BULELENG – Setelah berhasil membangun Gedung untuk Fakultas Kedokteran, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja segera membangun 17 laboratorium Pendidikan terintegrasi. “Kami akan bangun 17 laboratorium bidang pendidikan yang akan terpusat di kampus tengah. Di belakang kampus kedokteran itu. Sehingga nanti jika orang berbicara tentang pendidikan, mau melakukan inovasi bidang pendidikan di segmen manapun nanti datangnya ke Undiksha,” ujar Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Sumer Daya Undiksha, Prof. Dr. Wayan Lasmawan, kepada wartawan di Singaraja, Kamis (23/12/2021).
Menurutnya, sebagai universitas yang core-nya bidang Pendidikan, Undiksha akan terus mengembangkan bidang Pendidikan. “Kami adalah salah satu lembaga mantan IKIP yang menjadi universitas. Terlepas dari pengembangan prodi nonkependidikan, tetapi pendidikan tidak pernah kami tinggalkan. Tetap kita optimalkan. Bahkan dalam strategi kebijakan yang kami bangun ke depan, itu bagaimana pendidikan ini bisa menjadi sesuatu bagi Undiksha,” ujar pejabat kelahiran Bangli ini.
Untuk kepentingan itu, kata dia, di tahun 2023, Rektor Undiksha Prof. Nyoman Jampel, menugaskan Wakil Rektor II agar melanjutkan upaya usulan hibah dari program SBSN (Surat Berharga Syariah Negara-red) untuk pembangunan laboratorium pendidikan terintegrasi. “Dan itu kami upayakan pendanaannya dari SBSN. Fakultas Kedokteran juga dibiayai dari program ini,” paparnya.
Prof. Lasmawan menjelaskan, untuk kepentingan itu, pihaknya sekarang sedang menata bagaimana akreditasi Undiksha menuju internasional. Tahun ini Undiksha Singaraja mengajukan lima klaster akredistasi internasional, yang meliputi 21 program studi. Sebab, salah satu persyaratan untuk menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) jumlah prodinya harus terakreditasi unggul atau terakreditasi internasional sebanyak 60 persen.
“Saat ini jumlah prodi yang terakreditasi unggul itu baru 21 prodi. Yang akreditasi A. Sisanya masih B. Yang B inilah yang kami dorong sekarang ini. Lagi 21 prodi itu untuk mencapai apa yang disebut international accreditation,” jelasnya.
Selain itu, kata Prof. Lasmawan, sesuai kebijakan Rektor Prof. Jampel, di tahun 2022 Undiksha ingin menuju apa yang disebut smart campus. Smart campus tersebut bukan dari semata-mata ketersediaan fasilitas kelembagaannya, tetapi bagaimana capaian-capaian di bidang akademiknya bisa diraih. Menurutnya, sampai saat ini banyak mahasiswa dan dosen Undiksha yang mencapai prestasi nasional dan internasional.
Prof. Lasmawan menambahkan, dengan konsep smart campus ini, pihaknya akan melakukan pembenahan fasilitas. Baik fasilitas pembelajaran maupun fasilitas yang bersifat nonakademik. Untuk itu alokasi anggaran sekarang di tahun 2022 nanti hampir 46 persen itu ke arah upaya perbaikan sarana prasarana.
Selain bidang pendidikan yang dikuatkan, kata Prof. Lasmawan, Undiksha juga mengembangkan prodi nonkependidikan. Karena salah satu yang diberikan Kementerian Pendidikan kepada Undiksha adalah penguatan mandat. Dari yang dulunya IKIP hanya pendidikan saja. Kemudian diberikan perluasan mandat untuk membuka prodi nonkependidikan. Salah satunya kedokteran.
“Univesitas mantan lembaga pendidikan yang punya kedokteran itu pertama kali Undiksha. Sampai sekarang hanya Undiksha. Dan FK kita bagus pertumbuhannya,” katanya. Meski demikian masih ada masalah terkait itu. Menurutnya, salah satu syarat universitas buka Fakultas Kedokteran harus punya rumah sakit.
“Ini persoalan. Dengan pendapatan yang masih kecil tentu Undiksha tidak bisa melahirkan rumah sakit kalau tidak ada support dari pihak lain. Kami sedang membangun komunikasi dengan Pemkab Buleleng bagaimana dibantu dari sisi lahan. Bangunannya nanti kita usahakan dari program hibah luar negeri atau hibah lainnya,” tandasnya. (bs)

