Transformasi Digital dalam Perspektif Anak Indonesia Hebat, Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta

Oleh Lewa Karma

 

TRANSFORMASI digital pendidikan yang konkret melalui pengajaran coding, penerapan kecerdasan buatan atau artificial inteligent (AI), dan pengembangan web pembelajaran bukan sekadar modernisasi sarana. Ia merupakan perubahan sistemik yang memengaruhi tujuan, metode, dan hasil pendidikan.

Di Indonesia, gerakan pembiasaan nilai (misalnya, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat) dan munculnya gagasan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menuntut agar mengadaptasikan teknologi dengan tetap menghormati porsi pembentukan karakter.

Tulisan ini merangkai bukti empiris dan kajian teoretis terbaru untuk menunjukkan manfaat (teoritis dan praktis) transformasi digital berbasis coding dan AI sekaligus menjelaskan bagaimana integrasi itu selaras dengan kebiasaan positif anak, prinsip deep learning pedagogis, dan kurikulum berbasis cinta.

Mengapa coding dan AI masuk akal dalam kerangka pembelajaran modern?

1. Pengembangan berpikir komputasional sebagai literasi kognitif baru. Secara teoretis, coding melatih pola pikir algoritmik, dekomposisi masalah, abstraksi, dan debugging, keterampilan berpikir tingkat tinggi yang sejajar dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Hal ini memperluas konsep literasi dari membaca dan/atau menulis menjadi ‘literasi digital’ yang menjadi modal kognitif abad ke-21.

2. Personalisasi dan adaptivitas pembelajaran melalui AI. AI memungkinkan desain jalur belajar yang adaptif berdasarkan analisis performa siswa (personalized learning). Secara teoritis ini meningkatkan efisiensi instruksional karena intervensi dapat ditargetkan ke titik kesulitan spesifik. Namun, manfaat ini masih bersyarat pada kualitas data, model, dan pengawasan pedagogis.

3. Deep learning sebagai kerangka pedagogis (bukan hanya istilah ML). Dalam ranah pendidikan, deep learning pedagogis merujuk kepada pembelajaran bermakna, reflektif, dan berkelanjutan bukan sekadar menghafal. Integrasi teknologi yang benar seharusnya mendorong proses pembelajaran “mendalam” tersebut berupa transfer pengetahuan, refleksi metakognitif, dan penerapan lintas konteks. Dengan kata lain, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat deep learning humanistis, bukan menggantikannya.

Dampak langsung di kelas dan layanan pembelajaran dapat dilihat dari beberapa hal seperti berikut ini.

1. Peningkatan keterlibatan dan motivasi belajar (engagement). Pembelajaran berbasis web interaktif dan proyek coding menawarkan pengalaman belajar yang bersifat ‘membuat’ (maker-centered, sehingga meningkatkan motivasi intrinsik dan keterlibatan siswa—terutama bila pembelajaran bersifat kontekstual dan relevan.

2. Skalabilitas sumber belajar dan pemerataan akses (jika infrastrukturnya ada). Platform web dapat menyebarkan konten berkualitas ke daerah terpencil, memberi kesempatan latihan berbasis simulasi, dan menyediakan umpan balik otomatis. Ini mendukung layanan pembelajaran yang lebih merata bila pemerintah dan sekolah mengatasi kendala infrastruktur.

3. Diagnostik dan intervensi dini lewat analitik pembelajaran. AI maupun learning analytics membantu guru mendeteksi pola kesulitan murid (misalnya, miskonsepsi pada konsep dasar pemrograman), sehingga intervensi bisa lebih cepat dan terfokus. Hal ini menguatkan layanan pembelajaran yang responsif dan berbasis bukti.

Korelasi “Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” dengan sinergi nilai dan teknologi. Gerakan tujuh kebiasaan (bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, tidur cepat) bertujuan menanamkan kebiasaan sehat dan karakter sejak dini.

Integrasi coding dan AI dihadirkan agar dapat memperkuat mindset kekinian bukan menggantikan, sehingga kebiasaan ini harus dirancang selaras dan linier.

Pertama, Gemar belajar artinya pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) coding mendorong minat belajar yang berkelanjutan, cocok dengan kebiasaan “gemar belajar”. Platform web yang menarik dan berjenjang memperkuat praktik ini.

Kedua, Bermasyarakat dan nilai kolaborasi Dimana proyek pengembangan web atau aplikasi pembelajaran mendorong kerja kelompok, empati pengguna (user-centered design), dan tanggung jawab sosial—nilai yang sesuai dengan kebiasaan bermasyarakat.

Ketiga, Keseimbangan hidup dalam kurikulum dapat menggabungkan jadwal digital yang sehat (aturan penggunaan perangkat, jeda olahraga, tidur cukup) menegaskan bahwa transformasi digital harus mengedepankan kesejahteraan fisik dan mental anak sehingga gerakan 7 kebiasaan tetap terjaga.

Empat, Deep Learning (pedagogis) versus Deep Learning (Machine Learning, ML) bisa menjaga fokus pada pembelajaran manusiawi. Istilah deep learning memiliki dua makna, yaitu (a) teknik ML (neural networks) dan (b) gaya pembelajaran yang mendalam dan bermakna.

Untuk menjaga nilai dan karakter dapat menggunakan ML/AI (termasuk deep learning) untuk mendukung, bukan menggantikan proses manusiawi. Contoh praktis: model ML dapat memberi rekomendasi materi remedial, tetapi tugas penilaian karakter, diskusi etika, dan mentoring emosional harus tetap berada pada guru.

Karakter juga bisa dikuatkan melalui desain aktivitas yang memfasilitasi refleksi dan transfer misalnya setelah proyek coding, siswa diminta mempresentasikan dampak sosial karya mereka dan merefleksikan etika penggunaan teknologi. Ini memastikan pembelajaran “mendalam” terjadi.

Sementara Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan landasan normatif untuk integrasi teknologi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menekankan kemanusiaan, empati, inklusivitas, dan pengembangan holistik.

Mengintegrasikan coding dan AI dalam kerangka ini memerlukan banyak hal. Tujuan pembelajaran yang mencakup nilai semisal integritas digital, empati pengguna, tanggung jawab sosial. Sementara strategi pembelajaran yang humanis melalui proyek yang relevan dengan konteks lokal dan kebutuhan komunitas, bukan tugas abstrak semata.

Demikian juga kebijakan perlindungan anak dan literasi digital, sehingga penggunaan AI aman dan etis. Muatan kurikulum berbasis cinta menekankan aspek inklusif dan pembentukan nilai yang selaras dengan cara ini.

Dalam perjalanannya sangat mungkin muncul hambatan dan risiko, seperti berikut ini. (1) Kesenjangan akses dan infrastruktur: Tanpa konektivitas dan perangkat, transformasi digital dapat memperlebar kesenjangan. (2) Kualitas kapasitas guru yang perlu pelatihan berkelanjutan agar guru mampu menjadi learning designer digital sekaligus penjaga nilai. (3) Etika dan privasi dalam penggunaan AI memerlukan kebijakan privasi, literasi data, dan mitigasi bias algoritmik. (4) Risiko kecanduan dan trade-off terhadap waktu, sehingga terkesan tanpa aturan, penggunaan digital bisa mengganggu kebiasaan sehat (tidur, olahraga) yang dicanangkan gerakan 7 kebiasaan.

Dalam mengintegrasikan transformasi digital, kebiasaan anak Indonesia Hebat, deep learning dan KBC diperlukan rekomendasi agar implementasinya mampu mengharmonisasikan teknologi dan karakter.

Berikut ini opsi rekomendasi yang bisa diberikan dalam harmonisasi teknologi dan karakter.

1. Desain modul coding dan AI yang mengandung indikator nilai pada setiap proyek harus memiliki tujuan kognitif sekaligus tujuan karakter (mis. kolaborasi, integritas).

2. Menggunakan model blended learning berbasis proyek untuk mengkombinasikan sesi online (tutorial, latihan) dengan sesi tatap muka untuk mentoring karakter dan diskusi etika.

3. Perlu disertakan program pembiasaan 7 Kebiasaan dalam jadwal digital (seperti : pengingat jam istirahat, olahraga singkat antar-sesi).

4. Pelatihan guru terpadu dan teknis (seperti: coding/AI), pedagogis (desain tugas project-based dan deep learning), dan etika digital.

5. Kebijakan privasi dan penggunaan AI yang jelas: transparansi data, supervisi guru terhadap output AI, dan aturan anti-cheating.

6. Evaluasi holistik dengan menggunakan rubrik yang menilai kompetensi teknis sekaligus perkembangan karakter dan keterampilan metakognitif.

Secara teoritis dan praktis, coding, AI, dan web pembelajaran mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan dari literasi digital, personalisasi, sampai kesiapan kerja selama diimplementasikan dalam kerangka pedagogis yang menjunjung tinggi deep learning humanis dan nilai-nilai pembentukan karakter.

Dengan demikian, sinergi dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan Kurikulum Berbasis Cinta harus menyediakan landasan normatif agar digitalisasi pendidikan memperkuat, bukan melunturkan, pembentukan karakter anak. []

*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral Prodi IAK pada IMK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *