Ny. Hermawati Supriatna: Perubahan Hormonal Berdampak pada Kondisi Fisik, Emosional dan Psikologis Wanita 

BULELENG – Berbagai perubahan hormonal yang dialami perempuan, pada masa remaja, dewasa, maupun menjelang usia lanjut, terjadi tanpa disadari, namun memberikan dampak yang cukup besar terhadap kondisi fisik, emosional, dan psikologis. Oleh karena itu, pemahaman yang baik terhadap siklus dan kesehatan reproduksi menjadi hal yang sangat penting untuk dimiliki.

Hal itu disampaikan Sekretaris TP PKK Buleleng, Ny. Hermawati Supriatna, membacakan sambutan Ketua TP PKK Buleleng, saat membuka seminar kesehatan yang digelar Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Ketahanan Keluarga MUI Buleleng bekerja dengan Pemkab Buleleng dan BKMT Bali di RM Manalagi Singaraja, Minggu (21/6/2026).

Seminar bertajuk The Silent Cycle: Harmoni Hormonal dan Kesejahteraan Psikologis Wanita ini menghadirkan pembicara dr. Lia Hairia, M.Biomed (AAM) dan Dr. Retno Indriaswuri, S.Pd., M.Pd.C.I.

Ny. Hermawati, menyatakan, seminar ini menjadi wadah penting untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, khususnya kaum perempuan, mengenai pentingnya menjaga kesehatan fisik, keseimbangan hormonal, serta kesehatan mental dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Kesehatan perempuan merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan keluarga dan masyarakat yang sejahtera,” ujarnya.

Menurutnya, tema “The Silent Cycle” mengingatkan kita bahwa banyak proses yang terjadi dalam tubuh perempuan berlangsung secara alami dan sering kali tidak terlihat, namun memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup. Oleh karena itu, edukasi, dukungan sosial, dan akses terhadap informasi kesehatan yang benar, menjadi kunci untuk mewujudkan kesehatan yang menyeluruh, baik secara fisik maupun mental.

“Momentum Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriyah ini juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi dan pembaruan diri. Tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan diri. Semoga semangat hijrah dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus membangun pola hidup yang lebih sehat, seimbang, dan produktif,” harapnya.

Sementara Ketua Umum MUI Buleleng, H.B. Ali Musthofa, dalam sambutannya mengatakan, seminar tersebut sangat strategis untuk kondisi saat ini. Di mana ibu-ibu banyak yang menderita karena krisis ekonomi.

Kata dia, kalau dulu ibu-ibu ke pasar dengan wajah selalu gembira. Dengan uang yang dibawa dapat beberapa kresek belanjaan. Namun, dengan jumlah yang sama saat itu satu kresek pun tidak penuh.

Sementara penghasilan tidak naik. Hal ini yang sering menyebabkan banyak ibu-ibu stres. Seminar ini memberikan arahan bagaimana ibu-ibu mampu menghadapi beban hidup sehingga tidak stres.

Pemateri dr. Lia Hairia, M.Biomed (AAM) mengupas rahasia di balik perubahan hormon wanita. Jebolan S2 – Anti Aging Medicine Universitas Udayana ini menjelaskan, setiap wanita akan melewati 3 fase yakni fase pre menopause, perimenopause, dan menopause.

Setiap fase memiliki gejala dan dampak yang berbeda pada fisik, emosional dan seksual.  Menurutnya, penanggulangan yang tepat yakni dengan pemenuhan nutrisi, olahraga, mental, medis, dapat meringankan gejalaiaIa menyarankan agar ibu-ibu tidak ragu-ragu ke dokter jika ada tanda bahaya.

“Banyak mitos yang perlu diluruskan agar wanita tidak takut menghadapi fase ini,” ujar dr. Lia Hairia.

Pemateri Dr. Retno Indriaswuri mengajak ibu-ibu untuk memahami harmoni hormonal, emosi dan kesejahteraan dirinya. Kata dia, setiap perempuan membawa dalam dirinya sebuah ritme yang nyaris tak terdengar —denyut yang menggerakkan tubuh, suasana hati, dan cara ia memandang dunia.

Dr. Retno juga meluruskan beberapa mitos yang sering terdengar. Misalnya “Ibu yang emosional saat PMS itu cuma drama.” Padahal, kata dia, respons emosional saat PMS berbasis biologi neuro- endokrin, bukan karakter atau kelemahan. Atau “mood swings tanda kelemahan mental.”, padahal mood swings adalah sinyal tubuh — bukan label kepribadian.

Ia juga menjelaskan strategi nyata untuk merawat tubuh, pikiran, dan relasi. Menurutnya, ada lima pilar harmoni hormonal yang bisa dilakukan: nutrisi, tidur, gerak, stres, dan relasi.

Dijelaskan, makanan (nutrisi) merupakan bahan baku hormon. Tidur dan gerak untuk menyelaraskan dengan siklus. Tidur mereset hormonal harian, dan gerak harus selaras dengan empat musim.

Sementara mengelola stres yakni dengan mengelola hormon. Kata dia, relasi atau kontak dengan alam, misalnya berjalan di luar 15–20 menit menurunkan akan kortisol secara terukur. Atau bicara dengan teman dengan melakukan percakapan tulus 20 menit akan melepas oksitosin — penurun stres alami.

“Saat seorang perempuan mulai mendengarkan ritmenya sendiri, ia berhenti melawan dirinya dan mulai berdamai dengannya. Dan dari damai itu — lahir kekuatan yang sesungguhnya,” tegasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *