- Kolom Ketut Muhammad Suharto *)
TERSEBARNYA komunitas suku Bugis ke seluruh Nusantara terjadi sejak Sultan Hasanudin sebagai Raja Makassar dikalahkan oleh VOC pada tahun 1662 M. Kekalahan Raja Sultan Hasanudin dari pihak penjajah ini membuat rakyat Makassar tidak rela dijajah oleh Belanda. Karena itu mereka mengharuskan diri pergi dan menyebar meninggalkan Makassar, untuk mencari tempat baru sebagai tempat menetap dan memenuhi kebutuhan ekonomi kehidupannya.
Suku Bugis yang menyebar itu banyak menempati pantai-pantai di seluruh wilayah Indonesia seperti kita lihat sekarang ini.
Akan tetapi beda halnya dengan komunitas suku Bugis yang ada dan menetap di Desa Pegayaman. Mereka adalah komunitas Bugis menempati posisi di atas pegunungan.
Tidak ditemukan catatan sejarah sejak tahun berapa keberadaan suku Bugis di Pegayaman ini. Kapan mereka mulai datang desa ini. Memang bila kita mencari kepatian tahun, pasti kita akan mengalami kesulitan, maka penulis dalam hal ini memakai hitungan abad.

Merujuk dari tersebarnya suku Bugis sejak kekalahan Raja Makassar Sultan Hasanudin, di mana di ujung kekalahannya Sultan Hasanudin harus menandatangani perjanjian Bungaya yang sangat merugikan pihak Sultan Hasanudin. Kita mengetahui bahwa tahun kejadian itu adalah tahun 1662 M.
Sejak tahun ini penyebaran suku Bugis ke seantero Nusantara berlangsung. Maka dalam hal ini jika kita memakai abad akan lebih valid data keberadaan penyebarannya. Berarti kita mulai menggunakan abad 17, 18, 19 M.
Pada abad-abad inilah penyebaran orang-orang Bugis terjadi. Dan dari penelitian yang penulis lakukan bersama tim FPSI Buleleng ke sejumlah tempat suku Bugis dan Mandar, di wilayah Sumber Kima, Kampung Bugis Singaraja, Desa Sangsit, kami mengalami kesulitan dalam mencari tahun kedatangan suku Bugis perantau dan pembabat hutan di tempat desa yang dihuni mereka sekarang ini.
Dengan alasan ini, maka saya sebagai penulis memakai kesimpulan diantara tiga abad tersebutlah kedatangan orang Bugis di Desa Pegayaman, sampai kami suatu saat mungkin akan menemukan prasasti, naskah, babad yang menyebutkan tahun kedatangan mereka di Desa Pegayaman.
Dengan sikap ini, saya sebagai penulis tidak akan merasa risih apalagi bersalah dalam menganalisa dan mengkaji komunitas Bugis Pegayaman.

Dari foklor yang berkembang yang dikisahkan oleh para penglingsir Pegayaman, bahwa suku Bugis adalah suku ketiga yang datang ke Pegayaman setelah suku Jawa dan suku Bali yang menjalin pernikahan setelah dimuallafkan dari agama Hindu yang dianut sebelumnya.
Suku Jawa yakni 100 orang pasukan perang dipimpin tiga orang kesatria sakti (Sri Aji) yang beragama Islam. Dan setelah menetap di desa pegatepan (Pegayaman), maka memuallafkan warga Bali dari kalangan Pasek yang masih beragama Hindu pada saat itu yang dijadikan istri mereka. Setelah itu datanglah warga suku Bugis ke Pegayaman.
Para tetua dulu menceritakan, bahwa pada awalnya suku Bugis ditolak di Pegayaman. Akan tetapi karena ada pertimbangan saran, bahwa yang datang ini adalah dari kalangan ulama, maka diistilahkan para warga suku Bugis ini adalah lampu strongking yang akan menerangi kita dengan keilmuannya. Maka dengan pertimbangan ini, diterimalah warga suku Bugis ini di Pegayaman, yang lebih dikenal dengan Bugis ulama.
Dari penyelusuran penulis pada keturunan suku Bugis yang paling sepuh yakni Ketut Daimudin Hasyim yang kini menetap di Depok, Jawa Barat, dan juga saat dikonfirmasi denggan tokoh Bugis muda Tontowi Jauhari sebagai staf pegawai KAUR di Kantor Desa Pegayaman, maka penulis mendapat data yang insya Allah mendekati validitas 99 persen, terutama tentang nasab silsilah pokok tunggalnya.
Nasab keturunan Bugis ulama yang datang ke Pegayaman yakni Karaeng Sufu, Rumiyah, Mahmud, Bahasan Muda, Nadori, Tontowi. Inilah silsilah suku Bugis ulama Pegayaman.
Keberadaan suku Bugis ulama ini, menempati lokasi di sebuah bukit arah timur berbatasan dengan Desa Silangjana. Berada di antara sungai-sungai dan air terjun Candi Kuning sekarang. Tempatnya sangat subur dan di tempat ini mereka, komunitas Bugis ulama ini bercocok tanam, menggarap lahan pertanian kebun buah, dan membuka pesantren dengan rumah gaya panggung Bugis. (Kisah dari saudara Tontowi).
Dalam mencari kekhasan warga Bugis di Pegayaman sangat mudah. Sebab, warga komunitas Bugis ini sangat kalem dan termasuk yang memegang ilmu keagamaan lebih menonjol. Dalam keseharian, komunitas Bugis ini sangat disegani dari sisi keilmuannya (sebagai guru ngaji).
Dari warga suku Bugis ini ada juga yang menuntut ilmu di kota Al Makkatul Mukarromah bersamaan dengan TGH Mahfudz, Imam Penghulu Pegayaman. Beliau bersamaan mukim menuntut ilmu di kota Makkah.
Komunitas ini akhirnya sangat mewarnai kehidupan sosial di Desa Pegayaman dan membentuk warna dinamika seni budaya dan adat kebiasaan sosial yang terjalin dalam satu lingkaran komunitas Desa Pegayaman.
Hingga kini pengaruh pengaruh Bugis dalam seni nampak pada pembuatan kesenian sokok pada bulan maulid. Juga bisa jadi dan ini patut diduga bahwa sistem kepenghuluan juga berasal dari sistem kepala adat Bugis. Sebagai pengaruh kesultanan yang memakai sistem kepenghuluan pada saat Makassar berjaya, yang sudah masuk dalam sistem adat di Kerajaan Makassar. Dan ini terbawa sampai ke Pegayaman.
Dengan usia yang sudah kurang lebih empat abad Desa Pegayaman, percampuran darah antara Jawa, Bali dan Bugis, telah berasimilasi dengan sempurna di desa ini. Semua dinamika sosial, budaya, seni dan adat, serta politik, semuanya terpengaruhi oleh percampuran darah bangsawan Raden dari Jawa yakni para kesatria, nenek dari Bali kalangan Pasek, dan suku Bugis dari kalangan Karaeng.
Dengan percampuran darah inilah membuat kita tidak heran jika warga Pegayaman akan mempunyai sejumlah watak percampuran dasar suku-suku yang mendasar di Desa Pegayaman, yaitu suku Jawa, suku Bali, dan suku Bugis. []
*) Penulis adalah Pemerhati Sejarah dari Pegayaman



