Jangkau Kelompok Rentan, Bawaslu Buleleng Dorong Demokrasi Yang Inklusif dan Partisipatif

BULELENG – Penguatan demokrasi tidak selalu dilakukan di ruang-ruang formal. Di sebuah rumah sederhana di wilayah Sangket, Kelurahan Sukasada, Senin (8/6/2026), Bawaslu Buleleng melaksanakan konsolidasi demokrasi bersama salah seorang masyarakat penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya memperkuat demokrasi yang inklusif dan partisipatif.

Dalam kesempatan itu, Anggota Bawaslu Buleleng, I Ketut Adi Setiawan melakukan dialog langsung dengan masyarakat untuk mendengarkan aspirasi serta memastikan bahwa setiap warga negara, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh ruang dan kesempatan yang sama dalam kehidupan demokrasi.

Adi Setiawan menegaskan bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses demokrasi. Oleh karena itu, hak-hak politik mereka harus mendapatkan perhatian dan perlindungan yang sama sebagaimana warga negara lainnya.

“Demokrasi yang berkualitas adalah demokrasi yang memberikan ruang kepada seluruh warga negara tanpa terkecuali. Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi, menyampaikan pendapat, serta terlibat dalam setiap proses demokrasi. Karena itu, penting bagi kita untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam pelaksanaan Pemilu maupun Pemilihan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pengawasan partisipatif yang dikembangkan Bawaslu tidak hanya menyasar kelompok masyarakat umum, tetapi juga kelompok rentan yang selama ini kerap menghadapi berbagai keterbatasan dalam mengakses informasi maupun layanan kepemiluan.

“Kami ingin memastikan bahwa semangat pengawasan partisipatif dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kehadiran kami di tengah masyarakat merupakan bagian dari upaya membangun kedekatan sekaligus mendengar secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi warga, termasuk penyandang disabilitas,” katanya.

Menurut Adi, mewujudkan Pemilu yang inklusif tidak dapat dilakukan oleh penyelenggara semata. Diperlukan dukungan seluruh pihak agar akses terhadap informasi kepemiluan, pendidikan politik, hingga partisipasi dalam pengawasan dapat dirasakan secara merata.

“Pemilu yang inklusif bukan hanya tentang menyediakan akses saat hari pemungutan suara, tetapi juga memastikan seluruh tahapan dapat diikuti dan dipahami oleh semua kalangan. Ketika seluruh masyarakat dapat berpartisipasi secara setara, maka kualitas demokrasi akan semakin kuat,” tambahnya.

Selain melaksanakan konsolidasi demokrasi, Bawaslu Buleleng juga menyerahkan bantuan sembako sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat yang dikunjungi. Adi Setiawan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan kemanusiaan antara lembaga dan masyarakat.

“Bantuan ini mungkin tidak besar, tetapi kami berharap dapat memberikan manfaat dan sedikit meringankan kebutuhan sehari-hari. Yang terpenting adalah membangun kepedulian dan kebersamaan, karena demokrasi yang kuat juga lahir dari rasa saling peduli antar sesama,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, Bawaslu Buleleng berharap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya demokrasi dan pengawasan partisipatif terus meningkat. Selain itu, kelompok penyandang disabilitas diharapkan semakin percaya diri untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi serta turut mengambil peran dalam menjaga pelaksanaan Pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *