Pak Koster, Ucapan dan Tindakan (4)

Oleh Umar Ibnu Alkhatab

SEGERA setelah Pak Koster menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur Bali pada bulan September 2023, tugas saya sebagai anggota kelompok ahli Pemerintah Provinsi Bali pun berakhir. Saya kemudian mengirimkan ucapan terima kasih kepada Pak Koster atas kepercayaannya melalui nomor ponselnya. Ucapan terima kasih juga saya kirimkan kepada Sekretaris Daerah Provinsi Bali.

Beberapa saat berselang, Pak Koster menjawab bahwa beliau akan mengajak saya lagi untuk bergabung dengan kelompok ahlinya jika ia terpilih kembali menjadi Gubernur Bali untuk periode yang kedua. Saya dengan senang hati menjawab bahwa saya siap membantu jika dibutuhkan sembari mendoakan beliau agar tetap sehat.

Saya pun kemudian menulis sebuah artikel untuk menandai berakhirnya masa tugas Pak Koster dan Pak Cok Ace sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Periode 2018-2023. Dalam artikel itu, saya mencoba menguraikan torehan dan capaian yang mereka buat selama menjabat. Di antaranya adalah Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali Menuju Bali Era Baru, Undang-undang Nomor 15 Tahun 2023 Tentang Provinsi Bali, dan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125.

Meskipun tak lagi menjadi anggota kelompok ahli, saya tetap menulis pikiran-pikiran Pak Koster untuk kemudian saya kirimkan ke media yang bersedia memuatnya. Hampir setiap minggu tulisan saya tentang beliau dimuat oleh media. Tulisan itupun saya kirimkan kepada beliau juga, beliau menjawab bahwa tulisan tersebut bagus.

Pernah dalam sebuah perjumpaan, ketika Pak Koster masih menjabat, sebelum beliau menaiki mobilnya, ia memuji tulisan saya di hadapan beberapa pejabat. Saya tersenyum simpul, rupanya beliau suka dengan gaya tulisan saya.

Ada sebuah momen yang tak saya lupakan, ketika beliau dengan sumringah memuji tulisan saya yang berjudul “Memimpin Itu Menderita” yang memuat tentang resiko bagi siapa pun yang menyediakan dirinya sebagai pemimpin publik. Pak Koster kemudian bertanya bagaimana cara membaca “Leiden is Lijden” yang ada dalam tulisan tersebut, saya menjawab bahwa itu adalah pepatah Belanda yang pernah diucapkan oleh Agus Salim.

Saya pun kemudian menjelaskan cara membaca “leiden is lijden” untuk beliau. Momen itu terjadi pada saat saya datang ke rumah kontrakan beliau seusai tak lagi menjabat di tengah Kota Denpasar untuk bersilaturahmi.

Beliau gemar membaca, dan menurut informasi dari kalangan dekatnya bahwa ia selalu membaca berita dan opini di pagi hari sebelum memulai aktivitasnya. Sebagai penulis, tentu saya bahagia bahwa tulisan saya dibaca dan diapresiasi.

Tema-tema tulisan saya lebih berpusat pada pikiran dan tindakan Pak Koster, baik yang saya dengar dan lihat sendiri maupun yang saya baca di media, dan intensitas menulis makin sering saya lakukan ketika masa-masa kampanye pemilihan gubernur. Saya berusaha membantu beliau lewat tulisan agar apa yang beliau pikirkan dan lakukan bisa diketahui oleh publik luas.

Saya mengambil posisi untuk menulis pikiran dan tindakannya karena ternyata, seperti juga pengakuan Pak Koster, bahwa publik kurang mengetahui apa yang telah beliau perbuat untuk Bali.

Banyak pihak yang mengapresiasi tulisan-tulisan saya dan kemudian menyadari bahwa ternyata banyak juga yang telah dikerjakan Pak Koster demi nindihin gumi Bali. Pak Koster sendiri pun terus mendorong saya untuk menulis karena ia melihat bahwa tulisan itu akan mampu mengubah cara pandang orang terhadap sesuatu. Kadang beliau mengoreksi isi tulisan saya agar lebih mudah dipahami dan sesuai dengan realitas yang ada.

Saya pernah menulis tentang upaya beliau untuk menumbuhkan ekonomi lokal, saya memberinya judul “Kosternomics” yang mengungkapkan visi ekonomi beliau yang bertumpu pada keunggulan lokal. Beliau merespon tulisan itu dengan mengatakan bahwa apa yang saya tulis sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

Dalam masa kampanye, saya menulis untuk menggambarkan betapa Pak Koster memiliki visi yang bagus untuk membawa Bali maju lebih jauh lagi. Saya sendiri tidak menjadi tim sukses beliau, tetapi saya menulis untuk membantu beliau dalam menggapai keinginannya untuk kembali menjadi Gubernur Bali.

Dalam obrolan saya dengan beliau di rumah kontrakannya, beliau mengatakan bahwa tugasnya belum selesai dan ia ingin menuntaskan tugasnya itu di lima tahun kedua. Saya mencatat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus beliau rampungkan, misalnya proyek mercusuar Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung. Beliau menegaskan bahwa ia akan berupaya merampungkan itu, dan beliau menegaskan pula bahwa jika ia terpilih lagi maka ia akan menekan pedal gas lebih kuat lagi.

Beliau juga menyebutkan beberapa fokus yang harus ia kerjakan dalam periode keduanya jika terpilih yakni menuntaskan soal sampah dan kemacetan. Beliau tampak yakin akan menang, dan karena itu saya pun membantu beliau dengan menuliskan pikiran dan tindakannya. Kemampuan saya hanya sebatas itu, tidak pintar memobilisasi massa untuk mendukung beliau.

Akhirnya Pak Koster dan pasangannya memenangkan Pemilihan Gubernur Bali. Saya kemudian menulis opini untuk merayakan momen itu lewat tulisan “Koster-Giri, Duet Baru Pemimpin Bali” yang dirilis pada tanggal 21 Januari 2025 oleh sebuah media massa di Bali. Saya juga mengirimkan ucapan selamat lewat jaringan pribadi beliau.

Dengan kemenangan ini, niat Pak Koster untuk membangun Bali lebih maju terwujud. Berkat dukungan masyarakat, nama Pak Koster akan termuat dalam sejarah politik sebagai Gubernur Bali dengan masa kerja sepuluh tahun, tentu tidak mudah meraih impian itu. Banyak kasak-kusuk tentang tiket maju pemilihan gubernur, banyak pula fitnah dan bulian, tetapi beliau optimis bisa meraih tiket dan berhasil memenangkan kontestasi.

Dalam pidato kemenangannya, beliau mengatakan bahwa ia menjalankan semua visi dan misinya membangun Bali dengan penuh tanggung jawab. Demikian pula saat menyampaikan pidato perdananya sebagai gubernur di hadapan anggota DPRD Bali pada tanggal 4 Maret 2025, beliau menegaskan bahwa ia akan setia pada visi dan misinya yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Saya bersama beberapa tokoh diundang hadir untuk mendengarkan pidato perdana itu. Kehadiran saya dan sejumlah tokoh itu dikaitkan dengan lembaga kelompok ahli yang dibentuk Pak Koster, dan memang, beberapa minggu setelah pidato perdana itu, saya mendapatkan Surat Keputusan dari Pak Koster sebagai Gubernur Bali yang menegaskan masuknya saya ke dalam kelompok ahli bentukan beliau.

Saya kemudian mengingat kembali saat Pak Koster menyatakan bahwa ia akan mengajak saya lagi untuk membantu beliau dalam kelompok ahli, hampir satu tahun setengah lamanya kata-kata itu beliau ucapkan, tetapi beliau terus mengingatnya, dan kini saya telah bergabung dengan tim ahli yang ia bentuk.

Tentu saja ini sebuah kehormatan bagi saya, kehormatan dari orang yang setia dengan ucapannya, Pak Koster, wallahu a’alamu bish-shawab. []

Tabanan, 8 Desember 2025

*) Penulis adalah mantan Kepala Ombudsman RI Provinsi Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *