Keyakinan Hati Batari

  • Cerpen Ikrima Maulida *)

BATARI berjalan sembari menikmati udara segar di kebun raya itu. Diikuti oleh Naufal yang berjalan sembari mengabadikan setiap langkah Batari. Mengambil foto atau video setiap gerak-gerik Batari. Ya, ia tak mau kehilangan setiap momen itu. Angin yang bertiup menambah kesejukan dan ketenangan suasana itu.

“Sudah coba kamu pikirkan lagi tawaran itu?”

Batari tahu, sebenarnya itu hal yang cukup berat untuknya. Sebuah pilihan yang sebenarnya cukup membingungkan. Ya, tapi apalah daya. Namanya pilihan ya tentu harus dipilih salah satunya. Namun, Batari juga tahu bahwa Naufal juga memiliki pilihan yang sulit juga.

“Sudah. Aku sudah memutuskan pilihan. Dan aku pikir itu merupakan pilihan terbaik. Lalu bagaimana dengan kamu?”

Jawaban Batari tentu membuat Naufal semakin merasa bingung. Apakah hal yang Naufal pikirkan sama dengan hal yang dipilih oleh Batari. Suasana yang awalnya sejuk kini berubah menjadi dingin. Ditambah pertanyaan yang dilontarkan Batari menambah rasa dingin pada tubuh Naufal. Lidahnya pun terasa kelu.

Naufal pun menghentikan aktivitas mengabadikan Batari. Ia menurunkan kamera yang ia pegang. Kemudian berjalan sembari menatap bentangan keindahan alam dari atas Kebun Raya itu. Ia berusaha menenangkan hatinya yang rasanya berkecamuk tak karuan. Ia tak ingin saat ia menjawab pertanyaan Batari malah melukai perasaan Batari.

“Aku juga sudah menentukan pilihan. Tapi aku ambil setengah.”

“Maksudmu? Lalu soal orientasi ke depan kita? Mimpi dan rencana yang akan kita usahakan capai bersama?”

“Akan tetap bisa kita capai. Ini hanya soal waktu. Komitmen kita tetap teguh. Aku tahu, kamu memilih pilihanmu itu karena itu adalah mimpimu bukan?”

Batari terdiam. Ia membayangkan semua yang ia dan Naufal telah rencanakan. Mimpi bersama Naufal dan segala road map kehidupan yang sudah ia dan Naufal rancang. Semua itu akan sirna.

“Batari, kita masih bisa mencapai semua itu bersama. Percayalah. Aku sudah bicara pada Ibu bahwa aku akan tetap berkomitmen dengan segala mimpi bersamamu.”

Batari terdiam. Ia seperti memiliki keyakinan setengah hati dengan ucapan Naufal. Bagaimana kalau di tengah jalan Naufal menyerah dengan keadaan? Atau bagaimana kalau ternyata ia sendiri yang menyerah? Tak disangka, air mata Batari pun menetes. Lidahnya kelu untuk bicara. Ia mencoba menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Berharap suasana batinnya kembali normal.

“Bagaimana jika di pertengahan jalan nanti aku menyerah? Atau bagaimana jika nantinya kamu yang menyerah?”

“Batari, bukankah kita sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini? Dan kita mampu. Ini hanya berlangsung beberapa saat. Dan ada hal yang belum kusampaikan. Tadi terpotong oleh pembicaraanmu.”

“Iya aku tahu. Tapi, ini akan semakin berat Naufal. Soal apa yang belum aku tahu?”

“Aku akan berada di Padang hanya 1 tahun. Aku sudah bicara pada atasanku. Dia memberiku izin aku hanya 1 tahun di Padang. Aku akan membersamaimu Batari.”

Batari tampak tertegun. Ia pun menghadapkan wajahnya ke arah Naufal. Sembari menghapus air mata yang ada di pipinya.

“Kamu tidak bercanda kan Naufal?”

“Mana mungkin aku bercanda Batari. Aku juga sudah sampaikan pada ibuku bahwa hanya 1 tahun aku di Padang. Setelah itu, aku membersamaimu di Surabaya.”

Rasa bahagia Batari tak bisa disembunyikan. Senyumnya pun akhirnya terlihat. Ya, ia izinkan senyum itu keluar dari persembunyiannya. Persis ketika langit kembali cerah dan sang surya kembali menampakkan dirinya.

“Bulan depan aku bersama ayah dan ibu akan ke Jogjakarta, ke rumah kamu. Ibu titip pesan, tolong sampaikan hal ini pada Ibumu.”

“Naufal, terima kasih untuk semua ini. Kita akan bisa merayakan bersama setiap mimpi kita yang terwujud. Tidak akan ada lagi jarak di antara kita.”

“Ya Batari. Kita akan melewati semuanya bersama dan tentu merayakannya bersama. Kita sungguh bisa Batari. Aku yakin itu.”

Sejak sore itu, tak ada lagi keraguan pada hati Batari. Dalam hatinya hanya ada rasa syukur dan harapan agar ia dan Naufal selalu dalam kebahagiaan dan bisa melewati segala kesulitan, bersama. (bs)

*) Ikrima Maulida lahir di Kebumen, 08 Februari 1999. Menyukai bidang tulis menulis. Menempuh pendidikan Madrasah Aliyah Negeri Negara Jurusan Bahasa (2013-2016) kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (2016-2020) dan melanjutkan studi magister dengan jurusan Pendidikan Dasar (2020-2022). Ikrima -begitu sapaan akrabnya, pernah dan aktif di sejumlah organisasi seperti PMM Al Hikmah Undiksha, PC IMM Buleleng, dan kini menjabat sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPD IMM Bali. Ikrima tinggal di Banyuning, Singaraja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *