TUBUHNYA kecil. Wajah sudah keriput. Juga kulitnya. Rambut memutih, Namun, masih tampak kegesitan gerak tubuhnya.
Padahal usianya sudah kepala 7, tepatnya nenek ini sudah berusia 73 tahun pada 2024. Penglihatannya masih sempurna. Pendengarannya juga masih sangat baik. Bicaranya masih jelas. Otot dan tulangnya masih kuat.
Rukaiyah, itulah namanya. Biasanya dipanggil Ibu Kaiyah atau Nenek Kaiyah. Lahir di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Di Desa Pegayaman, ia dikenal sebagai spesialis pemanjat pohon. Pohon apa saja. Mulai pohon mangga, cengkeh, wani, bahkan pohon durian yang tinggi menjulang.

Ketika memanjat pohon, ia tak menggunakan alat bantu, semacam tangga atau yang lainnya. Tubuhnya tampak ringan meniti ranting demi ranting pohon. Pada usia 73 tahun saja, ia begitu gesit dan cekatan memanjat pohon cengkeh. Bisa dibayangkan bagaimana ketika mudanya.
Karena itu, warga menyebut Nenek Kaiyah ‘sakti’. Ada juga yang menduga, perempuan yang pernah merantau ke Sulawesi ini menggunakan ilmu pengampang-ampang atau peringan tubuh. Tubuhnya begitu ringan meliuk-liuk di sela-sela ranting pohon. Tangan dan kakinya begitu cekatan memegang dan meniti ranting-ranting pohon.
Seperti yang terlihat pada Selasa (11/6/2024) di kebun cengkeh di belakang Pondok Pesantren Al Amin Desa Pegayaman. Siang itu, Nenek Kaiyah sedang melakukan petik cengkeh. Memakai baju dan celana selaras dengan motif daun, Nenek Kaiyah sudah memulai memanjat pohon cengkeh pukul 07.00 Wita.

Ia membawa satu kampil, dengan tali pengikatnya, dan kawat pengait. Sat set sat set, Nenek Kaiyah memanjat pohon cengkeh. Sesampai di atas pohon, di ketinggian sekitar 4-5 meter, tangan mungil Nenek Kaiyah dengan lincah memetik bunga-bunga cengkeh. Kalau penglihatannya tidak sempurna bagaimana mungkin Nenek Kaiyah bisa melihat bunga-bunga cengkeh yang kecil itu.
Kalau tulang dan ototnya tidak kuat, bagaimana mungkin Nenek Kaiyah bisa berdiri di atas pohon cengkeh berjam-jam, sambil pindah dari satu ranting ke ranting lainnya untuk memetik bunga-bunga cengkeh berikutnya.
“Saya kehabisan kata-kata,” kata Bayu Wirahandian, wartawan RRI Singaraja saat menyaksikan Nenek Kaiyah memanjat pohon cengkeh dan memetik bunga-bunganya pada Selasa siang itu. “Saya yang masih muda saja tidak berani. Ranting-ranting pohon cengkeh ini kecil-kecil. Apa nggak takut patah dan jatuh.”
Nenek Kaiyah hanya tersenyum mendengar itu. Bagi Nenek Kaiyah naik pohon cengkeh tentu sangat mudah. Apalagi ranting-ranting pohon cengkeh sangat banyak, sehingga mudah kakinya menumpu dan tangannya berpegangan.

Karena Nenek Kaiyah tak hanya ‘berani’ memanjat pohon cengkeh. Ia, ketika masih muda, biasa memanjat pohon wani, mangga, kelapa, dan durian. Ketika ikut transmigrasi ke Kendari, Sulawesi, Nenek Kaiyah bahkan biasa memanjat pohon pinang. Untuk memetik biji-biji pinang.
Keahlian atau tepatnya keberaniannya memanjat pohon dimulai Nenek Kaiyah pada usia 15 tahun. Sebagai anak yatim piatu, karena bapak dan ibunya meninggal dunia saat Nenek Kaiyah umur 9 tahun, ia harus menyambung hidup. Ia harus mencari nafkah sendiri.
Karena itu, Nenek Kaiyah rela ‘bekerja’ dengan memanjat pohon untuk mendapatkan upah. Apakah itu pohon mangga, wani, durian, dan lain-lainnya. Ketika banyak warga Pegayaman menanam cengkeh, Nenek Kaiyah pun juga bekerja memetik bunga cengkeh. Dan ia harus memanjat pohon cengkeh seperti para laki-laki warga Pegayaman pemetik cengkeh.
Saat ini upah memetik cengkeh di pohon sebesar Rp 5.000 per kilogramnya. Sementara untuk memungut cengkeh yang jatuh di tanah, yang disebut dengan ngorek, upahnya Rp 15.000 per kilogramnya.

Apakah ada persiapan khusus atau doa khusus yang dilakukan Nenek Kaiyah saat naik pohon cengkeh? “Tidak ada. Ya baca bismillah dan sholawat saja,” jawab Nenek Kaiyah.
Toh sebagai manusia, tak selamanya Nasib Nenek Kaiyah mujur saat memanjat pohon. Ia mengaku dua kali jatuh dari pohon. “Alhamdulillah saya masih disayang Allah, sehingga sehat kembali,” tutur ibu dua anak ini.
Nenek Kaiyah juga mengisahkan bagaimana dia pernah sempat panik ketika naik pohon durian. Sebab, di pohon durian tersebut penuh dengan tabuan (tawon). Tapi ia bersyukur tidak terjadi apa-apa.
Kini, karena usia yang sudah sepuh, Nenek Kaiyah hanya mampu memetik bunga cengkeh sekitar 15 kilogram setiap harinya. Padahal ketika masih muda, ia mampu memetik bunga-bunga cengkeh hingga 50 kilogram.
Lantas apa rahasia hidup dari Nenek Kaiyah hingga tetap sehat di usia 73 tahun dan masih kuat memanjat pohon cengkeh? “Ya hidup tenang. Makan seperti biasa, nasi dan sayur-sayuran. Yang penting, terus bergerak, dan memanjat pohon,” katanya. (bs)

