Ancaman Revolusi Teknologi Bagi Masa Depan Kehidupan Manusia Versi Rektor IPB

DENPASAR – Revolusi teknologi belakangan semakin luar biasa. Revolusi biologi dan IT (teknologi informasi) sekarang sudah bersatu yang menghasilkan sesuatu yang sangat dahsyat. Memang semua itu membuat manusia semakin maju, namun juga ancaman tantangan serius bagi manusia, terutama bagi nasib agama, etika dan moral.

Pada pidatonya saat acara Pelantikan Pengurus dan Rapat Kerja ICMI Orwil Bali, di Kampus Stikom Bali, Denpasar, Minggu (2/6/2024), Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat (MPP) ICMI, Prof. Dr. Arif Satria, memaparkan, perkembangan revolusi teknologi dan kemungkinan dampak positif dan negatifnya.

“AI (Artificial Intelligent-red) semakin berkembang. Di Cina, misalnya, petugas di sana bisa berkomunikasi dengan bahasa apa saja. Komputer membantunya menerjemahkan bahasa orang saat itu juga. Kita bicara bahasa Indonesia akan terkonversi menjadi bahasa Cina saat itu juga,” paparnya.

Yang lebih canggih lagi, kata Prof. Arif Satria, nanti ada alat yang bisa menerjemahkan kemauan orang. “Misalnya kalau saya bertemu dengan Pak Koster pakai alat itu. Saya pakai bahasa Jawa, Pak Koster pakai bahasa Bali. Tapi kita tidak bicara. Misalnya Pak Koster jual pizza, saya mau beli. Terus saya datang menatap Pak Koster. 10 detik. Beliau tahu apa yang saya mau. Pizza topingnya tuna, pakai cumi, pakai saos, matangnya setengah, dsb. Dalam 10 detik. Pak Koster balik badan. Langsung menyiapkan apa yang saya mau. Tanpa berbicara sedikitpun,” jelasnya.

Menurutnya, kalau selama ini hal semacam itu pasti dikatakan dukun telepati. Tetapi, kata dia, dengan perkembangan sains dan teknologi IT, hal seperti itu sangat memungkinkan.

Dipaparkan juga, sekarang berkembang teknologi dari bio-machine, bio-robotic menjadi bio computing. Dalam bio computing yang terbaru, ungkap Prof. Arif Satria, nanti DNA akan menjadi sumber penyimpanan data.

“Sekarang kan kalau kita menyimpan data di flashdisk, di hard disk, di cloud, dan lain-lain. Ke depan kita akan menyimpan data di DNA. Nyimpan data di pohon semangka, nyimpan data di pohon pisang. DNA menjadi sumber penyimpanan data. Ini riset sedang berlangsung,” katanya.

Jadi, kata dia, revolusi biologi dan teknologi IT sekarang sudah bersatu, dan hasilnya sangat dahsyat, yang membuat manusia semakin maju.

Berikutnya, ungkap Rektor IPB Bogor ini, sekarang juga sedang dilakukan riset, bagaimana memvisualisasikan mimpi. “Jadi kalau Pak Dadang (Rektor ITB Stikom Bali, Dr. Dadang Hermawan-red) malam Jumat tidur, dipasang alat, dan alatnya terkoneksi ke TV, maka mimpi apa Pak Dadang akan tergambar di TV itu,” katanya.

Menurutnya, dunia akan semakin transparan. Kalau saat ini orang bisa melihat apa yang dipikirkan seseorang lewat yang diucapkan atau yang ditulis, ke depan orang bisa membaca pikiran orang lain lewat sebuah alat. Jadi, walaupun orang itu tidak bicara, tidak menulis, tapi apa yang ada di pikirannya bisa ditangkap oleh alat ini.

“Jadi misalnya saya membayangkan tentang gambar Garuda Wisnu. Apa yang saya bayangkan atau pikirkan itu bisa saya print. Jadi nanti imaginasi bisa kita print,” tambahnya.

Di bidang pendidikan, menurut Prof. Arif Satria, ancaman revolusi teknologi bisa lebih parah lagi. Berdasarkan hasil survei terbaru, kata dia, menunjukkan bahwa ternyata skill yang dimiliki seseorang, dalam waktu lima tahun hanya bertahan 60 persen. Jadi kalau dosen memberikan kuliah untuk mahasiswa baru pada tahun pertama, sehingga mahasiswa punya kompetensi. Ketika mahasiswa itu lulus, apa yang diajarkan oleh dosen itu yang relevan tinggal 60 persen. Yang 40 persen sudah tidak relevan lagi.

Dikatakan, kebutuhan terhadap skill baru terus berkembang. Kalau lembaga pendidikan (perguruan tinggi) tidak selalu meng-update perkembangan, dia akan menjadi dinosauros. Lembaga atau dosen itu akan punah karena tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan. Karena dia tidak bisa belajar cepat.

“Sekarang dunia pendidikan harus melahirkan sosok-sosok yang mempunyai mental seorang pembelajar. Karena tanpa mental pembelajar, mereka tidak bisa beradaptasi. Kita hari ini belajar X, begitu lulus sudah Z. Sudah berubah,” jelasnya.

Prof. Arif Satria juga memaparkan, bahwa perusahaan-perusahaan masa depan sangat memperhatikan sertifikasi kompetensi. Google sekarang melakukan apa yang disebut kegiatan Google Career Certificate. Mahasiswa bisa ikut 6 bulan, dan akan dididik oleh Google, dengan kurikulum yang cocok untuk perusahaan-perusahaan masa depan.

“Sementara kampus, dosen-dosennya masih pakai diklat tahun 1990-an. Tahun 2000-an, yang sama sekali tidak relevan dengan kebutuhan masa depan,” katanya. Selain itu, kata dia, ke depan mahasiswa akan menentukan kurikulumnya sendiri. Karena mahasiswa lebih tahu tentang masa depannya, tentang careering planning-nya.

Coba bayangkan, misalnya di satu perguruan tinggi, 50 persen mahasiswa ikut sertifikasi kompetensi online. Sertifikat itu lebih berharga dari sekadar ijazah. “Ini survei. CEO-CEO perusahaan-perusahaan masa depan lebih percaya dengan serifikasi kompetensi daripada ijazah. Itu hasil survei,” ujar Prof. Arif Satria.

Jadi jika mahasiswa melakukan semua itu, lalu apa yang harus dikerjakan dosen di kampus? Kelas bisa kosong. “Jadi peran dosen akan berubah. Dosen tidak lagi sebagai sumber pengetahuan. Dosen ke depan bisa menjadi motivator, fasilitator, inspirator. Harus punya riset. Bukan lagi seperti zaman dulu,” katanya.

Prof. Arif Satria berharap, ICMI termasuk ICMI Orwil Bali harus benar-benar mencermati tantangan-tantangan tersebut. ICMI harus mencermati situasi-situasi baru yang luar biasa, yang diakselerasi dengan adanya revolusi teknologi 4.0.

“ICMI Bali kami harap, menjadi sumber insprasi, menjadi pengawal bangsa kita dalam menjawab tantangan-tantangan yang begitu dahsyat tersebut. Dan tidak semua orang paham akan tantangan ini,” tegasnya.

Menurutnya, ia menyampaikan hal itu tidak untuk menakut-nakuti, tapi bagaimana tantangan itu yang harus diterjemahkan dalam langkah-langkah ke depan. Langkah-langkah tersebut harus betul-betul disiapkan. ICMI tidak bisa sendiri, harus menggandeng MUI, FKUB, Gubernur, Bupati, Walikota, dan ormas-ormas lainnya.

Misalnya, bagaimana menempatkan peran agama, bagaimana kerangka etika dan moralnya menghadapi tantangan revolusi teknologi tersebut. Menurutnya, apa yang dihadapi umat Islam sama dengan apa yang dihadapi umat Hindu, Katolik, Kristen, umat Budha. Yakni revolusi teknologi yang jika tidak dikendalikan bisa berdampak pada masa depan kehdupan umat manusia.

“Inilah titik penting buat ICMI, menjadi mitra bagi FKUB, ormas Hindu, ormas Katolik, ormas Kristen, ormas Budha, dan lain-lain untuk duduk bersama memikirkan bahwa bagaimana tantangan yang kita hadapi. Ini bukan tantangan masing-masing agama, tetapi ini tantangan umat manusia, di mana orang-orang atau tokoh-tokoh agama harus berkumpul, memberi kontribusi, menyatukan langkah yang kita hadapi adalah fakta. Yang kita hadapi adalah tantangan riil, yakni kemajuan teknologi yang sudah luar biasa,” tegasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *