Wak Hasan Sagir, Legenda Hidup Burdah Pegayaman Bali (1)

Di Masa Perang Kemerdekaan Jadi Tukang Antar Sayur ke Pasukan Kapten Muka

Wak Hasan Bagir bisa dikatakan legenda hidup burdah Pegayaman, Buleleng, Bali. Ia menekuni seni burdah sejak zaman Jepang pada usia 15 tahun hingga kini di usia 95-an, di grup burdah “Burak” (Burdah Krama Kubu) Desa Pegayaman. Wak Hasan Sagir boleh dibilang maestro burdah yang dimiliki Pegayaman.

WAJAHNYA masih tampak segar. Tak banyak guratan keriput yang menandakan ia telah begitu lanjut usia. Hanya tubuhnya sedikit membungkuk ketika berjalan.

Saat Jepang menduduki Indonesia, termasuk menduduki Pegayaman Bali, usianya masih 15 tahun. Bisa dibayangkan berapa usia di tahun 2021 ini. Ya hampir 100 tahun, atau lebih tepatnya 95 tahun.

Nama akrabnya Hasan Sagir atau sering disapa Wak Hasan Sagir. Sagir adalah nama orangtuanya. “Nama Hasan kan banyak, makanya ditambah Sagir agar beda dengan Hasan yang lainnya,” tuturnya, dalam suatu perbincangan di rumahnya.

Meskipun sudah sedemikian sepuh, penglihatan Wak Hasan Sagir masih terang. Pendengarannya masih bagus. Daya ingatnya masih kuat. Ia begitu lancar saat ditanya tentang sejarah Pegayaman, mulai hal sederhana seperti renovasi masjid pertama kali, hingga kisah-kisah heroik tokoh-tokoh Pegayaman di masa Jepang hingga masa Revolusi Fisik.

Wak Hasan masih ingat bagaimana kisah tentara Jepang membangun benteng di Pegayaman. Bagaimana tentara Jepang mempekerjakan warga Pegayaman dan warga desa-desa lainnya. Apa jenis bata dipakai untuk membangun benteng tersebut. Termasuk bagaimana tantara Jepang mengambil bata-bata warga yang sudah jadi tembok rumah.

Juga ia masih ingat bagaimana Jepang membangun jembatan, dan jenis kayu yang dipakai. Kendaraan apa saja yang lewat jembatan tersebut, Wak Hasan masih mengingatnya.

Demikian juga cerita masa Perang Kemerdekaan atau Revolusi Fisik. Ia tahu, siapa saja para pejuang yang bergerilya dan bersembunyi di Desa Pegayaman. Termasuk ia mengenal pahlawan Perang Kemerdekaan dari Buleleng, Kapten Muka dan Anang Ramli, dua pejuang yang merupakan bagian dari Pasukan I Gusti Ngurah Rai.

“Tiyang ngabang sayur-sayuran. Saya yang membawa sayur-mayur kepada pasukan. Saya disuruh cari sayur oleh Kapten Muka. Mereka biasanya nginap (sembunyi) di Pegayaman sampai lima hari. Pergi lagi. Datang lagi yang lain. Seperti aplausan,” cerita Wak Hasan, dalam bahasa Bali madya.

Menurut Wak Hasan, ada sejumlah rumah penduduk yang dijadikan tempat persembunyian para pejuang di Pegayaman. Lokasinya di Tibu Tiying. “Kapten Muka biasa tinggal di Tibu Tiying. Di rumah Tuan Jae. Atau di rumah Bapa Tapa. Rumah-rumah itu ditinggali pasukan. Tidak ada rumah khusus. Para pejuang tinggal di rumah-rumah penduduk,” paparnya.

Dalam pasukan Kapten Muka yang bersembunyi di Pegayaman, menurut Wak Hasan, ada tukang masaknya. Ada semacam dapur umum. Tukang masak tersebut adalah perempuan-perempuan Bali, baik beragama Hindu maupun Islam. Wak Hasan tahu mereka karena selalu membawakan sayur-mayur kepada mereka. “Saya cuma pembawa sayur saja untuk Kapten Muka,” tambahnya.

Sebagai warga yang sering membantu membawakan sayur kepada pasukan gerilya, Wak Hasan mengenal tokoh-tokoh dan para pemuda Pegayaman yang ikut dalam Perang Kemerdekaan, membantu pasukan gerilya melawan Belanda (NICA) yang kembali ingin menjajah Indonesia. Ia bercerita dengan lancar tokoh-tokoh dan pemuda Pegayaman yang harus gugur ditembak pasukan Belanda. Seperti Fauzi, Bahrul dan pemuda-pemuda lainnya.

“Fauzi itu kepala pasukan pemuda di sini (Pegayaman-red). Ia yang memimpin pasukan,” tutur Wak Hasan. Ia masih ingat bagaimana Fauzi akhirnya ditembak di Sambangan. Dikejar pasukan NICA. Lari dari Pegayaman, dikejar sampai air terjun Sambangan. Di sana Fauzi ditembak. Sementara Bahrul ditembak di samping desa. “Lagi satu, Harunan juga ditembak pasukan NICA,” sambung Wak Hasan.

Menurut Wak Hasan, sejak zaman Jepang ia sudah aktif mengikuti seni burdah. Kesenian khas tersebut terus digelutinya, meski di masa-masa sulit seperti Revolusi Fisik, hingga saat ini. Wak Hasan kini menjadi Ketua Grup Burdah “Burak” (Burdah Krama Kubu) Desa Pegayaman. “Tiyang sudah main burdah sejak zaman Jepang,” paparnya.

Wak Hasan seperti sudah sedemikian menyatu dengan burdah. Ketika berbicara tentang burdah wajahnya langsung berseri. Semangatnya menyala. Senyumnya mengembang. Ada rona kebahagiaan di wajahnya. Ada kebanggaan yang tersirat dari tatapan matanya.

Ketika diminta melantunkan syair burdah, dengan sigap ia pun langsung melantunkannya. Bernyanyi, berkidung. Penuh penghayatan. Melantunkan dengan penuh perasaan, sangat menjiwai. Apalagi jika dibarengi dengan rebana burdah. Yang terdengar, yang terasa oleh penonton adalah suara kontemplatif. Lantunan yang menghayutkan hati ke semesta nurani. Membawa jiwa dan perasaan ke angkasa spiritual.

Sebagai pelantun lagu atau syair Al Barzanji dalam grup burdahnya, suara Wak Hasan masih bisa melengking. Suaranya masih kuat, nafasnya masih stabil. Cengkok-cengkoknya masih jelas. Hingga kini. Ya, hingga usianya yang demikian lanjut ini. (Yahya Umar)

Bersambung ….  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *