Mangku Inten Terbang ke Bulan

  • Esai Sejarah dr. Soegianto Sastrodiwiryo

BERITA ini cepat menyebar di kota Buleleng, tapi karena orang-orang Buleleng yang kritis dan tidak cepat percaya, berita itu disebut sebagai hoaks dan tak masuk di akal.

Anehnya anak-anak sebaya Dolok dari banjar-banjar di kotak lengkungan jembatan Singa walau ragu-ragu tapi sangat ingin membuktikan berita menarik itu.

Mangku Inten hanyalah seorang tukang cukur yang mangkal tetap di bawah pohon beringin depan Puri Anyar. Dia dikenal dengan perilakunya yang aneh-aneh.

Misalnya saat bersepeda ke  Pabean (Pelabuhan Buleleng-red), Mangku Inten sejak dari zaman Belanda dari atas meluncur ke bawah dengan lepas tangan. Anak-anak muda yang melihatnya bertepuk tangan riuh. Dan Mangku Inten makin menjadi-jadi mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi, makin banyak tepuk tangan, ia semakin menggila meluncur ke Pabean yang jaraknya makin lama makin merendah.

Tapi kini beredar berita sangat aneh, ia akan terbang ke bulan saat Purnama Kapat, makin menjadikannya lebih aneh dan menarik. Hampir seluruh banjar di kota Singaraja telah mendengar berita ini. Boleh dibilang tiap banjar mengirimkan rata-rata 20 anak-anak muda ke malam Purnama itu. Tempat, waktu, dan lokasinya jelas.

Mangku Inten akan memanjat jembatan buatan Belanda yang menghubungkan Kota Singaraja dengan Kampung Tinggi. Mangku Inten akan duduk bersila di puncak jembatan yang kuat itu.

Tampak tak masuk di akal. Semua orang sangat khawatir akan bencana yang bisa terjadi. Mangku Inten tak akan ditemani siapapun kecuali sebuah sepeda butut yang disayanginya.

Toko Eng Hwa bermurah hati menyediakan tempat duduk bagi anak-anak dua puluh banjar yang ingin nonton. Dihitung ada paling tidak empat ratus orang anak-anak muda yang ingin menyaksikan.

Bos Toko Eng Hwa sendiri amat tertarik dengan pertunjukan keberanian ini walaupun dalam hati kurang percaya. Dia menyuruh Putu Lecong, anak angkatnya, untuk bergabung dengan anak-anak muda itu dan melaporkan perkembangan.

Jam 7 malam terdengar tepuk tangan gemuruh dari sekitar jembatan. Rupanya Mangku Inten sudah datang dengan membawa banten dan dua buah Lontar Ongkara Madu Muka dan Ongkara Pasah. Mangku Inten meletakkan dua onggok pedupaan di ujung barat dan timur jembatan.

Anak-anak Mumbul datang dipimpin Ang Cin Yen, diikuti Mustopo, Paimin, Boadi, Prapto, Dolok dan lain-lain. Ternyata Said Parentah ikut juga, ia penasaran sekali.

Mungkinkah seorang anak manusia bisa terbang ke bulan hanya dengan membaca mantram?

Jam 08.00 lama terdengar suara kulkul menandai Mangku Inten mulai memanjat lengkungan. Ia naik ke atas jembatan dengan amat cepat dan orang-orang kagum hampir tak percaya.

Aturan yang harus ditaati adalah tak diijinkan bertepuk tangan mengganggu konsentrasi Mangku Inten. Semua orang menaati.

Tapi ada juga beberapa orang Opas Polisi yang ikut menjaga keamanan. Sesampai di puncak jembatan, Mangku Inten langsung duduk bersila dengan kedua kakinya menggelantung ke utara.

Orang-orang khawatir sekali ia akan terjatuh. Tapi tak terjadi apa-apa. Sayup-sayup terdengar suara Mantram Ongkara diiringi kepulan asap yang membubung ke angkasa. Hampir tak ada angin.

Suasana seperti kena sirep. Tenang dan menegangkan. Tak sampai lima menit terdengar suara letusan dari atas, diikuti sinar yang melesat ke angkasa.

Semua orang menahan nafas. Satu orang yang membawa teropong mencoba melihat posisi Mangku Inten. Tak terlihat apa-apa kecuali sisa banten dan seonggok dupa yang masih menyala. Mangku Inten entah kemana. Orang-orang sangat khawatir dia tercebur ke muara sungai. Namun sinar yang melesat dari jembatan masih bisa diikuti sampai makin lama makin mengecil lalu hilang di langit malam.

Sampai hampir pagi ke-400 orang penonton itu berkumpul sekitar jembatan, namun hampir subuh mereka semua pulang ke rumah masing-masing.

Mangku Inten telah mengangkat keponakannya yang cantik, Rencina, sebagai sekretaris buat segala urusan tentang kepergiannya ke rembulan. Karena dipastikan dalam beberapa bulan kedepan sebelum Mangku Inten bisa mendarat ke bumi akan terdapat banyak pihak yang ingin tahu perkembangan Mangku Inten selama bepergian.

Paling tidak ada empat ratus anak-anak muda di kota Singa yang berkepentingan tahu. Belum lagi para wartawan lokal di Bali, para Balian Pemangku dan semua langganan cukur dari Mangku Inten. Mereka semua harap-harap cemas akan berita dari rembulan sejak Sasih Kapat yang lewat.

Bulan-bulan sejak Sasih Kapat dipenuhi oleh antrean para pengagum Mangku Inten. Mereka datang berbondong-bondong ke rumah Mangku Inten dan cuma dilayani oleh sekretarisnya, Rencina.

“Saudara-saudara saya tidak akan bisa menjawab cerita Mangku Inten di tanah Rembulan sebelum beliau tiba di rumah di bulan Bhadrawada atau bulan Agustus.”

“Ya lama sekali hampir satu tahun, semoga beliau tetap selamat,” ujar seorang pengagum.

Di antara para pemerhati Mangku Inten paling tidak ada dua orang asal Mumbul yang makin gelisah saja. Mereka adalah Dolok dan Boadi, dua sahabat yang memiliki keinginan yang amat kuat buat ikut mengunjungi rembulan.

Namun Mangku Inten telah menitipkan pesan buat Rencina agar disampaikan pada dua anak Mumbul itu bila keinginannya begitu kuat untuk ikut ke rembulan agar menghubungi Mpungku Ri Jatasura di Padepokan Yeh Tipat di puncak.

Karena Mpungku Ri Manasa yang hidup di abad kesebelas dan masih menyimpan mantram-mantram untuk pergi menembus angkasa luar.

Sayang sekali saat dikunjungi Dolok dan Boadi Mpungku Jatasura telah wafat. Dengan demikian keduanya harus menunggu kedatangan Mangku Inten hampir setahun lagi. Keduanya bersabar.

Ada yang harus disiapkan oleh Rencina untuk mencatat para penggemar yang ingin benar berdialog dengan Mangku Inten.

Dolok dan Boadi sempat juga pergi ke Sangsit ke Pura Manasa untuk menjejak sisa keturunan Mpungku Ri Manasa tapi ternyata tak seorangpun tahu. Bahkan seorang pelukis Suma Bhargawa yang banyak tahu masa lalu Sangsit tidak bisa menjawabnya oleh karena pasraman Mpungku Ri Manasa telah habis dijarah rayah oleh perompak di abad ke-17.

Dolok sangat khawatir bahwa Mangku Inten yang memakai kecepatan cahaya itu baru tiba di bumi 20 atau 40 tahun kemudian. Itu berarti Mangku Inten baru bisa datang satu atau dua generasi lagi. Keduanya menjadi lemas memikirkan itu.

Antara bulan Kartika sampai bulan kedatangan Mangku Inten di bulan Bhadrawada terbentang waktu hampir setahun dan Dolok serta Boadi harus mengisi waktu-waktu itu dengan pengembaraan jiwa masa lalunya. []

*) Penulis adalah Cendekiawan Sejarawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *