- Catatan Eka Sabara
SENI burdah masih tetap eksis keberadaannya di Loloan Barat dan Air Kuning di tengah perkembangan zaman. Sedangkan di Desa Pengambengan yang khas dengan Burdah Angguk sudah mulai punah.
Padahal, burdah dulunya sering dipertunjukkan di acara-acara tradisi di guyup Bugis Melayu di wilayah Kabupaten Jembrana, Bali. Seni burdah ini juga menjadi bagian dari sejarah masuknya komunitas Bugis-Makassar dan Melayu ke Jembrana.
Ada beberapa jenis seni burdah yang dahulu sempat semarak di Jembrana. Misalnya Burdah Grubuk dari Desa Air Kuning, Burdah Angguk dari Desa Pengambengan dan Burdah Mesair-Mekayat.
Namun, saat ini hanya burdah Mesair-Mekayat yang masih dipertahankan dan dilestarikan di Kelurahan Loloan Barat. Di kelurahan ini masih terdapat perkumpulan burdah. Sebagian besar anggotanya sudah berusia di atas 50 tahunan. Para anggotanya terlihat aktif melatih generasi muda dalam bermain seni burdah.

Bang Yik Man, panggilan untuk Sayyid Usman Al Qadri, dengan telaten memimpin perkumpulan Burdah Loloan bernama Perkumpulan Burdah Mujahidin Loloan Barat. Bang Yik Man adalah generasi keenam keturunan Syarif Tua, tokoh pendiri Loloan.
Burdah Loloan ini sangat unik karena tetap eksis. Mereka bahkan mengkader generasi muda untuk ikut berlatih seni gendang burdah dan rebana di Kelurahan Loloan Barat. Saat ini tokoh Loloan Barat yang giat melestarikan kesenian burdah, yaitu Ustad Moh. Idris. Beliau inten melatih para generasi muda bermain burdah.
Di tengah perkembangan irama kesenian saat ini, para generasi muda terpanggil untuk ikut berlatih dan melestarikan kesenian Burdah Mesair-Mekayat khas Loloan Barat ini. Saya mencoba mengupas seni burdah Loloan karena bernilai filosofi dan historis. Dan juga untuk menambah wawasan tentang kesenian burdah yang sangat jarang sekali didengar maupun diminati para generasi muda.
Burdah Loloan khas karena memiliki makna mesair mekayat, sebuah seni pembacaan syair-syair yang dapat menambah nilai-nilai filosofi keimanan seseorang yang mendengarkan. Mekayat merupakan seni pembacaan hikayat para pendahulu di masa keemasan.

Tujuannya agar calon jabang bayi yang akan dilahirkan mempunyai sifat-sifat para pahlawan pendahulu. Sifat sholeh serta arif bijaksana, bila bayinya laki-laki. Jika bayi perempuan agar menjadi sholehah dan beriman kelak saat tumbuh dewasa.
Dahulu, ketika resah gelisah dan khawatir akan nasib anak keturunannya, maka para sesepuh warga Bugis Melayu Loloan memainkan Burdah Mesair-Mekayat. Bagi yang mendengarkan pun hatinya menjadi tentram dan damai.
Situasi Sulit
Pada awal masuknya di Bali Barat, orang Bugis-Makassar dan Melayu menghadapi banyak situasi sulit. Di satu sisi mereka harus melawan penjajah, di sisi lain juga sebagai pasukan inti Kerajaan Jembrana yang mengharuskan berada di posisi terdepan dalam membela Kerajaan Jembrana dari serangan kerajaan lain.
Sebelum terjun ke pertempuran, para prajurit Bugis Makassar Melayu Loloan memainkan Burdah Mesair-Mekayat pada malam hari. Tujuannya untuk menambah semangat serta memberikan kekuatan dalam menghadapi peperangan tersebut.
Perkembangan selanjutnya seni Burdah Mesair Mekayat dirangkai dalam bentuk ekspresi pembacaan qasidah. Bacaannya syair-syair burdah yang terdapat dalam kitab Al Barzanji. Pembacaan itu diiringi dengan menabuh rebana ukuran besar.
Rebana ini berbentuk lingkaran kulit. Diameternya 50 cm dengan pelapis sisi dari bahan kayu. Seni burdah dimainkan dengan 10 orang sampai 12 orang, dengan membaca kitab Al Barzanji secara bergiliran.
Kata burdah sendiri merupakan kata serapan dalam bahasa Arab yang berarti selimut. Asal kata sebenarnya adalah bardan yang berarti dingin. Karena dingin maka haruslah berselimut.
Isinya adalah sholawat dan syair yang memuji keagungan serta kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Seni burdah merupakan suatu qasidah yang berisi syair tentang pujian kepada Nabi Muhammad. Syair-syair burdah diciptakan oleh Imam al Busyiri dari Mesir.
Burdah Loloan di masa lampau dilakukan dengan tetabuhan rebana sambil mesair mekayat. Yang memainkan para datuk-datuk sesepuh Loloan.

Menghibur Diri
Menabuh rebana pada awalnya bukan untuk menghibur diri. Ada hikmah tersendiri. Hentakan irama tetabuhan rebana diharapkan dapat menggugah semangat pendengar dan penonton dari pembacaan syair-syair tentang riwayat para pahlawan yang gugur membela panji-panji agama.
Pelestarian seni burdah antara lain dilakukan pada saat ngelenggang, prosesi selamatan kandungan yang telah berusia tujuh bulan. Prosesi ini dilaksanakan dengan posisi menidurkan sang ibu yang sedang hamil di atas geladak lantai rumah panggung. Tidak boleh di tempat tidur atau kasur. Hanya beralaskan selembar kain.
Seluruh tubuh diluluri boreh pada malam hari bersama dengan suaminya. Pada esok harinya sepasang suami istri dimandikan dengan air kembang tujuh rupa oleh sanak keluarganya. Keseluruhan prosesi ini diiringi oleh tabuha rebana dibacakan burdah dengan syair-syair. Antara lain Parsi, Pa’antah, Rabbuna, Sultan Pahang (pa’ang), Sultan Ma’alaf, Cik Pekih, Angin-angin, Sri Goyang, Tarikh Banyuwangi, Cokkean, Masruh Mambang.
Syair-syair yang dibacakan pada saat ngelenggang selain Al-Burdah (Burdah Barzanji) juga syair Parsi. Syair burdah dengan irama tetabuhan rebana adalah cikal bakal media kesenian budaya yang bernapaskan Islam di wilayah Jembrana.
Hingga saat ini yang masih terus mencoba bertahan dari arus zaman. Saat ini eksis dan berkembang di Kelurahan Loloan Barat. Ada yang unik. Dahulu alat burdah diberikan warna untuk menandai ciri khas. Burdah Loloan, gendangnya diwarnai hijau, Burdah Air Kuning diwarnai Kuning, Burdah Pengambengan terkenal dahulu bernama Burdah Angguk dengan warna gendang biru. Ciri khasnya para pemain menganggukkan kepala dengan serentak di awal nada pembukaan. []
*) Penulis adalah Budayawan dari Loloan Barat

