TABANAN – Sekitar tahun 2030 nanti, Bali akan memasuki masa-masa sulit. Disamping secara nasional kita bakal mengalami krisis energi (cadangan gas bumi kita bakal habis tahun 25 atau 26), khusus untuk Bali juga akan mengalami krisis air. Dimana beberapa kabupaten akan mengalami devisit air.
Demikian disampaikan Aktivis Lingkungan yang juga Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Bali, Suprio Guntoro, dalam ceramahnya di hadapan para tokoh masyarakat Bedugul di Aula Pertemuan Yayasan Al Hidayah-Bedugul, Tabanan, Rabu (12/7/2023).
Disamping itu, lanjut Gubtoro, pada tahun 2030, penduduk Bali jumlahnya akan mencapai lebih dari 5 juta jiwa. Pada saat ini, dengan penduduk 4,1 juta jiwa, kebutuhan pangan (beras) bisa dipenuhi dari sawah, dengan menggunakan “input” teknologi maju.
Tetapi, kata dia, bila dengan jumlah penduduk lebih dari 5 jiwa plus untuk memenuhi kebutuhan wisatawan diperkirakan sawah di Bali yang luasnya 78.000 hektar tidak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan pangan (beras).
“Untuk itu saya mengimbau segenap warga Muslim di Bali untuk tidak berpangku tangan. Mari kita berpartisipasi aktif, turut mencari solusi dalam menghadapi masalah Bali ke depan. Warga Muslim harus mampu menjadi sumber solusi,” ujar Guntoro.
Menurut Guntoro, dulu, sebelum tahun 90-an, dengan mudah kita bisa mendatangkan beras dari Jawa Timur atau NTB. Namun, dengan pertumbuhan penduduk, perkembangan pariwisata serta adanya perubahan iklim, kita tidak boleh lagi menggantungkan pemenuhan pangan kita pada provinsi-provinsi tetangga.
“Artinya, Bali harus tetap mampu berswasembada pangan. Caranya, kita harus mampu menggarap potensi di luar sawah, yakni di lahan-lahan marginal, yang saat ini luasnya di Bali mencapai 140.000-150.000 hektar,” tandasnya.
Guntoro mengatakan, pemanfaatan lahan marginal (lahan kering) tantangannya sangat berat. Karena di daerah ini amat minim air. Karena itu, pemerintah perlu mendukung, dengan memperbanyak embung- embung yang telah ada untuk menampung air limpasan di waktu musim hujan serta menambah jumlah cubang-cubang atau sumur renteng untuk mengefisiensikan penggunaan air.
Disamping itu, jelas dia, perlu pula memperbaiki manajemen air irigasi di sawah. Menurut Guntoro, Bali perlu menerapkan sistem irigasi “inter miten” (irigasi berselang) seperti yang telah lazim diterapkan di negara-negara yang lebih maju, seperti di Taiwan, China, dll.
“Dengan penerapan teknik irigasi ini, maka devisit air di Bali masih bisa ditunda. Belasan tahun ke depan dan air yang terhemat bisa disalurkan ke lahan-lahan marginalmarginal,” katanya.
Guntoro juga menegaskan, kita juga perlu mengembangkan tanaman pangan alternatif yang lebih hemat air atau adaptif tumbuh di lahan marginal. Untuk itu, kata dia, ICMI Orwil Bali berencana mencoba mengembangkan tanaman “sweet” Sorgum (Sorgum batang manis) di dataran rendah di Bali, seperti di Jembrana dan Buleleng.
Menurut Suprio Guntoro, sweet sorgum varietas RIO yang akan dikembangkan oleh ICMI ini memiliki beberapa keunggulan. Antara lain umur panen relatif pendek, yakni 90 hari. Produktivitas tinggi, bisa mencapai 3,5 – 4,5 ton per hektar perkali panen. Setiap kali tanam bisa 4 (empat) kali panen.
“Meski tanpa pengolahan secara khusus, rasa nasi beras sorgum sudah cukup enak. Nira batang sorgum irendemennya cukup tinggi, dengan kadar gula yang tinggi pula (angka brix 16), sehingga bisa diolah untuk industri gula merah cair dan untuk bio premium,” tandas Guntoro. (bs)

