Irisan Insan Kamil dan Suputra, Mewujudkan Harmoni Peradaban

Oleh Lewa Karma

 

MANUSIA sepanjang sejarah tidak hanya dilihat sebagai makhluk biologis, tetapi juga dapat dilihat dari berbagai perspektif. Manusia hadir sebagai subjek moral, spiritual, dan kultural yang menggerakkan roda peradaban.

Dalam khazanah pemikiran ketimuran, dua konsep besar Insan Kamil dalam Islam dan Suputra dalam Hindu menjadi salah satu model ideal tentang siapa manusia itu, dari mana ia bertitik, dan ke mana ia menuju.

Meskipun lahir dari fondasi teologis berbeda, keduanya menyimpan jejak filsafat yang mempertemukan manusia pada titik universalitas bahwa manusia adalah agen harmoni, kebaikan, dan penyempurnaan dunia.

Dalam Islam, Insan Kamil adalah puncak perjalanan spiritual manusia. Ia bukan makhluk sempurna secara fisik, tetapi sempurna dalam kesadaran ketuhanan (tauhid), akhlak, dan adab.

Pemikir seperti Ibn Arabi dan Al-Jili menegaskan bahwa Insan Kamil adalah makhluk yang menjadi cermin sifat-sifat Ilahi. Dia menghadirkan rahmat, keadilan, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sosial, sehingga dunia mengenal cahaya melalui dirinya.

Sementara itu, Hindu mengenal konsep Suputra, yaitu manusia baik, lahir-batin, yang hidup sesuai Dharma tatanan kosmis dan moral yang menjaga keseimbangan dunia.

Suputra berakar pada tradisi Veda, Itihasa, dan Dharmashastra, yang menegaskan bahwa manusia ideal adalah penjaga keharmonisan antara tiga relasi agung: Tuhan, sesama manusia, dan alam (Tri Hita Karana).

Kedua konsep ini memandang manusia bukan sebagai makhluk pasif, tetapi sebagai subjek kesempurnaan yang harus dicapai melalui disiplin rohani, etika luhur, dan perbuatan yang menyejahterakan.

Filsafat Islam menempatkan tauhid sebagai inti eksistensi manusia. Kesempurnaan Insan Kamil muncul ketika ia sepenuhnya menyadari kehadiran Tuhan dan memancarkan nilai-nilai ketuhanan tersebut ke dunia. Di sini manusia bergerak dari “aku individual” menuju “aku universal” menjadi hamba yang sekaligus khalifah di bumi.

Hindu mengajarkan hal yang senada melalui konsep Dharma. Dharma bukan sekadar moral, melainkan hukum kosmik yang menghidupkan segala sesuatu. Menjadi Suputra berarti hidup selaras dengan kosmos, memahami diri sebagai bagian dari jaringan sakral yang lebih besar.

Perbedaan landasan teologis tidak menghilangkan inti kesamaan: manusia hanya dapat menjadi versi tertinggi dirinya ketika ia berakar pada Tuhan apapun nama atau jalannya.

Kedua konsep berkembang dalam peradaban yang menghargai kesucian hati, menekankan etika luhur, menempatkan manusia sebagai penjaga harmoni, mengajarkan bahwa spiritualitas harus menghasilkan kemaslahatan sosial.

Dalam konteks Indonesia, harmoni antara Insan Kamil dan Suputra dapat dipahami sebagai wujud manusia berkarakter, berkeadaban, berbudi luhur, mendalam secara spiritual, dan produktif bagi masyarakat multikultural.

Sejarah dunia bergerak bukan semata oleh kekuatan politik, tetapi oleh figur-figur moral yang mendekati model Insan Kamil atau Suputra. Mereka adalah manusia-manusia paripurna yang dalam dirinya bertemu spiritualitas dan etika sosial.

Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai uswah hasanah, teladan tertinggi Insan Kamil, yang mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat beradab melalui akhlak, kasih sayang, dan keadilan.

Sementara dalam Hindu, sosok seperti Rama dan Yudhistira merupakan cerminan Suputra yang menjaga Dharma meski menghadapi ujian berat. Mereka menciptakan tatanan sosial yang harmonis melalui kebenaran, pengorbanan, dan keberanian moral.

Jika ditarik dalam perspektif filsafat peradaban, Insan Kamil dan Suputra adalah dua wajah dari nilai yang sama manusia ideal. Manusia harus melampaui dirinya sendiri dimana kesempurnaan bukan bawaan, tetapi perjalanan panjang penyucian diri tazkiyah dan tapasya.

Kebaikan pribadi harus menghasilkan kemaslahatan sosial sebagai kesadaran spiritual tidak berhenti pada diri, tetapi menjadi tenaga perubahan sosial.

Manusia adalah jembatan antara dunia ilahi dan realitas duniawi, sehingga Insan Kamil memantulkan sifat Tuhan sebagai Suputra yang memelihara Dharma. Peradaban dibangun oleh manusia berkarakter luhur baik dalam Islam maupun Hindu, sehingga kemuliaan peradaban muncul ketika manusia menghadirkan nilai ilahiah dalam tindakan.

Di tengah krisis moral, konflik sosial, dan kerusakan lingkungan global, gagasan Insan Kamil dan Suputra memiliki relevansi universal. Keduanya mengingatkan bahwa manusia modern harus membangun kesadaran spiritual, saling menjaga harmoni sosial secara inklusif, mampu merawat bumi sebagai amanah dan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Indonesia sebagai rumah multikultural menemukan titik temu yang besar. Insan Kamil dan Suputra dapat dibaca sebagai nilai keindonesiaan menempatkan manusia yang berketuhanan, berkebudayaan, toleran, dan berperan aktif dalam sejarah kemanusiaan.

Keduanya adalah kerangka manusia ideal paripurna secara spiritual, etis, dan sosial. Keduanya sama-sama mengajarkan pembersihan diri dan pengendalian hawa nafsu. Keduanya menuntun manusia menjadi berkah bagi lingkungan, baik sebagai rahmat (Islam) maupun harmoni (Hindu).

Perbedaan teologis tidak menghalangi adanya titik temu etika, karena keduanya mengarahkan manusia pada kesalehan pribadi dan sosial. Dalam pendidikan multikultural Indonesia, keduanya dapat dipahami sebagai nilai universal kemanusiaan yang menumbuhkan toleransi, empati, dan integritas moral.

Di sepanjang sejarah, manusia ideal inilah yang menjadi cerminan Tuhan dan penjaga Dharma yang membuat dunia bergerak dari kegelapan menuju cahaya. Dengan demikian, kedua konsep ini bukan hanya gagasan keagamaan, tetapi fondasi filsafat kemanusiaan yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan umat manusia. []

*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral Prodi IAK pada IMK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *