Undiksha Dorong Transformasi Ekonomi Pengrajin Wayang Kamasan melalui Inovasi Produk dan Pemasaran Digital

KLUNGKUNG – Wayang Kamasan yang masih lestari di Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, telah lama dikenal sebagai salah satu ikon seni lukis tradisional Bali yang mendunia. Namun, di tengah perubahan pasar dan perkembangan teknologi, para pengrajin menghadapi tantangan untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus melestarikan warisan budaya tersebut.

Menjawab tantangan itu, akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk Akselerasi Transformasi Ekonomi Pengrajin Wayang Kamasan melalui Inovasi Produk dan Pemasaran Digital Berbasis Komunitas yang menyasar kelompok pengrajin Wayang Kamasan “Rama-Sintha” sebagai upaya memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Kegiatan sosialisasi dan pelatihan program ini resmi dibuka pada 7 Juni 2026. Acara tersebut dihadiri oleh Pemerintah Desa Kamasan yang diwakili Sekretaris Desa, Kadek Martana, pengurus kelompok pengrajin, serta masyarakat setempat. Pada kesempatan itu, tim pengabdian Undiksha juga menyerahkan satu unit laptop kepada kelompok pengrajin sebagai sarana pendukung produksi dan pemasaran digital yang selanjutnya akan dimanfaatkan oleh kelompok Wayang Kamasan “Rama-Sintha”.

Ketua kegiatan, Prof. Dr. I Wayan Suastra, menjelaskan bahwa program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini difokuskan pada pengembangan produk inovatif, penguatan identitas merek, dan pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar.

“Wayang Kamasan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi dan telah dikenal hingga mancanegara. Tantangannya adalah bagaimana menjaga warisan budaya ini tetap lestari sekaligus mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pengrajin,” ujarnya.

Sebagai tahap awal, para peserta langsung mengikuti praktik pengembangan produk inovatif berbasis seni Wayang Kamasan. Karya yang dikembangkan tidak hanya berupa lukisan konvensional, tetapi juga diaplikasikan pada berbagai produk fungsional seperti sokasi, tumbler, kipas, tas, tempat bunga sembahyang, dan tempat tisu. Diversifikasi produk ini diharapkan mampu memperluas pangsa pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah karya para pengrajin.

Selain pelatihan inovasi produk, peserta juga mendapatkan pendampingan pemasaran digital agar mampu memanfaatkan teknologi dalam mempromosikan dan memasarkan produk kepada pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.

Sekretaris Desa Kamasan, Kadek Martana, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat keberlanjutan Wayang Kamasan di tengah perubahan zaman.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari Undiksha kepada para pengrajin Wayang Kamasan. Program ini tidak hanya membantu meningkatkan keterampilan dan kapasitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi upaya nyata dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya yang menjadi kebanggaan Desa Kamasan. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk terlibat dalam pelestarian Wayang Kamasan,” ujarnya.

Program ini juga membuka ruang keterlibatan generasi muda dalam pengembangan usaha kreatif berbasis budaya. Kolaborasi antara pengrajin senior dan generasi muda diharapkan dapat memperkuat regenerasi sekaligus menjaga keberlanjutan Wayang Kamasan sebagai warisan budaya Bali.

Program pengabdian ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis potensi lokal. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pelestarian budaya melalui pemberdayaan masyarakat.

Melalui program ini, Undiksha menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dengan mengintegrasikan inovasi, digitalisasi, dan pelestarian budaya dalam satu gerakan pemberdayaan yang berkelanjutan. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *