acara Pengukuhan Pengurus dan Mukerda I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Buleleng di Aula Gedung Haji Kemenag Buleleng, Sabtu (25/12/2021).
Launching ditandai dengan penyerahan buku “Jejak Islam di Bali” kepada Ketua Umum MUI Provinsi Bali, Drs. H. Mahrusun Hadyono, M.Pd.I, oleh editor buku Drs. Amoeng A. Rachman.
Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Buleleng, H.B. Ali Musthofa, S.Ag., M.HI, menyatakan bersyukur buku “Jejak Islam di Bali” bisa di-launching. “Selama ini baru kone-kone. Baru omong-omongan, oh di Buleleng itu sejarah Islam begini-begini. Namun, alhamdulillah saat ini sudah dicatat. Sudah dibukukan. Insya Allah ke depan akan menjadi catatan sejarah umat Islam yang ada di Buleleng,” katanya.
Menurutnya, penerbitan buku tersebut merupakan rekomendasi dari MUI kepengurusan sebelumnya. “Alhmadulillah sekarang sudah terwujud,” ujar Ali Musthofa.

Sementara editor buku “Jejak Islam di Bali”, Drs. Amoeng A. Rachman, mengatakan, buku tersebut memaparkan secara panjang lebar sejarah Islam di Bali dari masa kerajaan, masa kolonial dan masa kemerdekaan. “Buku juga ini membahas tentang tokoh-tokoh Islam di Bali, juga organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan NU,” jelasnya.
Misalnya, kata dia, di buku ini dipaparkan bagaimana kontribusi dan peran tokoh-tokoh Islam di Bali yang selama ini tidak ada yang nulis. Contohnya Kapten M. Anang Ramli, seorang pejuang kemerdekaan, yang merupakan pasukan khusus I Gusti Ngurah Rai.
Menurutnya, memang ada beberapa buku yang menulis peran Kapten M. Anang Ramli dalam masa Revolusi Fisik, namun tidak terlalu detail. Bahkan ada buku yang justru distori. Ia memberi contoh peristiwa penurunan bendera Belanda di Pelabuhan Buleleng pada 27 Oktober 1945.
Dikatakan Amoeng, menurut versi LVRI Buleleng yang resmi, sudah jelas dikatakan bahwa yang menurunkan bendera Belanda saat itu dua orang, yaitu Kapten Muka dan Kapten M. Anang Ramli. Namun, tidak detail dipaparkan kisahnya. “Tapi kesaksian Pak Anang Ramli sebagai pelaku sejarah, beliau punya catatannya. Punya dokumennya. Itu saya ceritakan di buku ini. Supaya lebih objektif. Supaya punya kekuatan,” paparnya.
Menurut Amoeng, ada sebuah buku yang ditulis oleh AA Udayana Panji Sakti. Dia sebenarnya menulis buku “Patih Jelantik sebagai Pahlawan Nasional”, ketika masih dalam usulan menjadi pahlawan nasional. Di salah satu bagian buku itu, diceritakan peristiwa penurunan bendera Belanda di Pelabuhan Buleleng.
“Dalam buku itu dikatakan, yang menurunkan dan menaikkan bendera Belanda di Pelabuhan Buleleng itu Pak Merta. Dia yang memanjat tiang bendera akhirnya tertembak. Di buku itu tidak disebut nama Kapten Muka dan Anang Ramli,” papar Amoeng.
Menurutnya, hal semacam itu harus diluruskan. “Caranya tidak bisa dengan cara teriak-teriak. Tapi dengan menulis buku juga. Kalau kisah semacam itu hilang, umat Islam di Bali rugi. Nanti terkesan seolah-olah umat Islam tidak punya peran. Umat Islam di Bali bukan tamiu, tetapi punya peran besar dalam sejarah perjuangan. Baik pada zaman kerajaan, hingga Revolusi Fisik,” tegas Amoeng.
Sementara Dr. Tuty Mariani, putri Kapten M. Anang Ramli Ini, catatan sejarah semacam itu harus diabadikan dan diteruskan kepada generasi muda Muslim di Bali. “Kalau catatan sejarah semacam itu tidak diabadikan dan tidak diteruskan, bukan mustahil akan muncul tuduhan-tuduhan bahwa Islam di Buleleng itu hanya sekadar pendatang. Sekadar penumpang, sekadar tamiu. Akan terus seperti itu. Kalau kita tidak bergerak. Karena itu, kami ingin kami angkat soal ini,” jelasnya.
Misalnya, kata perempuan yang pernah bekerja di Kantor Wapres tersebut, nama Kapten Muka, yang teman seperjuangan Kapten M. Anang Ramli sekarang sudah menjadi nama jalan di Singaraja, yakni mengganti jalan Lorong Melati sebelumnya. Namun, hingga kini belum ada nama jalan Kapten M. Anang Ramli di Singaraja.
“Ada tokoh kita, tokoh Islam yang sama dengan Kapten Muka kok gak ada peninggalan berupa nama atau legacy apa. Ini yang harus kita perjuangkan,” katanya. Padahal Kapten Muka dan Kapten M. Anang Ramli, merupakan dua sosok pejuang yang punya peran yang sama dalam peristiwa penurunan bendera Belanda di Pelabuhan Buleleng. Juga dalam peristiwa-peristiwa lain selama Revolusi Fisik atau Perang Kemerdekaan.
Menurut Dr. Tuty, sosok Anang Ramli di zaman bergerilya, ketika berjuang, bahkan dengan risiko nyawa, tidak melihat sekat-sekat agama. Dia berjuang bukan untuk Islam karena dia seorang Muslim, misalnya. “Dia berjuang untuk Bali,” ujarnya.
Menurutnya, Kapten Anang Ramli masih hidup hingga zaman kemerdekaan, padahal pasukan I Gusti Ngurah Rai banyak yang gugur dalam peristiwa Puputan Margarana. Menurutnya, pada saat itu, Kapten Anang Ramli bertugas mencari bantuan senjata ke Jawa Timur sampai Yogyakarta. “Beliau saat itu tidak mudah seperti sekarang nyeberang ke Jawa. Beliau naik tongkang,” katanya. Ternyata sampai di Bali, pasukan Ngurah Rai sudah habis, termasuk Ngurah Rai sendiri gugur dalam peristiwa Puputan Margarana, 20 November 1946.
“Kami titipkan ini. Ini bukan hanya agenda keluarga. Tapi agenda umat Islam. Agenda umat muslim Buleleng dan Bali untuk bisa meneruskan catatan sejarah ini. Apa yang bisa kita lakukan ke pemilik otorita daerah. Apakah ke DPRD-nya atau bupatinya,” tandas Dr. Tuty.
Sementara Ketua FPSI Bali, H. Imam Asrori, menjelaskan, tugas FPSI adalah mendokumentasikan perjalanan sejarah Islam di Bali. Seperti kisah kepahlawanan Kapten Anang Ramli dan tokoh-tokoh pejuang Muslim lainnya di daerah lainnya di Bali.
“Umat Islam itu ikut membangun Bali sejak lama. Bukan hanya di Buleleng, di Jembrana, di Klungkung, banyak tokoh Muslim yang ikut berjuang di Bali ini. Kami akan melakukan pendataan tokoh-tokoh Islam di Bali, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia,” ujarnya.
Selain itu, menurutnya, FPSI juga akan menulis sejarah kampung-kampung Islam di Bali. Ia menjelaskan, di Bali seluruhnya ada 107 kampung Islam, di antaranya di Buleleng ada 13 kampung Islam.
“Karena itu, kami mohon agar kami didukung. Kami akan tulis sejarah kampung-kampung Islam di Bali. Puri-puri sangat mendukung program ini. Kami mengusung tagline harmoni. Untuk mengangkat hubungan harmoni antara Hindu dan Islam sejak zaman kerajaan. Selama ini antara Hindu dan Islam tidak pernah ada konflik yang berarti selama ini,” papar H. Imam Asrori. (bs)

