Kopi Harus Tetap Ada di Hulu Bali

TABANAN – Pemerintah dan seluruh masyarakat Bali harus menyadari pentingnya untuk memproteksi kawasan hulu Bali, jika menginginkan Bali tetap aman, nyaman dan asri untuk dihuni penduduknya maupun buat wisatawan yang mengunjunginya.

Demikian disampaikan oleh aktivis lingkungan yang juga mantan Peneliti BPTP Bali, Ir. Suprio Guntoro, Jumat (17/1/2026).

Dalam upaya memproteksi kawasan hulu tersebut, Guntoro menekankan pentingnya melestarikan keberadaan tanaman kopi. Mengingat tanaman kopi merupakan tanaman hidroorlogis, yang neraca airnya surplus sehingga tanaman ini mampu menyimpan air dalam tanah dan melahirkan mata air-mata air di Bali.

Karena itu, keberadaan tanaman kopi di kawasan hulu memiliki peran yang amat penting untuk menjaga kelestarian mata air dan menjamin sungai-sungai di Bali tetap bisa mengalirkan air di musim kemarau.

Data di lapangan menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah sungai di Bali yang mengering di musim kemarau jumlahnya terus bertambah. Saat ini, dari 318 sungai yang ada di Bali, sebanyak 57 persen di antaranya telah mengering di musim kemarau.

Menurut Guntoro, untuk mendorong masyarakat agar lebih giat melestarikan tanaman kopi, diantara dengan usaha meningkatkan nilai pendapatan dari perkebunan kopi. Dengan memanfaatkan tanah di sela tanaman kopi untuk budidaya tanaman bio farmaka.

Menurut Guntoro – yang juga salah satu Penasehat TANI MERDEKA Bali, jenis tanaman bionfarmaka yang dapat dibudidayakan secara tumpang sari dengan tananan kopi cukup banyak, seperti jahe, kencur, kunyit, cabe puyang, kapulaga, kenangi, dll.

Tanam-tanaman tersebut perakarannya dangkal, sehingga tidak akan mengganggu produktivitas kopi sepanjang pemberian pupuk memadahi, baik jumlah maupun mutunya.

Sementara, di daerah dataran medium, yang suhu udaranya lebih tinggi, maka di sela-sela tanaman kakao, bisa dibudidayakan tanaman kapulaga, sirih atau melati.

Menurut Mr. Charles, rencananya di Desa Pujungan, di perkebunan kopi milik drh. Luh Laksmi Werti, akan dicoba budidaya tanaman cabe puyang. Untuk awal akan dicoba di kebun kopi seluas 1-2 hektar.

Cabe puyang merupakan bahan baku bio farmasi yang banyak diekspor, terutama ke China. Di China, buah cabe tersebut diolah untuk obat reumatik vertigo, kembung perut, demam, dan untuk obat lemah syahwat.

Hal yang harus dihindari adalah penanaman jeruk di kawasan hulu. Karena jeruk neraca airnya minus. Penanaman jeruk di kawasan hulu, akan menimbulkan kerusakan siklus hidrologis, yang dapat menimbulkan kekeringan bagi daerah yang ada di bawahnya.

Banyaknya pergantian tanaman kopi dengan tanaman jeruk di Kintamani, menurut Guntoro, yang juga Ketua Komunitas Bio Farmaka Bali itu disebabkan ketidakhadiran pemerintah (dinas terkait), sehingga petani tidak ada yang mengarahkan dan membimbing dalam mengambil keputusan. (yum)

Ket. Foto: Suprio Guntoro (no. 2 dari kanan), serta Mr. Charles Huang dan istri (tengah) dan Kent Renaldo (Pemuda ICMI) saat observasi lapangan di Pujungan, Pupuan beberapa waktu lalu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *