Spirit Qurban dalam Harmoni Kebangsaan

Oleh Lewa Karma

HARI Raya Idul Adha merupakan salah satu momentum penting dalam ajaran Islam yang tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan kebangsaan. Idul Adha mengajarkan makna pengorbanan, keikhlasan, solidaritas sosial, serta kepedulian terhadap sesama melalui ibadah qurban.

Dalam konteks Bali sebagai daerah yang dikenal dengan pluralitas budaya dan agama, perayaan Idul Adha memiliki makna yang lebih luas, yakni menjadi simbol moderasi beragama dan harmonisasi sosial di tengah keberagaman masyarakat.

Bali selama ini dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduk beragama Hindu. Namun di tengah dominasi budaya Hindu tersebut, masyarakat Muslim Bali mampu hidup berdampingan secara damai dan harmonis bersama umat agama lain.

Tradisi toleransi di Bali tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga tampak nyata dalam momentum perayaan keagamaan, termasuk Hari Raya Idul Adha. Dalam banyak kasus, pembagian daging qurban di Bali tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat lintas agama sebagai bentuk persaudaraan kemanusiaan.

Esensi utama Idul Adha sesungguhnya terletak pada keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS tentang kepatuhan kepada Tuhan, keikhlasan berkorban, dan pengabdian terhadap nilai kemanusiaan. Qurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, tetapi sarana pendidikan sosial agar umat memiliki empati terhadap kaum dhuafa, fakir miskin, dan masyarakat yang membutuhkan. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 37 ditegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan daging hewan qurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan manusia.

Dalam konteks sosial modern, qurban memiliki dampak ekonomi yang sangat besar. Momentum Idul Adha mendorong perputaran ekonomi masyarakat, terutama para peternak lokal. Di Bali, kebutuhan hewan qurban meningkat signifikan menjelang Hari Raya Idul Adha. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar misalnya, menunjukkan bahwa kebutuhan kambing qurban setiap tahun mencapai sekitar 500 ekor, sementara peternak lokal baru mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan tersebut.

Data kebutuhan hewan qurban di Bali tahun 2026, khususnya sampel di Kabupaten Buleleng, menunjukkan adanya peningkatan permintaan sapi dan kambing menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 H. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, tercatat sebanyak 305 hewan qurban dipotong pada Idul Adha 2026 yang tersebar di 57 masjid pada 9 kecamatan di Buleleng. Jumlah tersebut terdiri atas 177 ekor sapi dan 128 ekor kambing.

Data ini menjadi indikator meningkatnya kebutuhan hewan qurban sekaligus tingginya partisipasi masyarakat Muslim di Buleleng dalam pelaksanaan ibadah qurban. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor peternakan lokal memiliki peluang ekonomi yang besar apabila dikelola secara berkelanjutan.

Pembelian sapi dan kambing qurban dari peternak lokal memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat desa. Para peternak memperoleh peningkatan pendapatan, roda ekonomi pedesaan bergerak, dan sektor agribisnis peternakan menjadi lebih hidup.

Bahkan pada Idul Adha 2025, Presiden Republik Indonesia membeli ratusan sapi qurban dari peternak lokal di berbagai daerah sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi rakyat. Sebanyak 985 sapi qurban dibeli dari 573 peternak lokal di Indonesia. Di Bali sendiri, seekor sapi Bali berbobot 772 kilogram milik peternak lokal di Buleleng dibeli sebagai hewan qurban untuk masyarakat Muslim Desa Pegayaman.

Selain itu, pemerintah juga melalui tim kesehatan hewan juga melakukan pengawasan intensif terhadap kesehatan ternak qurban. Puluhan dokter hewan diterjunkan untuk memastikan seluruh hewan qurban sehat, layak potong, dan bebas penyakit menular.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa qurban tidak hanya bernilai ibadah spiritual, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil. Dalam perspektif ekonomi Islam, qurban menciptakan distribusi kesejahteraan yang lebih merata, karena manfaatnya dirasakan mulai dari peternak, pedagang pakan ternak, panitia qurban, hingga masyarakat penerima daging. Dengan demikian, qurban memiliki dimensi sosial-ekonomi yang sangat kuat dalam membangun solidaritas masyarakat.

Selain manfaat ekonomi, qurban juga menjadi media memperkuat moderasi beragama di Bali. Tradisi berbagi daging qurban kepada masyarakat lintas agama merupakan wujud nyata toleransi dan persaudaraan kemanusiaan. Di sejumlah wilayah Bali, tradisi “ngejot” atau saling berbagi makanan antarumat beragama menjadi bagian dari budaya lokal yang mempererat hubungan sosial masyarakat. Pada Idul Adha 2026, tradisi ngejot daging qurban di Bali kembali dilakukan sebagai simbol toleransi antarumat beragama dan semangat kebersamaan sosial.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Idul Adha di Bali bukan hanya perayaan ritual keagamaan, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan nilai-nilai kemanusiaan universal. Moderasi beragama tercermin dalam sikap saling menghormati, gotong royong, dan kepedulian sosial antarmasyarakat. Kehadiran pecalang, tokoh adat, aparat desa, dan masyarakat lintas agama dalam membantu pelaksanaan qurban menjadi bukti bahwa toleransi di Bali tumbuh dari budaya sosial yang kuat.

Dalam perspektif para ulama, qurban merupakan ibadah sosial yang mengandung hikmah besar bagi kehidupan masyarakat. Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa qurban mengajarkan manusia untuk menghilangkan sifat egoisme dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Menurutnya, nilai utama qurban terletak pada semangat berbagi dan ketulusan hati dalam membantu orang lain. Sementara itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menegaskan bahwa ibadah qurban seharusnya tidak berhenti pada ritual penyembelihan hewan, tetapi harus melahirkan empati sosial dan solidaritas kemanusiaan.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep moderasi beragama yang saat ini terus dikembangkan di Indonesia. Moderasi beragama menekankan keseimbangan, toleransi, anti kekerasan, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Dalam konteks Bali, Idul Adha menjadi salah satu contoh bagaimana ajaran agama dapat hadir secara damai dan inklusif tanpa menimbulkan konflik sosial. Justru melalui qurban, masyarakat diajak memperkuat persaudaraan lintas agama dan membangun harmoni kebangsaan.

Di tengah tantangan global berupa meningkatnya intoleransi dan polarisasi sosial, pengalaman masyarakat Bali dalam merayakan Idul Adha patut menjadi teladan nasional. Nilai gotong royong, saling menghormati, dan berbagi kepada sesama merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang majemuk. Spirit qurban mengajarkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan sosial yang dapat memperkuat persatuan nasional.

Pada akhirnya, Hari Raya Idul Adha di Bali tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah umat Islam, tetapi juga menjadi momentum memperkuat nilai kemanusiaan, moderasi beragama, dan kepedulian sosial. Pembelian hewan qurban dari peternak lokal membantu menggerakkan ekonomi masyarakat, sementara pembagian daging qurban kepada seluruh lapisan masyarakat memperkuat solidaritas sosial lintas agama. Melalui spirit qurban, masyarakat Bali menunjukkan bahwa harmoni dan toleransi dapat tumbuh subur ketika agama dipahami sebagai jalan kasih sayang, pengorbanan, dan kemanusiaan. []

*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral di IMK

Daftar Pustaka
– Balipost.com. (2017). Idul Adha, LDII Bali potong 101 sapi dan 299 kambing. Retrieved from https://www.balipost.com
– Balipost.com. (2019). Idul Adha, ribuan kambing didatangkan dari luar Bali. Retrieved from https://www.balipost.com
– https://radarbali.jawapos.com/bali/2605240011/stok-aman-sapi-bali-asal-gianyar-merajalela-di-sejumlah-kota-besar-di-jawa-menjelang-idul-adha?utm_source=chatgpt.com#google_vignette
– https://www.posbali.net/ekonomi/1427376924/jelang-idul-adha-harga-sapi-bali-merangkak-naik?utm_source=chatgpt.com
– https://www.beritabali.com/berita/202207051730/buleleng-kerahkan-24-dokter-cek-kesehatan-hewan-kurban?utm_source=chatgpt.com
– KataBali. (2023). Idul Adha 1444 H, LDII Bali implementasikan persaudaraan dalam bingkai NKRI membagikan 10.000 paket daging qurban. Retrieved from https://katabali.com
– https://rri.co.id/singaraja/regional/2443563/jelang-iduladha-distankan-buleleng-awasi-57-titik-pemotongan-hewan-kurban?nocache=true
– Katadata. (2025). Serba-serbi Hari Raya Idul Adha, Prabowo kurbankan 985 sapi hingga ganjil genap. Retrieved from https://katadata.co.id
– Kilas Bali. (2026). Jelang Idul Adha, Gianyar kekurangan pasokan kambing kurban. Retrieved from https://kilasbali.com
– Quraish Shihab, M. (2007). Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
– https://radarbali.jawapos.com/bali/2605240011/stok-aman-sapi-bali-asal-gianyar-merajalela-di-sejumlah-kota-besar-di-jawa-menjelang-idul-adha?utm_source=chatgpt.com#google_vignette
– Suara Bali. (2026). Tradisi ngejot daging kurban menjaga toleransi umat beragama di Bali. Retrieved from https://bali.suara.com
– Wahid Foundation. (2021). Moderasi beragama dan penguatan toleransi di Indonesia. Jakarta: Wahid Foundation.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *