//jika rakyat pergi/ketika penguasa pidato/kita harus hati-hati/barangkali mereka putus asa//
//kalau rakyat sembunyi/dan berbisik-bisik/ketika membicarakan masalahnya sendiri/penguasa harus waspada dan belajar mendengar//
Wahyu membacakan puisi Wiji Thukul berjudul “Peringatan” itu dengan suara menggelegar di panggung Sasana Budaya Singaraja, Minggu (26/7/2026). Suara yang lantang. Panggung berwarna darah.
Itulah bagian dari pementasan teater berjudul “Yang Hilang Yang Terus Berjuang” untuk memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli. Acara peringatan tersebut dilaksanakan DPC PDI Perjuangan Buleleng. Untuk mengenang peristiwa penyerangan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 lalu.
Naskah “Yang Hilang Yang Terus Berjuang” ditulis sastrawan Made Adnyana Ole. Dipentaskan oleh anak-anak dari Komunitas Mahima. Pertunjukan diproduseri Made Adnyana Ole, dengan sutradara I Putu Wahyu Mahaputra. Koreografer Dama Dayanu, Penata Musik Wira Pradana dan Mutiara Dewi.
Para pemain yang terlibat yakni Eva Juni, Marsya Dewi, Tika, Muliantari, Ratih, Raysita Pratiwi, Ngurah Andika, Wira Meka, Wisnu Oktaditya, Yoga Wismantara, Sahrul Hidayat, Wahyu Mahaputra.
Pertunjukan dimulai dengan suasana panggung yang gelap. Perlahan-lahan panggung berubah warna merah. Beberapa orang membawa kursi berkerumun sambil menggumamkan kata-kata: “Darah… Puing-puing… Manusia…” Kata-kata itu terus diulang-ulang. Diulang-ulang terus-menerus. “Darah… Puing-puing… Manusia…”
Beberapa saat kemudian, secara bergantian Eva Juni dan Wahyu Mahaputra mengucapkan: “Satu hari. Satu minggu. Satu bulan. Seratus hari. Seribu hari. Sebelum tahun 1996. Sebelum 1998. Ketika rezim kekuasaan makin menekan. Makin menakutkan. Makin beringas. Makin kehilangan arah. Sekelompok warga. Berkelompok-kelompok warga, mulai menunjukkan perlawanan.”
“Mereka menggalang kekuatan, mereka bersuara. Mereka protes. Mereka mengkritik. Dari bawah tanah. Dari atas tanah. Sendirian. Bersama-sama. Lewat media. Lewat partai. Berkali-kali kalah, tapi terus melawan, terus membangun kelompok, membangun narasi: lewat puisi, lewat pidato, media-media bawah tanah, mereka berkali-kali melawan, tapi mereka berkali-kali kalah, tapi tidak pernah merasa kalah. Mereka tidak pernah menyerah.”
Terjadi perebutan kursi antara kelompok laki-laki dan perempuan. Beberapa saat Eva bersuara lantang: “Mereka terus melawan, melawan kegelapan, melawan keabu-abuan, sampai akhirnya mereka ditakuti oleh penguasa. Kesadaran direkayasa.” Disambut oleh kelompok perempuan “Kesadaran direkayasa”.
Massa masih saling tarik menarik kursi. Antara laki-laki dan perempuan. Wahyu lalu berkata, “27 Juli 1996, perlawanan mereka berada pada puncaknya, ketika mereka diserang, gedung dibakar, ada aktivis yang hilang, ada penyair yang hilang, orang-orang kritis hilang, luka-luka. Gedung terbakar, ketentraman negara dipertanyakan.”
Perempuan-perempuan kembali membangun kursi menjadi instalasi, tetapi berulang kali digagalkan oleh kelompok laki-laki sambil menggemakan; “Aktivis-aktivis hilang… Orang-orang kritis hilang… Gedung-gedung terbakar…”
Kelompok laki-laki dan perempuan membangun kursi-kursi. Kata-kata “Aktivis-aktivis hilang… Orang-orang kritis hilang… Gedung-gedung terbakar…” Disuarakan berulang-ulang. Terus menerus diulang-ulang.
Wahyu naik ke kursi di tengah-tengah, berdiri tegak lalu membacakan puisi Wiji Thukul:
Peringatan
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa.
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar.
Bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam.
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
Panggung berubah gelap. Sesaat kelompok laki-laki dan perempuan menyusun kursi-kursi. Salah seorang naik, namun gagal, naik lagi, gagal lagi.
Eva kemudian menyuarakan ini: “30 tahun yang lalu, langit biru menjadi abu akibat kepulan asap hitam, di kawasan Jalan Diponegoro sampai Salemba, Jakarta Pusat. Hari itu, lima orang meninggal dunia, 149 orang terluka, dan 23 orang hilang.”
Sekelompok orang itu kembali menyusun bangunan. Dan berhasil. Wahyu bersuara, ”1999. Masa kegelapan lewatlah sudah. Reformasi sampailah. Indonesia menata diri. Perjuangan melepas suara yang direkayasa. Jiwa yang bebas. Semangat kebebasan. Negarawan menata negara. Politikus menata diri. Demokrasi dihidupkan. Hiduplah demokrasi! Hiduplah perjuangan!
Lalu mereka berhasil menyusun bangunan dari kursi, dan seorang perempuan naik ke atas. Mereka bergembira menyanyikan syair-syari; “Hidup Demokrasi, Hidup Perjuangan. Jiwa yang bebas. Semangat perjuangan.” (yum)

