DUR-PADI adalah kisah bagaimana jadinya kehidupan ini jika perempuan ‘dipaksa’ melawan. Apa jadinya dunia jika kemarahan perempuan mengakar dan menjalar dari waktu ke waktu. Bagaimana nasib peradaban manusia jika perempuan memendam kebencian di sekujur perjalanan hidupnya.
Dur-Padi adalah monolog yang ditulis sastrawan-wartawan Putu Fajar Arcana. Dipentaskan pada malam penutupan Singaraja Literary Festival (SLF) IV tahun 2026 di Gedung Sasana Budaya Singaraja, 5 Juli 2026.
Saya agak terlambat datang menyaksikan monolog ini. Sesampai di Gedung Sasana Budaya Singaraja, suasana sudah gelap. Sunyi. Ah tidak sepenuhnya, suara bisikan beberapa penonton. Lalu terdengar suara alat musik.
Beberapa saat kemudian lampu menyala lembut menerpa tubuh sosok perempuan. Berdiri di lantai Gedung Sasana Budaya yang disulap menjadi panggung. Tubuh perempuan itu goyah, seperti menahan amarah.
“Mengapa selalu tubuhku yang dipertaruhkan?” Suara perempuan itu getir. Ya itulah suara Drupadi, yang diperankan oleh Agung Ocha Diartini. Pertanyaan itu yang menjadi pembuka monolog. Lantas Ocha eh Drupadi melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan getir lainnya.
“Adakah ia telah menjelma menjadi tubuh yang keliru, sehingga para lelaki tanpa rasa bersalah mempertaruhkannya di meja judi? Dulu di ujung anak panah, ayahku melepas sayembara, dan sejumlah Brahmana miskin memenangkannya. Tidak ada yang bertanya, apakah aku bahagia, sebagaimana Ibu Kunti berbahagia memiliki anak-anak ksatria yang tampan dan digjaya di medan laga?”
Lalu dengan suara powerfull, Ocha mengumumkan kepada penonton, “Aku Drupadi, dewi dari Panchala, izinkan aku mencurahkan isi hatiku sebagai seorang perempuan, yang berada di tengah-tengah pusaran para ksatria, yang merasa telah memiliki tubuhku seutuhnya.”
“Aku berharap kau adalah pendengar yang baik dan tekun, sehingga tak sia-sia perjalananku menerobos ruang dan waktu: dari masa-masa klasik dalam Mahabaratha, sampai kini di masa para feminis berteriak lantang untuk hak-hak kaum perempuan. Dengarkanlah kisahku ini …”
Seketika panggung gelap. Beberapa saat terdengar alunan cello. Lampu putih perlahan menyala.
Panggung tampak berwarna netral. Di lantai berserakan dedaunan kering. Di kanan panggung tampak sebatang pohon besar dan di plafon gedung bergelantungan ranting-ranting. Bagian belakang panggung terlihat separuh bulan purnama, yang separuhnya memantul di lautan atau mungkin danau.
Ocha mulai berkisah. Dari titik inilah, ‘perlawanan’ Drupadi dimulai. “Sewaktu aku menolak Karna bukan semata karena ia anak seorang kusir, tetapi lebih dari itu. Aku ingin memberontak kepada Raja Panchala, Ayahanda Prabu Drupada, yang membuat sayembara untuk mencarikan aku seorang ksatria,” ujarnya.
Drupadi memberontak karena ia tak pernah ditanya, lelaki seperti apa yang diinginkannya. Ksatria sejenis apa yang bisa memberikannya bahu sebagai tempat bersandar di kala gundah. Tiba-tiba, jodoh itu digantungkan di ujung anak panah, dan entah siapa yang akan melesatkan anak panah itu menuju sasaran yang tepat.
“Sewaktu seorang Brahmana memasuki arena sayembara, aku ragu. la tampak miskin dan tak punya potongan seorang pemanah ulung. Bukan karena Brahmana dan miskin aku meragukannya, tetapi pantaskah seorang Brahmana, yang telah melalui pahit-getir kehidupan untuk kemudian menjalani laku suci, masih ingin memanah hati seorang dewi? Entah mengapa aku merasa sayembara itu menjadi awal yang buruk bagiku,” tutur Drupadi.
Ia mengaku bahwa ketika di arena sayembara terjadi pertengkaran antar para ksatria, ia sebenarnya ingin berlari jauh. Berlari meninggalkan Panchala dan orang-orang yang tak punya hati memahami nasib seorang perempuan.
“Aku bukanlah perempuan yang senantiasa dituduh menjadi cikal-bakal tragedi dan pergolakan. Bahkan seluruh pergolakan yang kemudian kau tahu bernama Barathayuda, semua ditimpakan kepadaku. Ya, kepadaku, perempuan yang jadi cikal-bakal kehidupan. Barangkali kau masih ingat kisah ini…,” suara Ocha bergetar.
Senyap sejenak. Panggung tiba-tiba menjadi merah menyala. Terdengar suara musik yang marah. Suara angin yang berpusar. Drupadi limbung, rambutnya acak-acakan. Ia bersimpuh di tengah panggung yang memerah.
Sesaat kemudian ia perlahan-lahan bangkit. Sebuah lagu lantas dilantunkan.
Seharum-harum diriku
jika mekar di tanah yang keliru
dipetik lantas dicampakkan
Setiap lelaki
merasa kuasa menghakimi
dan menentukan nasib diriku
Secantik-cantik seorang dewi
jika tumbuh di antara ksatria dengki
dipertaruhkan lantas dilecehkan
Setiap lelaki
merasa kuasa memiliki
dan menentukan jalan hidupku
Duh, Hyang Mahasuci Engkau
dari mana harus kumulai lagi
Jalan ini begitu terjal
Berliku, seperti tak berujung
Apa karena aku perempuan
Semua berhak merajamku dengan kekejian
Cerita Drupadi terus berlanjut. Bagaimana getirnya nasib seorang perempuan yang sendirian dengan mati-matian mempertahankan harganya dirinya diinjak-injak kekejian. Semua itu bermula dari sifat serakah dan kedunguan yang berpadu selalu di benak laki-laki.

Menurut Drupadi, Kurawa tak hanya ingin menguasai Indraprasta, tetapi juga mempermalukan dirinya. “Kau tahu, keserakahan dan keculasan itu akan menemukan karmanya kelak. Saat diliputi nafsu amarah, aku bersumpah akan mencuci rambutku dengan darah lelaki yang telah mempermalukanku. Mencuci itu akan menjadi jalan suci untuk membersihkan tangan-tangan kotor yang pernah menjamah tubuhku,” suara geram Drupadi.
Pandawa sendiri, cuih… (Drupadi meludah), seolah terlahir sebagai sekumpulan ksatria dungu. Mereka tak ubahnya gerombolan domba yang digiring ke ruang jagal. Begitu pasrah. Celakanya, bukan kepasrahan yang berserah, tetapi kepasrahan yang ditingkahi nafsu bersenang-senang. Oleh karena itu, di meja judi mata dadu itu telah menghancurkan pertahanan paling bermartabat dari seorang ksatria, yakni harga diri!
“Kelima Pandawa sungguh tak lagi punya harga diri ketika menyamakan diriku dengan segepok uang kepeng sebagai taruhan. Sebagai seorang perempuan, apakah kau rela dihargai dengan sejumlah uang kepeng? Di mana bedanya itu dengan seorang pelacur? Bahkan seorang pelacur pun bisa menentukan harganya di hadapan lelaki hidung belang. Aku? Jangankan menentukan, bersuara pun aku tak diberi kesempatan,” ujar Drupadi penuh amarah.
Panggung membiru. Drupadi sadar, ia bukan anak kijang di hadapan para srigala. Kijang yang bisa menggunakan kekuatan kaki dan kepalanya untuk melompat dan berlari. Tapi, menurut Drupadi, kijang yang lincah tahu pasti, bahwa tempat paling aman untuk mengatur strategi adalah di dekat srigala.
“Kebuasan dan keserakahan setiap waktu akan mendatangkan kelengahan,” ujarnya. Ia kemudian mengingatkan penonton tentang kisah Marica. Yakni kijang yang mengelabui Rama dan Laksamana di hutan Dandaka dalam Ramayana.
Adegan berikutnya, Ocha (Drupadi) duduk menghadap pohon banyan. Lalu ia bertutur: “Kau lihat pohon banyan itu. Pernahkah kau membayangkan asal-usulnya dari kelopak bunga yang mekar dan merona, lalu menjadi biji? Burung-burung, angin, dan hujan menebarnya untuk mendapatkan lahan subur tempatnya berakar dan berbiak menjadi pohon baru.”
Drupadi mengaku kadang-kadang iri kepada pohon itu. Betapa pohon bebas memilih tanah subur untuk tempatnya bertumbuh dan kemudian bertahan menghadapi badai. Itu tidak bisa terjadi pada dirinya.
“Kau ingat kata-kata yang meluncur dari Ibu Kunti di saat kami baru tiba di Indraprasta. Ketika Yudistira menghadap dan menyampaikan hasil perjalanan putra-putranya selama menyaru sebagai Brahmana, dengan spontan Ibu Kunti berkata: “Silakan dibagi sama rata sesama saudara!” Yudistira memberi sembah dan sambil menunduk berkata pelan: “Baik, Ibu.”
Hati Drupadi perih. Batinnya marah. Duh, apakah sulit mengatakan kepada ibu sendiri, bahwa mereka telah memenangkan seorang dewi, seorang perempuan, saat mengikuti sayembara di negeri Panchala.
Drupadi sebenarnya ingin menyela, tetapi Arjuna menarik tangannya dan Bima menahan mulutnya untuk berkata. “Sekali lagi, lima ksatria Pandawa itu menunjukkan dirinya seperti domba. Mereka menyamakan diriku dengan sebiji apel, yang bisa dipotong sama rata, lalu dibagikan dan disantap bersama-sama. Bukankah itu peremehan terhadap harkat seorang perempuan?” suara Drupadi bergetar.
Dalam pandangan Drupadi, Ibu Kunti yang dihormatinya telah berlaku ceroboh dan memerintahkan anak-anaknya untuk menjadi suaminya. Ia ingin memberontak dan menyuarakan segala isi hatinya.
Tetapi apalah dayanya di hadapan Ibu Suri kerajaan besar bernama Indraprasta. Kerajaan yang gemerlap, penuh kemewahan dan membuat iri seratus Kurawa. Perkataan Ibu Kunti ibarat sabda, yang pantang ditarik jika sudah meluncur dari mulut.
Semua juga akhirnya tahu, Drupadi bersuamikan kelima ksatria yang digadang-gadang menyelamatkan dunia di masa depan dari penindasan yang dilakukan para bajingan. Para ksatria yang dielukan-elukan dan dipuja-puja di medan perang. Seolah perang satu-satunya medan untuk meremukkan keangkara-murkaan. Bukankah setiap perang selalu menumpahkan darah dan melenyapkan harapan akan tumbuhnya generasi yang lebih berbudi?
“Sekarang pun kau bisa tahu, bahwa generasi macam apa yang lahir setelah Barathayuda berakhir. Anak-anakku, anak-anak para ksatria di Indraprasta dan Astina, dan juga anak-anakmu kelak, lahir sebagai generasi gamang yang harus menanggung trauma atas kematian demi kematian. Kematian yang sia-sia, karena kau telah mengambil hak yang seharusnya berada di tangan Sang Maha Pencipta,” keluh Drupadi.

Panggung menguning, Drupadi berusaha memeluk pohon banyan. Terdengar suara yang melantunkan sebuah lagu:
Apalah daya raga ini
Di depan pohon sebesar dirimu
Tangan ini tak pernah sampai
Angan ini tak pernah cukup
Seperti burung-burung
Aku selalu ingin berteduh
Mereguk keindahan sejati
Apalah guna pikiran ini
Di hadapan semesta mahabesar
di mana segalanya berasal-mula
Diriku cuma debu
Serpih kecil yang melayang
Ingin aku selalu menyatu
dalam kedamaian abadi
Oh, pohon suci bernama diriMu
Izinkan aku memeluk tubuhMu
Dengan segenap luka
segenap duka
Barangkali akan kutemukan
Sejati-jati diriku
Perempuan yang memendam amarah
dari waktu ke waktu
Aku ingin memadamkan kebencian
yang mengakar dan menjalar
di sekujur perjalanan hidupku.
Cuma diriMu, ya cuma diriMu
Pohon kasih Mahabesar itu
Penonton tampak hanyut terbawa lantunan lagu. Perasaan terenyuh. Lantas tepuk tangan bergemuruh. Drupadi kemudian melontarkan kalimat-kalimat seperti ini. “Aku ingin memberikan apa yang aku miliki sebagai seorang perempuan. Aku, Drupadi, ingin memberikan apa yang aku miliki. Kasih sayang dan welas asih sebagai seorang ibu.”
Jeda sejenak, dan tepuk tangan penonton kembali bergemuruh. Sesaat kemudian panggung kembali memerah. Sesosok perempuan dengan nada marah mengerang. “Aku berjanji akan menghancurkan segala pikiran yang dijejalkan oleh para lelaki. Aku berjanji akan meluluhlantakkan segenap takdir yang ditorehkan oleh pisau kekejaman atas nama perempuan.”
Perempuan itu terus mengerang. Lalu erangnya lagi, “Aku bukan lagi Drupadi, yang lemah dan pasrah. Akulah Dur-padi, Durga dalam diri Drupadi. Perempuan berkekuatan semesta, yang akan meleburmu dari bencana ke bencana. Eehhh ha ha ha.”
“Sekarang, dengarkan aku, Kunti. Jika kau ingin meredam amarahku, serahkan Sahadewa kepadaku. Ha ha ha ha. Serahkan Sahadewa seorang diri kepadaku. Bawa dia ke Setra Gandamayu pada malam di mana bulan tak berani berkedip dan bintang-bintang bersembunyi karena penampakanku.”
“Bawa dia ke Setra Gandamayu. Akan kuhancurkan. Aku lumat dia sampai hancur. Akan kusemburkan tulang-belulangnya ke dinding pertahanan setiap lelaki. Biar mereka tahu bahwa Dur-padi menghantui mimpi-mimpi dari para ksatria. Heah ha ha ha ha.”
“Akulah yang menguasai alam pikiran anak-anakmu, Kunti. Bawa Sahadewa ke Setra Gandamayu. Kalau kau ingkar seluruh Pandawa akan musnah di tangan Kurawa. Seluruh jagatraya akan …. “. (yum)

