DENPASAR – Ketua Umum ICMI yang juga Rektor Insitut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Arif Satria, mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung residu pestisida akan menyebabkan penurunan hormon maskulin (kelelakian). Karena itu, disarankan agar makanan yang kita konsumsi sebaiknya dari pertanian organik yang bebas pestisida.
“Kalau kita makan buah-buahan atau sayuran, yang masih ada residu pestisida itu akan berdampak pada hormon maskulin (kelelakian). Jadi mengonsumsi makanan yang masih mengandung residu pestisida akan membuat hormon maskulin menurun, sementara hormon feminim akan meningkat,” kata Prof. Arif saat memberikan sambutan pada acara Pelantikan Pengurus ICMI Orwil Bali di Kampus ITB Stikom Bali, Denpasar, Minggu (2/6/2024).
Menurut Prof. Arif Satria, makanya jangan heran kalau sekarang banyak laki-laki yang “melambai” (lelaki yang mempunyai prilaku keperempuan-perempuan-red). “Itu bukan karena gaya-gayaan. Bukan. Tapi itu karena dampak dari mengonsumsi sayuran, buah-buahan atau makanan yang masih mengandung residu pestisida,” ujarnya.
Dikatakan, pola makan sangat menentukan tingkah laku orang. Termasuk akan menentukan bagaimana manusia hidup, dan menentukan masa depannya.
Oleh karena itu, kata dia, cara bertani pun harus mulai berubah untuk menyediakan makanan yang aman dan sehat. Solusi yang bisa ditawarkan adalah dengan sistem pertanian organik. Sistem pertanian organik akan menyelamatkan bumi, dan menyelamatkan generasi kita mendatang.
Prof. Arif Satria mengapresiasi kebijakan Pemprov Bali untuk membawa Bali sebagai provinsi organik. Ini akan memiliki implikasi yang luar biasa. “Saya yakin akan memiliki dampak yang besar bagi masyarakat Bali. Demi keselamatan masyarakat Bali,” katanya.
Organic farming (pertanian organik), kata dia, tidak hanya menyangkut soal climate change (perubahan iklim), tetapi juga akan menjamin keselamatan manusia. Menurutnya, problem pangan di Indonesia salah satu indikasinya Global Food Security Index-nya yang rendah. Salah satunya disebabkan faktor quality dan safety. Soal food safety. “Kita mulai kurang aware soal keamanan,” jelasnya.
Ditegaskan Prof. Arif Satria, dengan organic farming, akan membuat keamanan pangan Indonesia meningkat, dan keselamatan manusia Indonesia di masa depan juga semakin meningkat. “Jadi kalau bapak-ibu sekarang mau makan, cek dulu, makanan itu organik atau tidak. Ada peptisidanya atau tidak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di Jawa Barat, ada beberapa petani yang memproduksi cabe. Petani tersebut mengekspor cabe ke Jepang. Namun, cabe tersebut ditolak oleh Jepang. Sebab, dalam cabe tersebut ada residu pestisida.
“Karena itu, beberapa dosen IPB kemudian mengambil langkah untuk melakukan riset, bagaimana menghilangkan residu pestisida. Dengan menggunakan teknologi fine bubble. Dengan teknologi nano kita bisa membersihkan cabe yang mengandung pestisida sampai bersih. Kalau dicuci pakai air biasa tidak mungkin. Apalagi pakai rinso, lebih bahaya lagi. Harus pakai teknologi nano. Fine Bubble,” ujar Prof. Arif Satria.
Rektor IPB juga mengingatkan bahwa perubahan iklim sudah mengancam kehidupan. Perubahan iklim sudah menuntut kita untuk mengubah cara hidup kita. Cara kita menjalani kehidupan ekonomi, cara kita bermasyarakat, dan sebagainya.
“Perubahan iklim juga sudah berdampak pada pertanian yang sangat serius. Jadi setiap peningkatan suhu 1 derajat menyebabkan penurunan produktivitas 10 persen,” tandasnya.
Prof. Arif Satria, memberi contoh soal kebiasaan minum kopi. Menurutnya, kopi itu diperkirakan kalau perubahan iklim tidak dimitigasi, maka kopi ini akan mulai hilang di dunia ini pada 2080. “Jadi cicit-cicit kita tidak akan lagi bisa melihat dan merasakan kopi. Karena perubahan iklim,” katanya. (bs)
Foto: Dokumen ICMI Orwil Bali

