Oleh Lewa Karma
TRANSFORMASI digital di sektor pendidikan bukan sekadar memasang perangkat dan platform, melainkan proses menyeluruh yang merombak praktik pedagogis, organisasi madrasah/sekolah, dan kompetensi guru-murid agar relevan dengan tuntutan abad ke-21.
Di tengah gelombang teknologi, khususnya pengajaran coding dalam penerapan kecerdasan buatan yang dikenal dengan Artificial Inteligent (AI), dan penggunaan web pembelajaran.
Namun, muncul pertanyaan krusial bagaimana memastikan layanan pembelajaran menjadi lebih efektif tanpa mengorbankan pembentukan karakter dan nilai anak didik?
Beberapa kajian sistematik dan meta analisis menunjukkan dua temuan penting, di antaranya (1) integrasi pembelajaran berbasis coding dan computational thinking meningkatkan sikap positif siswa terhadap teknologi dan kemampuan problem solving; dan (2) model pembelajaran campuran (blended learning) atau yang memadukan online dan tatap muka cenderung menunjukkan hasil belajar yang setara atau sedikit lebih baik dibandingkan pembelajaran tradisional bila dirancang dengan baik.
Temuan ini didukung oleh meta-sintesis internasional tentang coding dan computational thinking, serta meta-analisis terkait efektivitas blended/online learning.
Disamping itu, terdapat tantangan etis dan pedagogis pada AI semisal persoalan privasi data, potensi penyalahgunaan (misuse/cheating), bias algoritmik, hingga risiko AI mengurangi pengembangan keterampilan fundamental bila dipakai tanpa pedagogi yang tepat. Oleh karena itu, integrasi AI butuh kebijakan etika dan literasi AI yang kuat.
Pendidikan karakter di era digital menegaskan bahwa teknologi tidak otomatis merusak nilai, namun tanpa strategi eksplisit, pendidikan karakter menjadi rentan. Oleh karena itu, model blended learning yang menyisipkan pendidikan nilai dan interaksi humanistik lebih unggul dalam menjaga pembentukan karakter.
Tujuan transformasi digital melalui coding, AI, dan web pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan literasi digital dan keterampilan abad 21 dengan membekali peserta didik dengan kompetensi teknis (coding, computational thinking) dan non-teknis (kolaborasi, kreativitas) yang dibutuhkan dunia kerja dan kehidupan.
2. Personalisasi pembelajaran dengan memanfaatkan AI untuk menyajikan jalur belajar yang adaptif sesuai kebutuhan dan kecepatan tiap siswa dengan tujuan menaikkan efektivitas belajar dan keterlibatan.
3. Aksesibilitas dan skalabilitas layanan pembelajaran dengan membuka akses sumber belajar berkualitas untuk komunitas luas, termasuk daerah terpencil jika disertai kebijakan infrastruktur dan pelatihan.
4. Penguatan kapabilitas guru dengan menjadikan guru sebagai desainer pengalaman belajar digital (learning designer), bukan hanya penyaji konten.
Manfaat utama bagi keberhasilan layanan pembelajaran dapat diamati melalui upaya berikut ini.
1. Peningkatan hasil belajar dan keterlibatan bila kegiatan dirancang sebagai blended model yang tepat, web pembelajaran dan materi coding meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil akademik.
2. Pengembangan literasi computational dan kesiapan kerja melalui pembelajaran coding dengan menanamkan pola pikir sistematis, pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir abstrak sesuai kompetensi yang diinginkan dunia kerja modern.
3. Efisiensi dan personalisasi melalui AI yang dapat mengotomasi umpan balik, mengidentifikasi kesulitan belajar, dan menyesuaikan materi dapat meningkatkan efektivitas intervensi. Namun manfaat ini hanya muncul bila kebijakan privasi, transparansi algoritma, dan supervisi guru dipastikan.
4. Skalabilitas sumber daya belajar melalui platform web yang memungkinkan berbagi sumber daya antar madrasah/sekolah dan komunitas guru, memperkecil kesenjangan akses jika didukung infrastruktur.
Dilain pihak diperlukan peran kunci pemangku kepentingan melalui berbagai pola di antaranya berikut ini.
1. Pendidik (guru sebagai fasilitator, perancang modul pembelajaran berbasis web/coding, dan penjaga etika penggunaan AI. Guru perlu pelatihan berkelanjutan agar mampu memadukan teknologi dengan strategi penguatan karakter.
2. Madrasah/sekolah dan pengelola manajemen pendidikan harus menyiapkan kebijakan, infrastruktur, dan support sistem termasuk pedoman penggunaan data dan integrasi pendidikan karakter dalam kurikulum digital.
3. Pembuat kebijakan dengan menetapkan regulasi privasi, standar etika AI, dan investasi infrastruktur agar transformasi tidak meninggalkan kelompok rentan.
4. Komunitas dan orang tua untuk membentuk ekosistem nilai di rumah dan sekolah agar pembelajaran digital tak melemahkan moral/karakter anak.
Upaya menjaga nilai dan karakter dalam era digital melalui prinsip dan praktik seperti berikut ini.
1. Integrasi eksplisit pendidikan karakter dimana setiap modul coding atau web-based activity harus menyertakan tujuan nilai (misalnya integritas digital, etika kolaborasi, tanggung jawab penggunaan data). Hal ini mencegah nilai menjadi “asumsi” yang terabaikan.
2. AI sebagai alat bantu, bukan pengganti penilaian otentik untuk feedback formatif, bukan untuk menggantikan tugas yang mengukur kompetensi inti. Dengan menetapkan kebijakan anti-cheating dan ajarkan literasi AI kepada siswa.
3. Model blended learning berorientasi hubungan dengan memastikan ada ruang tatap muka untuk mentoring karakter, diskusi etika, dan pembentukan empati melalui interaksi inilah yang menumbuhkan nilai riil.
4. Pengembangan profesional guru melalui pelatihan teknis termasuk pedagogis juga etika (coding dan AI literacy ditambahkan character pedagogy) harus berjalan bersamaan.
Dalam rangka transformasi digital Pendidikan diperlukan rekomendasi dalam mengimplementasikannya di madrasah/sekolah melalui : (1) penyusunan kurikulum micro-modules coding & AI literacy yang menyertakan learning outcomes nilai. (2) Menerapkan blended learning dengan rubrik penilaian otentik untuk mengecek keterampilan dan karakter. (3) Membuat kebijakan privasi dan pedoman penggunaan AI serta mekanisme deteksi/penanganan penyalahgunaan. (4) Memberikan investasi pada pelatihan guru melalui pedagogi digital dan literasi AI serta strategi pengajaran karakter.
Dengan demikian, transformasi digital menawarkan potensi besar untuk meningkatkan kualitas layanan Pendidikan. Mulai dari personalisasi hingga kesiapan kerja dengan diimbangi desain pedagogis yang sadar nilai. Keberhasilan bukan hanya soal teknologi, tapi praktik yang mengedepankan integritas, etika, dan penguatan karakter siswa.
Dengan kebijakan yang tepat, pelatihan guru, dan integrasi pendidikan karakter dalam setiap aspek pembelajaran digital, madrasah/sekolah dapat memetik manfaat transformasi tanpa kehilangan jati diri pendidikannya. []
*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral Prodi IAK pada IMK

