BULELENG – Maraknya kasus kecelakaan di alam bebas yang menimpa pendaki di kawasan pegunungan Bali beberapa waktu terakhir mendorong perhatian serius dari kalangan kepecintaalaman. Menanggapi hal tersebut, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Loka Samgraha Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menggelar pelatihan Bali Youth Survival Camp Tingkat SMA/SMK/MA Sederajat Se-Bali Tahun 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Tiga Hari Menjadi Lebih Tangguh: Berorientasi di Alam, Bertahan dalam Tantangan, Bergerak untuk Kelestarian” ini dipusatkan di Kawasan Hutan Renon dan Bendungan Gerokgak, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, pada Jumat hingga Minggu, 24–26 Juli 2026.
Rangkaian kegiatan pelatihan dasar ini dirancang secara khusus untuk mengisi kesenjangan belum tersedianya wadah pembinaan kepecintaalaman yang terstruktur, aman, dan berkelanjutan bagi generasi muda tingkat sekolah menengah di Bali.
Ketua Pelaksana Bali Youth Survival Camp, Kt. Nada Harni Maulidiah, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan langkah awal dan edukatif dalam menekan angka kecelakaan pendakian maupun kegiatan alam terbuka lainnya.
“Kegiatan alam bebas memiliki risiko tinggi yang membutuhkan kesiapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap bertanggung jawab. Melalui pelatihan tiga hari ini, kami ingin membekali para siswa SMA/SMK/MA sederajat se-Bali agar memiliki skill yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta dalam organisasi masing-masing,” ujarnya.
Pelatihan tingkat dasar ini memadukan teori dan praktik lapangan melalui berbagai materi yang disampaikan langsung oleh pengurus Mapala Loka Samgraha Undiksha. Materi yang diberikan meliputi Navigasi Darat Digital yang disampaikan oleh Ida Bagus Arya Yoga Bharata, M.Ling., untuk melatih penggunaan aplikasi navigasi pada smartphone seperti Alpine Quest Lite.
Selanjutnya, terdapat materi Manajemen Perjalanan yang diisi oleh Wasihana Putri Ari Wangsa mengenai manajemen logistik. Selain itu, materi Teknik Survival dibawakan oleh I Nyoman Suwenten yang mengajarkan keterampilan dasar bertahan hidup, eksplorasi survival food, hingga teknik menyalakan api.
Kemudian dilanjut dengan materi Analisis Air oleh Ketut Resmi Ratnadi yang membekali peserta dengan metode pengujian kualitas air permukaan di sekitar Bendungan Gerokgak.
Di samping sesi teori, peserta juga mengikuti kegiatan uji ketangkasan pos-to-pos di area Hutan Renon untuk mempraktikkan langsung cara mengenali tumbuhan liar yang aman dikonsumsi sebagai makanan darurat.
Ketua Umum Mapala Loka Samgraha Undiksha, Rakay Raynor Pangestu, menegaskan pentingnya pembentukan karakter. “Tujuan utama kami tidak sekadar memberikan ilmu navigasi atau survival, melainkan membentuk karakter disiplin, jiwa kepemimpinan, serta menumbuhkan kesadaran ekologis untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang pertemuan sekaligus wadah pemersatu bagi seluruh pelajar pecinta alam se-Bali, sehingga mereka mampu menjadi kader-kader pelopor keselamatan dan kelestarian alam di sekolahnya masing-masing,” tegas Rakay.
Dukungan penuh dan apresiasi positif juga datang dari Pembimbing Mapala Loka Samgraha Undiksha, Dr. H. Wahjoedi. Ia menilai, penyelenggaraan Bali Youth Survival Camp 2026 merupakan momentum yang sangat baik untuk memberikan bekal berharga bagi siswa SMA sederajat.
“Bukan hanya berbekal akademik, tetapi kegiatan ini melakukan penajaman dari sisi pengembangan karakter yang tangguh. Anak-anak ini dididik agar mampu bersahabat dengan alam dan turut serta mengambil peran besar dalam menjaga kelestarian alam,” ungkapnya.
Sang Pembimbing juga berharap agar ke depannya kegiatan ini dapat terus dikemas semakin baik dan mendapatkan apresiasi yang terus meningkat. “Mari kita optimalkan kegiatan ini ke depan menjadi wahana terbaik untuk menempa anak-anak kita sebagai kader terbaik bangsa. Dengan bekal kemampuan akademik dan karakter keunggulan yang tangguh, mereka akan siap menjaga kelestarian sumber daya alam kita sekaligus menyongsong masa depan yang lebih kompetitif. Salam tangguh dan salam lestari,” tambah Dr. H. Wahjoedi.
Secara keseluruhan, kegiatan yang diikuti oleh perwakilan siswa-siswi SMA/SMK/MA dari berbagai kabupaten/kota se-Bali ini berjalan dengan aman dan lancar. Rangkaian acara ditutup secara resmi pada Minggu siang yang diakhiri dengan aksi clean-up atau pembersihan area perkemahan sebagai wujud nyata komitmen menjaga kelestarian alam setempat. (bs)

