BULELENG – Seiring perkembangan jaman di era modern pembangunan koperasi di Indonesia menunjukkan hasil yang memuaskan. Selain mengalami pertumbuhan secara kuantitatif, secara kualitatif juga berhasil mendirikan pilar-pilar utama untuk menopang perkembangan koperasi secara mandiri.
Koperasi di Kabupaten Buleleng mengalami pertumbuhan cukup signifikan walau sempat diterjang badai pandemi. Hal ini dijelaskan Kepala Dinas (Kadis) Disprindagkop Buleleng, Dewa Made Sudiarta, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jumat (29/7/2022).
Kadis Sudiarta menjelaskan bahwa perkembangan koperasi di Buleleng hingga tahun 2021 tercatat 404 koperasi. Terdiri dari 323 koperasi yang masih aktif dan jika dipersentasekan menjadi 79,90%. Sementara ada 81 koperasi yang statusnya sudah tidak aktif. Dari jumlah tersebut, 23 koperasi sudah diusulkan untuk tidak beroperasi karena sudah tiga kali berturut-turut tidak mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Ada 3 koperasi yang memang mengusulkan sendiri untuk berhenti beroperasi.
Sisanya 55 koperasi statusnya masih dalam proses pembinaan dan pengawasan, yang dominan bergerak di bidang konsumsi, koperasi simpan pinjam, produksi dan jasa. “Koperasi yang dalam pembinaan ini masih kita fasilitasi dan pendampingan agar kedepan bisa menjadi koperasi yang aktif lagi,” ucapnya.
Disinggung mengenai perkembangan usaha yang dilakukan koperasi selama pandemi hingga sekarang, Kadis Sudiarta menjelaskan, koperasi masih bertahan dan bersaing secara kompetitif dengan lembaga keuangan lainnya. Bahkan nilai aset dan Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi meningkat walaupun volume usaha perusahaan menurun. Ini karena koperasi tersebut menerapkan efisiensi. Jadi biaya-biaya yang dirasa kurang diperlukan tidak akan dikeluarkan seperti penghematan belanja operasional rutin karyawan.
Bukan hanya itu. Melihat tren modal sendiri dari koperasi juga ikut meningkat sekitar 9,39%. Artinya dengan hal itu membuktikan bahwa koperasi ini dapat berkomitmen bagaimana modal sendiri dari anggota bisa didorong menjadi aktivitas usaha yang mereka lakukan.
“Peningkatan SHU yang dari sebelumnya Rp 15,39 milyar menjadi Rp 17,52 milyar jika dipersentasekan sekitar 12% dari tahun buku 2020, serta peningkatan total aset Rp 608,65 milyar menjadi Rp 669,57 milyar. Jadi peningkatan sekitar 9% ini menggambarkan koperasi bisa bertahan di setiap keadaan seperti halnya di masa pandemi kemarin,” tandasnya.
Kadis Sudiarta berharap, kedepannya bagaimana pengelola koperasi beserta jajarannya benar-benar memahami potensi yang layak untuk dikembangkan mengingat koperasi ini bukan hanya kumpulan orang semata, namun kumpulan orang yang melakukan usaha.
Selain itu, Kadis Sudiarta menyampaikan agar koperasi dalam pelaksanaan usahanya tetap berdasar prinsip 5P yang dimulai dari Partnership (kemitraan), Produk, Packaging (pengemasan), Perizinan, dan Pemasaran. “Jadi kedepannya masyarakat pelaku UMKM, serta koperasi bisa menerima manfaat sebesar-besarnya dari aktivitas ekonomi dan usaha yang dikembangkan,” pungkasnya. (bs)

