* Oleh Lewa Karma
HARI Bumi yang diperingati setiap 22 April bukan sekadar seremoni simbolik global, tetapi merupakan refleksi kritis atas krisis ekologis yang semakin nyata. Dunia hari ini menghadapi perubahan iklim, degradasi lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, hingga meningkatnya bencana ekologis.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati tinggi juga menghadapi tantangan serius seperti deforestasi, pencemaran, dan alih fungsi lahan yang masif.
Dalam konteks ini, Hari Bumi harus dimaknai sebagai momentum transformasi paradigma Pembangunan dari eksploitasi menuju keberlanjutan. Di sinilah konsep ekoteologi, kurikulum cinta, dan kearifan lokal seperti Tri Hita Karana menjadi sangat relevan sebagai fondasi etis, spiritual, dan praksis dalam menjaga ekosistem dan semesta.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa krisis lingkungan tidak hanya bersumber dari persoalan teknis, tetapi juga dari kegagalan moral dan spiritual manusia. Perspektif ekoteologi menafsirkan kerusakan lingkungan sebagai bentuk kegagalan manusia menjalankan amanah sebagai penjaga ciptaan Tuhan.
Fakta empiris menunjukkan bahwa degradasi lingkungan terjadi dalam berbagai bentuk: pencemaran pesisir, eksploitasi hutan, hingga menurunnya produktivitas pertanian akibat kerusakan ekosistem. Fenomena ini memperlihatkan bahwa pembangunan modern cenderung antroposentris menempatkan manusia sebagai pusat tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis.
Padahal, para ahli seperti Sigit Hermawan dalam kajian teologi ekologis menegaskan bahwa krisis lingkungan merupakan krisis relasi dimana manusia kehilangan kesadaran spiritual bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan bagian integral dari kehidupan. Dengan demikian, solusi terhadap krisis ekologis tidak cukup melalui regulasi atau teknologi, tetapi harus menyentuh dimensi etika, spiritualitas, dan kesadaran kolektif.
Ekoteologi hadir sebagai pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian ekologis. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini mulai diarusutamakan oleh berbagai lembaga, termasuk Kementerian Agama, yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari ekspresi iman.
Menurut Prof. I Nengah Duija, ekoteologi dalam Hindu menemukan pijakan kuat pada konsep Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam. Artinya, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga tindakan spiritual.
Penelitian lain menunjukkan bahwa agama memiliki peran signifikan dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat. Praktik keagamaan seperti ritual, tradisi lokal, hingga fatwa keagamaan mampu mendorong perilaku ramah lingkungan secara kolektif.
Dengan demikian, ekoteologi menawarkan paradigma bahwa merusak alam adalah melanggar nilai spiritual dan menjaga alam merupakan bentuk ibadah dan pengabdian. Pendekatan ini sangat penting di tengah krisis global yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknokratis.
Dalam konteks Bali dan Indonesia, konsep Tri Hita Karana menjadi salah satu model paling relevan dalam membangun harmoni ekologis. Filosofi ini menekankan tiga relasi utama Parahyangan (manusia dengan Tuhan), Pawongan (manusia dengan sesama) dan Palemahan (manusia dengan alam).
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Tri Hita Karana bukan hanya konsep spiritual, tetapi juga kerangka ekologis yang mampu menjaga keseimbangan lingkungan secara berkelanjutan. Sistem subak di Bali, yang diakui UNESCO, menjadi bukti konkret bagaimana kearifan lokal mampu mengelola sumber daya secara adil dan berkelanjutan.
Lebih jauh, studi menunjukkan bahwa penerapan Tri Hita Karana dalam pendidikan lingkungan mampu meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat dan mendorong praktik nyata seperti pengelolaan sampah dan penghijauan.
Dalam perspektif ini, Tri Hita Karana memiliki keunggulan dibanding paradigma modern holistik (mengintegrasikan spiritual, sosial, ekologis), berbasis budaya lokal dan bersifat partisipatif dan kolektif. Oleh karena itu, Tri Hita Karana tidak hanya relevan bagi Bali, tetapi juga dapat menjadi model global dalam pembangunan berkelanjutan.
Salah satu tantangan terbesar dalam menjaga lingkungan adalah rendahnya kesadaran generasi muda. Di sinilah pentingnya menghadirkan kurikulum cinta—yakni pendekatan pendidikan yang menanamkan nilai cinta terhadap alam, bukan sekadar pengetahuan tentang lingkungan.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekopedagogi, yang mengintegrasikan kesadaran ekologis dengan pendidikan berbasis nilai dan pengalaman. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa model pendidikan berbasis spiritual ecology dan digital pedagogy mampu membangun kesadaran ekologis yang lebih mendalam pada peserta didik.
Kurikulum cinta tidak hanya mengajarkan “apa itu lingkungan”, tetapi juga mengapa lingkungan harus dicintai, bagaimana manusia terhubung secara spiritual dengan alam dan bagaimana tindakan kecil berdampak besar bagi keberlanjutan. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi bersifat kognitif semata, tetapi juga afektif dan transformatif.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerentanan bencana yang tinggi, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga krisis iklim. Oleh karena itu, pembangunan ke depan harus berbasis mitigasi bencana yang terintegrasi dengan pelestarian lingkungan.
Pendekatan berbasis Tri Hita Karana dan ekoteologi dapat menjadi solusi strategis, karena menekankan keseimbangan ekosistem (mengurangi risiko bencana), mendorong partisipasi komunitas lokal dan mengintegrasikan nilai budaya dan spiritual dalam kebijakan.
Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal lebih efektif dibanding kebijakan top-down, karena melibatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga lingkungan. Dengan demikian, pembangunan tidak lagi berorientasi pada eksploitasi ekonomi semata, tetapi pada keberlanjutan ekologis dan keselamatan manusia.
Hari Bumi harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif bahwa krisis ekologis adalah tanggung jawab bersama. Dalam konteks Indonesia, integrasi antara ekoteologi (nilai spiritual), Kurikulum cinta (pendidikan) dan Tri Hita Karana (kearifan lokal) merupakan jalan strategis untuk membangun peradaban yang berkelanjutan.
Krisis lingkungan hari ini bukan hanya krisis alam, tetapi krisis peradaban. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan juga harus bersifat peradaban mengubah cara pandang manusia terhadap alam, dari eksploitasi menjadi relasi yang penuh cinta dan tanggung jawab.
Hari Bumi mengingatkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari semesta. Ekoteologi menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bentuk ibadah. Kurikulum cinta membangun kesadaran sejak dini. Sementara Tri Hita Karana memberikan kerangka praktis untuk hidup harmonis dengan alam.
Ke depan, pembangunan Indonesia harus bergerak menuju paradigma baru: pembangunan berbasis ekologi, mitigasi bencana, dan kearifan lokal. Tanpa itu, modernitas hanya akan mempercepat kerusakan. Sebaliknya, dengan mengintegrasikan nilai spiritual, pendidikan, dan budaya, Indonesia tidak hanya mampu menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi contoh peradaban yang harmonis bagi dunia. []
*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral Prodi IAK pada IMK

