Samawartana Madyama Widyalaya Jnana Dharma Sastra, SMP Hindu di Buleleng Tamatkan 33 Siswa

BULELENG – Madyama Widyalaya Jnana Dharma Sastra Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng menggelar upacara samawartana atau upacara Hindu masa brahmacari yang merupakan masa berakhirnya pendidikan formal. Adapun siswa yang diluluskan adalah angkatan pertama yang berjumlah 33 orang siswa.

Kepala Madyama Widyalaya Jnana Dharma Sastra, Kadek Adi Suartawan, S.M., menjelaskan bahwa samawartana dan pelepasan sebagai langkah akhir pada proses pendidikan pada sekolah umum bercirikan agama Hindu tingkat menengah pertama dan satu-satunya di Buleleng tersebut.

Sebelumnya siswa telah mengikuti ujian secara teoritik dan praktek sebagai syarat kelulusan siswa kelas sembilan. Bahkan, siswa telah mengikuti ujian akhir khusus mata pelajaran keagamaan seperti tattwa (filsafat), susila (etika), acara agama Hindu (upakara) dan sejarah kebudayaan Hindu.

Adi Suartawan menjelaskan bahwa upacara samawartana sendiri adalah ritual khas sekolah keagamaan Hindu. Dimana ketika awal masuk sekolah Hindu, para siswa telah mengikuti upanayana. Ketika akhir proses pendidikan, dilaksanakan upacara samawartana.

“Menariknya, pada prosesi samawartana ini, kami padukan dengan pelepasan siswa (graduation) sehingga ada kolaborasi antara tradisi dan modernisasi,” papar dia dikonfirmasi Minggu (8/6/2025).
Pihaknya lebih jauh mengungkapkan, pasca lulus dari widyalaya. Para siswa bisa masuk ke sekolah mana saja. Baik itu SMA/SMK Hindu, SMA/SMK umum maupun jenjang lain yang setingkat.

“Jadi, sekolah widyalaya itu sekolah umum bercirikan agama Hindu. Jadi, dasarnya ya sekolah umum. Hanya saja, kami punya ciri khas pada aspek pendidikan keagamaan Hindu,” kata dia sembari menuturkan bahwa total siswa dari kelas tujuh, delapan dan sembilan berjumlah 63 orang siswa.

Sementara itu, Ketua Yayasan Mertajati Widya Mandala, Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa pihaknya tengah memperjuangkan status widyalaya menjadi status lembaga negeri pada 2025 ini. Sayangnya, akibat kebijakan efisiensi, rencana tersebut tertunda. Pun demikian, pihaknya tetap berjuang bersama pada guru-guru untuk terus membangun widyalaya tersebut agar mampu eksis dan bersaing.

“Tujuan akhir kami adalah peralihan menjadi status negeri. Sehingga menjadi widyalaya milik pemerintah yang tentu akan makin kuat dari segi finansial dan juga potensi perkembangan kedepannya,” papar dia.

Di tengah perjuangan peningkatan status, kata dia, Madyama Widyalaya Jnana Dharma Sastra telah meraih berbagai capaian seperti status akreditasi baik pada akreditasi perdana pada 2024 lalu. Widyalaya tersebut juga telah menorehkan berbagai prestasi siswa baik dari tingkat daerah, provinsi, hingga nasional.

“Siswa kami sudah langganan juara. Mulai dari lomba bidang saintek dan juga agama Hindu,” jelasnya.

Bagus Purnomo yang juga akademisi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja itu juga menjelaskan, saat ini yayasan terus melakukan pengembangan dengan setiap tahun melakukan perbaikan sarana dan prasarana. Bukan hanya itu saja, pihaknya terus mendorong tenaga guru untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang strata dua.

“Kami tahun ini akan memiliki 6-7 guru yang tamat S2 dari total 13 guru. Sisanya sadang berproses. Target kami satu sampai dua tahun lagi. Semua guru bergelar S2,” terang dia.

Menurutnya, kompetensi guru sangat menentukan seberapa baik dan bagusnya suatu lembaga pendidikan. Tidak hanya mengejar pendidikan. Para guru kini juga telah berproses sertifikasi agar menjadi guru profesional

“Fokus kami adalah para guru. Syukur sudah ada pendataan dan proses ‘running’ untuk sertifikasi guru mata pelajaran (mapel) agama Hindu dan mapel umum di lembaga kami. Harapannya, guru akan terjamin kesejahteraannya dan juga lebih kompeten dan profesional pada profesi pendidik,” demikian jelasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *