BULELENG – Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 resmi dibuka di Gedung Sasana Budaya Singaraja, Jumat (3/7/2026). Festival yang bertajuk Stri Sasana itu ingin memancarkan energi keseimbangan kepada semesta.
SLF 2026 ini mengaktivasi warisan lontar Stri Sasana. Stri artinya perempuan dan sasana berarti aturan, etika, landasan moral. Panitia menerjemahkan tema ini menjadi Energi Keseimbangan Semesta.
Festival ini berlangsung 4 hingga 5 Juli menghadirkan 42 program interaktif, mulai dari kuliah umum, diskusi panel, lokakarya, peluncuran buku, bedah buku, pembacaan puisi, pemutaran film, hingga pertunjukan seni yang melibatkan penulis, seniman, akademisi, dan pegiat budaya dari Indonesia maupun mancanegara.
Founder sekaligus Direktur Singaraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti, mengatakan SLF memiliki karakter yang berbeda dibandingkan festival sastra lainnya. Selama empat tahun penyelenggaraannya, festival ini konsisten menjadikan manuskrip lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja sebagai sumber inspirasi tema dan penciptaan karya.
“Saya menginginkan manuskrip lontar itu tidak hanya diteliti lalu didiamkan, tetapi juga diapresiasi dan dialihwahanakan dalam berbagai bentuk karya seni, seperti pembacaan puisi, pementasan teater, musikalisasi puisi, film, maupun kolaborasi seni lainnya,” ujar Sonia.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi upaya menghadirkan kembali pengetahuan yang tersimpan dalam lontar agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini melalui bahasa seni yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ia menilai pendekatan tersebut menghadirkan kebaruan dalam ekosistem sastra Indonesia. Karena itu, Sonia berharap Singaraja Literary Festival terus memperoleh dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Buleleng, Kementerian Kebudayaan, komunitas, dan mitra penyelenggara agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Pada kesempatan itu, Sonia juga mengumumkan 13 Emerging Writers terpilih yang berasal dari Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Para penulis muda tersebut akan mengikuti berbagai program pengembangan selama festival berlangsung.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada jaringan Asia Pacific Writers and Translators, sponsor, media partner, komunitas, serta sekitar 70 panitia yang telah bekerja mempersiapkan penyelenggaraan SLF 2026.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, mengatakan Singaraja Literary Festival bukan sekadar ruang apresiasi sastra, melainkan ruang lahirnya gagasan, dialog, dan kolaborasi kebudayaan.
“Festival ini bukan hanya menjadi ruang apresiasi sastra, tetapi juga ruang lahirnya ide-ide baru bagi perkembangan kebudayaan Indonesia,” katanya.
Ia berharap seluruh peserta memanfaatkan festival sebagai ruang bertukar gagasan, berdiskusi, dan memperluas wawasan. Menurutnya, hasil diskusi, karya, dan kolaborasi yang lahir dari festival harus menjadi pijakan nyata bagi upaya pelestarian kebudayaan.
Sutjidra juga memberikan apresiasi terhadap peran perempuan dalam penyelenggaraan festival, termasuk Founder SLF Kadek Sonia Piscayanti dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Nissa Rengganis.
Menurutnya, kehadiran perempuan dalam ruang kebudayaan menunjukkan semakin luasnya kesempatan bagi perempuan untuk berkarya dan berkontribusi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Direktur Pembinaan Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Syukur Aji Sukrojo, menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan Singaraja Literary Festival yang dinilai berhasil membangun ekosistem sastra berbasis kekayaan budaya lokal.
Menurutnya, SLF tahun ini menjadi bagian dari trajektori Manajemen Talenta Nasional (MTN) Bidang Seni Budaya, program prioritas Kementerian Kebudayaan yang diamanatkan melalui Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024.
“Selama tiga hari ke depan, kita akan menyaksikan bagaimana Singaraja Literary Festival menjadi bagian dari trajektori MTN pada bidang sastra,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Manajemen Talenta Nasional Bidang Seni Budaya dirancang untuk mendata, membina, mengembangkan, hingga membawa talenta seni budaya Indonesia menuju rekognisi internasional. Program tersebut mencakup lima bidang, yakni seni pertunjukan, seni rupa, musik, film, dan sastra.
Syukur menambahkan, penyelenggaraan SLF menunjukkan bagaimana pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip lontar dapat dirayakan kembali melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Kami menyambut baik inisiatif teman-teman penyelenggara yang menjadikan Singaraja Literary Festival sebagai strategi kebudayaan yang cerdas dalam merayakan sastra dan pengetahuan lontar,” katanya.
Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Nissa Rengganis, mengatakan festival sastra memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem kebudayaan dan literasi. Baginya, karya sastra tidak hanya dibaca dalam ruang pribadi, tetapi juga dirayakan bersama sebagai ruang dialog publik.
“SLF yang sudah berjalan empat tahun telah berhasil menjadi wadah penting bagi penulis, penyair, pembaca, pelajar, hingga masyarakat umum untuk saling berbagi gagasan, pengalaman, dan apresiasi terhadap dunia sastra,” ujar Nissa.
Ia menilai tema Stri Sasana sebagai energi keseimbangan semesta membuka ruang untuk mengeksplorasi warisan budaya sekaligus mengangkat peran perempuan dalam naskah klasik Bali. Hal tersebut diwujudkan melalui konsep alih wahana dengan menerjemahkan teks-teks lontar ke dalam berbagai bentuk seni pertunjukan kontemporer, teater, seni rupa, dan film sehingga tetap relevan bagi generasi muda.
Selama tiga hari, Singaraja Literary Festival akan menjadi ruang bertemunya penulis, seniman, akademisi, pelajar, dan masyarakat. Dari ruang itu, manuskrip lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya kembali dibaca, dimaknai, lalu dialihwahanakan ke berbagai bentuk karya.
Pada pembukaan SLF 2026 ini juga dipentaskan teater soal sosok Nyoman Rai Srimben, ibunda Presiden RI pertama, Ir. Soekarno.
Juga ada performance Perempuan di Sawah produksi Lemah Tulis Bali, yang mengajak publik memaknai kembali peran perempuan dalam ritual Mapag Toya (menjemput air).(bs)

