Kementerian Agama Menuju Indonesia Damai dan Maju

Oleh Lewa Karma

HARI Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia yang diperingati setiap 3 Januari adalah momentum reflektif untuk meneguhkan kembali komitmen pengabdian, pelayanan, dan pembangunan kehidupan beragama di Indonesia. Peringatan HAB Ke-80 Tahun 2026 memiliki makna historis sekaligus strategis.

Delapan dekade sudah Kementerian Agama mengemban amanat konstitusi untuk menjaga kerukunan, memastikan pelayanan keagamaan yang bermutu, dan memperkuat kontribusi agama bagi pembangunan nasional.

Tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” menjadi pesan kuat bahwa keberagaman Indonesia hanya dapat menjadi kekuatan ketika setiap umat berada dalam suasana harmonis serta pemerintah dan masyarakat bersinergi untuk membangun bangsa. Kerukunan bukanlah keadaan yang terjadi secara otomatis, melainkan hasil dari ikhtiar kebijakan, moderasi beragama, literasi, dan komitmen bersama.

Makna Tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”. Hal ini ditandai dengan umat rukun sebagai fondasi kehidupan berbangsa. Kerukunan umat merupakan syarat utama terciptanya persatuan nasional. Indonesia yang multikultural membutuhkan keteguhan nilai toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesediaan untuk membangun dialog.

Kerukunan bukan sekadar tidak bertengkar, tetapi mencakup tiga pilar, yaitu kerukunan internal umat beragama, kerukunan antarumat beragama dan kerukunan antara umat beragama dan pemerintah. Dengan kerukunan yang terpelihara, potensi konflik horizontal dapat diminimalisasi sehingga stabilitas sosial tetap terjaga.

Sinergi merupakan kolaborasi pemerintah bersama masyarakat dan tokoh agama. Sinergi berarti bekerja bersama secara terarah dan saling melengkapi. Dalam konteks pembangunan religius, sinergi mencakup banyak hal, yaitu (1) Kolaborasi kebijakan pusat dan daerah, (2) Partisipasi aktif organisasi keagamaan, (3) Pelibatan generasi muda dalam agenda moderasi beragama. Sinergi menciptakan efektivitas program, memperkuat kepercayaan publik, serta membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari pembangunan.

Indonesia damai dan maju sebagai tujuan akhir kebijakan keagamaan. Kedamaian dan kemajuan bangsa lahir dari stabilitas internal dan pembangunan yang berkelanjutan. Damai menciptakan ruang produktif; sementara maju menuntut inovasi, pendidikan bermutu, dan tata kelola pemerintahan yang bersih. Tema HAB 2026 menghubungkan religiusitas, harmoni sosial, dan pembangunan nasional secara integratif.

Relevansi Tema HAB ke-80 dengan Asta Cita Presiden merupakan delapan agenda prioritas nasional pemerintah untuk lima tahun ke depan. Tema HAB 2026 memiliki hubungan langsung dengan beberapa pilar Asta Cita berikut.

Penguatan demokrasi substantif dan toleran melalui jalan kerukunan umat menjadi prasyarat demokrasi yang dewasa. Kementerian Agama berperan menumbuhkan budaya politik toleran melalui pendidikan keagamaan, dialog lintas iman, dan moderasi beragama.

SDM yang unggul, sehat, berkarakter melalui madrasah, pesantren, pendidikan agama, dan literasi keagamaan, Kemenag berkontribusi membentuk generasi berkarakter sekaligus kompetitif, selaras dengan Asta Cita pembangunan SDM unggul.

Pemerintahan yang bersih dan efektif merupakan sinergi pemerintah dan masyarakat dalam penyelenggaraan layanan publik keagamaan mendukung agenda reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas layanan.

Pemerataan pembangunan dan pengentasan kemiskinan melalui program pemberdayaan umat, bantuan rumah ibadah, pemberdayaan ekonomi pesantren, dan optimalisasi zakat wakaf memiliki dampak langsung terhadap pemerataan dan kesejahteraan.

Kedaulatan budaya dan toleransi sosial melalui kerukunan dan moderasi beragama memperkuat jati diri bangsa yang majemuk, selaras dengan orientasi Asta Cita yang menempatkan kebudayaan dan toleransi sebagai pondasi ke-Indonesiaan.

Dengan demikian, tema HAB 2026 bukan hanya slogan keagamaan tetapi agenda pembangunan nasional yang memperkuat integrasi sosial, karakter kebangsaan, dan stabilitas nasional.

Relevansi tema HAB ke-80 dengan Asta Protas (Program Prioritas) Menteri Agama mencakup delapan agenda prioritas yang diarahkan untuk memperkuat tata kelola keagamaan, pendidikan, dan pelayanan publik. Tema “Umat Rukun dan Sinergi” sejalan dengan lima komponen Asta Protas berikut ini.

Pertama, penguatan moderasi beragama sebagai instrumen strategis menciptakan umat yang rukun dan toleran. Fokus Asta Protas pada literasi moderasi, resiliensi terhadap ekstremisme, dan pendidikan karakter beragama selaras dengan tema HAB.

Kedua, transformasi layanan keagamaan dengan sinergi dalam layanan publik, nikah, sertifikasi halal, penyuluhan agama untuk mewujudkan pelayanan yang makin mudah, cepat, dan profesional.

Ketiga, digitalisasi layanan dan Pendidikan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, transformasi digital pada madrasah, pesantren, PTKN, dan layanan masyarakat menjadi keniscayaan.

Keempat, peningkatan mutu madrasah dan pesantren dengan menekankan penguatan mutu lembaga pendidikan Islam, yang berdampak pada lahirnya generasi cerdas, moderat, dan berdaya saing global.

Kelima, penguatan ekosistem zakat, wakaf, dan ekonomi umat seiring dengan kerukunan sosial selalu terkait dengan keadilan ekonomi. Program pemberdayaan ekonomi umat mendukung tema “damai dan maju”.

Keenam, diplomasi dan kerja sama internasional dengan sinergi antarnegara, khususnya dalam penyelenggaraan produk halal untuk mendukung wisata halal, pendidikan Islam yang bertaraf dunia, dan dialog antaragama memperkuat citra Indonesia sebagai pusat moderasi dunia.

Dengan demikian, tema HAB ke-80 mempertegas implementasi Asta Protas Kemenag sebagai instrumen pembangunan keberagamaan yang inklusif dan profesional.

Tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” bukan sekadar ajakan moral, tetapi arah pembangunan bangsa yang menyatu dengan visi Asta Cita Presiden dan Asta Prota Menteri Agama. Ketika umat hidup dalam suasana rukun, ketika pemerintah dan masyarakat bersinergi, maka Indonesia akan terus melaju sebagai bangsa yang damai, berkarakter, dan bermartabat. []

*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral Prodi IAK pada IMK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *