* Oleh Lewa Karma
DI antara ritual paling agung dalam Islam adalah tawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran sebagai bagian dari ibadah haji dan umrah. Jutaan umat Islam dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, dan latar budaya bergerak dalam satu arus melingkar mengitari Baitullah tanpa henti sepanjang tahun.
Secara lahiriah, tawaf tampak sebagai gerakan berjalan mengelilingi bangunan berbentuk kubus di tengah Masjidil Haram. Namun secara batiniah, tawaf mengandung makna filosofis, spiritual, teologis, bahkan kosmologis yang sangat dalam.
Tawaf bukan sekadar gerakan fisik. Ia merupakan simbol perjalanan manusia menuju Tuhan, simbol penyerahan diri, simbol kesatuan umat manusia, dan simbol keteraturan alam semesta yang seluruhnya tunduk kepada hukum Allah SWT.
Dalam perspektif Islam, tawaf mengajarkan bahwa pusat kehidupan manusia bukanlah ego, kekuasaan, materi, atau hawa nafsu, melainkan Allah SWT sebagai pusat orientasi hidup.
Tawaf dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Ka’bah dibangun sebagai rumah ibadah pertama bagi manusia dan menjadi pusat penghambaan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman” (QS. Al-Baqarah [2]: 125).
Pada ayat yang sama Allah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar membersihkan Baitullah untuk orang-orang yang melakukan tawaf, i’tikaf, rukuk dan sujud. Allah ta’ala juga berfirman: “Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.” (QS. Al-Hajj [22]: 26).
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW dijelaskan bahwa beliau melaksanakan tawaf sebanyak tujuh putaran. Para ulama kemudian menetapkan tujuh putaran sebagai bagian dari tata cara ibadah yang bersifat ta’abbudi, yakni dilaksanakan berdasarkan ketetapan wahyu dan sunnah Rasulullah SAW.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, perintah menyucikan Ka’bah bagi orang-orang yang tawaf menunjukkan bahwa tawaf merupakan ibadah yang telah ada sejak masa Nabi Ibrahim AS dan menjadi bagian penting dari syiar tauhid.
Mengapa Tujuh Kali?
Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa tawaf dilakukan tujuh kali, bukan lima atau sepuluh kali. Dalam pandangan ulama, angka tujuh termasuk bilangan yang memiliki simbolisme kuat dalam ajaran Islam.
Al-Qur’an berulang kali menyebut angka tujuh dalam berbagai konteks, antara lain : tujuh lapis langit (QS. Al-Mulk: 3), tujuh lapis bumi (QS. Ath-Thalaq: 12), tujuh ayat dalam Surah Al-Fatihah, tujuh kali lempar jumrah dalam ibadah haji dan tujuh putaran tawaf.
Para ulama menjelaskan bahwa angka tujuh melambangkan kesempurnaan, kelengkapan, dan totalitas penghambaan. Karena itu, tujuh putaran tawaf bukan sekadar hitungan matematis, tetapi simbol bahwa manusia menyerahkan seluruh dimensi kehidupannya kepada Allah SWT.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hakikat ibadah bukan hanya memahami alasan rasionalnya, melainkan menghadirkan kepatuhan total kepada Allah. Dalam konteks ini, tujuh putaran merupakan simbol ketaatan yang sempurna kepada perintah Tuhan.
Mengapa Dimulai di Hajar Aswad?
Secara syariat, tawaf harus dimulai sejajar dengan Hajar Aswad dan berakhir di titik yang sama. Ketentuan ini mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Hajar Aswad bukanlah benda yang disembah, melainkan simbol perjanjian dan ketaatan kepada Allah SWT. Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khattab pernah berkata: “Sesungguhnya aku tahu engkau hanyalah batu. Engkau tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat. Kalau aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pernyataan ini menjadi landasan penting bahwa penghormatan terhadap Hajar Aswad bukanlah pemujaan benda, melainkan bentuk ketaatan kepada sunnah Nabi. Dalam perspektif tasawuf, Hajar Aswad melambangkan “pintu masuk” menuju perjalanan penyucian jiwa.
Hajar Aswad dapat dipahami sebagai symbol titik awal perjalanan spiritual manusia menuju Allah, pengingat perjanjian primordial manusia dengan Tuhan, simbol komitmen untuk memulai hidup baru yang lebih bersih dan bertakwa dan penanda bahwa setiap perjalanan menuju Allah harus memiliki arah dan tujuan yang jelas.
Mengapa harus Isti’lam?
Mengawali tawaf sejajar Hajar Aswad dikenal satu kebiasaan, yaitu isti’lam (kecup jauh) dengan melambaikan tangan kanan. Isti’lam adalah mengangkat tangan atau memberi isyarat ke arah Hajar Aswad sambil mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar. Secara lahiriah, isti’lam merupakan pengganti mencium Hajar Aswad apabila kondisi tidak memungkinkan.
Isti’lam mengandung beberapa pesan spiritual pertama sebagai deklarasi tauhid, artinya sebelum memasuki orbit tawaf, seorang muslim terlebih dahulu mengikrarkan kebesaran Allah. Ini menunjukkan bahwa seluruh aktivitas hidup harus diawali dengan kesadaran ketuhanan.
Kedua, penyerahan diri dimana gerakan mengangkat tangan menyerupai sikap seseorang yang menyatakan kesediaan menerima perintah dan ketentuan Allah. Ketiga, memulai perjalanan ruhani (batin) yang mana isti’lam adalah simbol “gerbang keberangkatan” menuju perjalanan spiritual yang lebih dalam. Sebagaimana seorang musafir memulai perjalanan dengan niat, demikian pula seorang hamba memulai tawaf dengan pengakuan atas kebesaran Allah.
Mengapa Ka’bah di Sebelah Kiri dan Berlawanan Arah Jarum Jam?
Berikutnya, salah satu ciri khas tawaf adalah Ka’bah selalu berada di sebelah kiri jamaah. Secara fikih, ini adalah tata cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Namun para ulama juga melihat hikmah simboliknya.
Makna spiritual dimana jantung manusia terletak di sisi kiri dada. Ketika bertawaf, posisi jantung berada paling dekat dengan Ka’bah. Para ulama tasawuf memandang hal ini sebagai simbol bahwa hati harus selalu terhubung dengan Allah, cinta kepada Allah harus menjadi pusat kehidupan dan orientasi batin harus selalu menghadap kepada Tuhan.
Dalam tradisi sufistik, Ka’bah dipandang sebagai simbol pusat tauhid, sedangkan hati manusia adalah Ka’bah spiritual dalam diri. Karena itu, mendekatkan sisi jantung ke arah Ka’bah melambangkan penyerahan hati sepenuhnya kepada Allah.
Tawaf dalam Makrokosmos sebagai Harmoni Alam Semesta
Salah satu aspek paling menarik dari tawaf adalah hubungannya dengan kosmologi atau keteraturan alam semesta. Hampir seluruh benda langit bergerak dalam pola orbit. Planet mengelilingi matahari, bulan mengelilingi bumi, galaksi berputar pada pusatnya, bahkan elektron bergerak mengitari inti atom menurut prinsip tertentu. Para ilmuwan modern menemukan bahwa gerak melingkar merupakan salah satu pola dasar dalam struktur kosmos.
Dalam perspektif spiritual Islam, tawaf menjadi simbol bahwa manusia adalah bagian dari keteraturan kosmik yang tunduk kepada Sang Pencipta. Ketika jamaah bergerak mengelilingi Ka’bah, mereka seolah menyatu dengan irama alam semesta yang seluruhnya bertasbih kepada Allah SWT.
Makna ini bukan berarti Ka’bah menjadi pusat fisik alam semesta secara astronomis, melainkan pusat spiritual umat Islam. Tawaf mengajarkan bahwa sebagaimana alam beredar mengikuti ketentuan Allah, manusia pun harus mengatur kehidupannya dalam orbit ketuhanan, bukan orbit hawa nafsu.
Beberapa ulama kontemporer dan pemikir Islam memandang tawaf sebagai representasi simbolik dari keteraturan kosmos dan kesatuan penciptaan. Gerakan melingkar tanpa ujung melambangkan keabadian, kesinambungan hidup, dan hubungan manusia dengan Tuhan yang tidak pernah terputus.
Tawaf dalam Mikrokosmos sebagi Perjalanan Batin Manusia
Jika makrokosmos merujuk kepada alam raya, maka mikrokosmos merujuk kepada dunia batin manusia. Dalam perspektif tasawuf, Ka’bah dipandang sebagai simbol pusat kesadaran spiritual manusia. Sebagaimana tubuh memiliki jantung sebagai pusat kehidupan biologis, manusia juga memiliki hati (qalb) sebagai pusat kehidupan ruhani.
Saat melakukan tawaf, seorang muslim secara simbolik sedang mengelilingi pusat ketuhanannya. Ia meninggalkan kesombongan, status sosial, jabatan, dan identitas duniawi. Semua jamaah mengenakan pakaian ihram yang sederhana sebagai lambang kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.
Ibnu Arabi menjelaskan bahwa perjalanan spiritual manusia adalah perjalanan kembali menuju pusat eksistensinya, yaitu Allah SWT. Tawaf menjadi metafora bahwa kehidupan manusia harus selalu berputar pada nilai-nilai ilahiah seperti kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan ketakwaan.
Karena itu, hakikat tawaf bukanlah mengelilingi bangunan Ka’bah semata, melainkan mengelilingi makna tauhid yang terkandung di dalamnya.
Sejarah Tawaf Sejak Nabi Ibrahim AS
Menurut Al-Qur’an dan tafsir para ulama, Ka’bah dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS atas perintah Allah SWT. Tujuannya adalah menjadikan Baitullah sebagai pusat ibadah tauhid bagi seluruh umat manusia.
Dalam perjalanan sejarah, Ka’bah pernah disalahgunakan oleh masyarakat Arab jahiliyah sebagai pusat penyembahan berhala. Namun setelah Fathu Makkah pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah SAW membersihkan Ka’bah dari ratusan berhala dan mengembalikannya kepada fungsi aslinya sebagai pusat tauhid.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa tradisi mengelilingi Ka’bah memang telah dikenal sebelum Islam, tetapi Islam melakukan reformasi total terhadap maknanya. Jika sebelumnya tawaf dilakukan untuk berhala, maka Islam mengembalikannya kepada ajaran Nabi Ibrahim AS sebagai bentuk penghambaan murni kepada Allah SWT.
Dengan demikian, tawaf sesungguhnya merupakan “miniatur kehidupan manusia”. Manusia datang dari Allah, bergerak dalam orbit ketentuan-Nya, memusatkan hati kepada-Nya, lalu pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Tawaf mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati diperoleh ketika seluruh gerak kehidupan berputar mengelilingi tauhid, bukan mengelilingi ego, kekuasaan, atau kepentingan duniawi.
Nilai-Nilai Spiritual Tawaf dalam Kehidupan Modern
Di era modern yang penuh materialisme, tawaf mengandung pelajaran yang sangat relevan.
Pertama, tawaf mengajarkan tentang pusat orientasi hidup. Banyak manusia menjadikan uang, jabatan, popularitas, atau kekuasaan sebagai “ka’bah” baru dalam hidupnya. Tawaf mengingatkan bahwa hanya Allah yang layak menjadi pusat orientasi manusia.
Kedua, tawaf mengajarkan kesetaraan. Saat jutaan manusia bergerak bersama tanpa membedakan ras, bangsa, atau status sosial, terlihat bahwa kemuliaan sejati hanya ditentukan oleh ketakwaan.
Ketiga, tawaf mengajarkan disiplin dan keteraturan. Tidak ada kekacauan dalam orbit alam semesta. Demikian pula kehidupan manusia akan harmonis jika mengikuti hukum-hukum Allah. Keempat, tawaf mengajarkan persatuan. Gerakan serempak jutaan manusia di sekitar satu pusat menunjukkan bahwa perbedaan tidak menghalangi kesatuan selama tujuan bersama adalah penghambaan kepada Allah SWT.
Jadi, tawaf tujuh kali mengelilingi Ka’bah bukanlah ritual tanpa makna. Ia merupakan simbol tauhid, kepatuhan, kesempurnaan penghambaan, dan perjalanan spiritual manusia menuju Allah SWT.
Dalam perspektif kosmologis, tawaf mencerminkan keteraturan makrokosmos yang seluruhnya bergerak mengikuti hukum Tuhan. Dalam perspektif mikrokosmos, tawaf melambangkan perjalanan batin manusia untuk menjadikan Allah sebagai pusat kehidupannya.
Melalui tawaf, seorang muslim belajar bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa arah. Sebagaimana seluruh jamaah bergerak mengelilingi satu titik pusat yang sama, demikian pula manusia harus menjadikan Allah SWT sebagai pusat orientasi hidup, sumber nilai, dan tujuan akhir perjalanan eksistensinya.
Dengan demikian, tawaf tidak hanya menjadi ritual haji dan umrah, tetapi juga menjadi pelajaran filosofis yang relevan sepanjang zaman dalam membangun kehidupan yang bermakna, harmonis, dan berlandaskan tauhid. []
*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral IMK
Daftar Pustaka
1. Al-Ghazali. (2011). Ihya’ Ulum al-Din (Vol. 1–4). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
2. Esposito, J. L. (2003). The Oxford Dictionary of Islam. New York, NY: Oxford University Press.
3. Ibn Kathir, I. (2003). Tafsir Ibn Kathir (A. M. Shakir, Ed.). Riyadh: Darussalam.
4. Nasr, S. H. (2006). Islamic Philosophy from Its Origin to the Present: Philosophy in the Land of Prophecy. Albany, NY: State University of New York Press.
5. Omer, S. (2025). The Spirituality of Hajj: Tawaf. Islamicity.
6. Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Vol. 1–15). Jakarta: Lentera Hati.
7. Kementerian Agama Republik Indonesia. (2022). Al-Qur’an dan Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI. Jakarta: Kementerian Agama RI.

