DENPASAR – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Bali terus mendorong penguatan kesadaran demokrasi di kalangan generasi muda melalui kegiatan konsolidasi demokrasi bertajuk “Uji Literasi Mahasiswa” bersama mahasiswa magang Universitas Ngurah Rai di Kantor Sekretariat Bawaslu Provinsi Bali, Senin (11/5/2026).
Kegiatan berlangsung dalam format diskusi interaktif yang mendorong mahasiswa memahami demokrasi tidak hanya sebagai proses memilih pemimpin, melainkan juga ruang partisipasi aktif masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan. Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak melihat bagaimana peran generasi muda menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kualitas demokrasi di tengah dinamika politik yang terus berkembang.
Anggota Bawaslu Provinsi Bali sekaligus Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa, Gede Sutrawan, hadir sebagai pemantik diskusi. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa demokrasi sejatinya tidak berhenti pada momentum pencoblosan, tetapi juga menuntut keterlibatan masyarakat dalam mengawasi dan mengevaluasi pemimpin yang telah dipilih.
“Mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang tidak hanya menjadi pemilih cerdas, tetapi juga agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat serta mengawal demokrasi secara objektif dan bertanggung jawab,” ujar Sutrawan.
Dalam pemaparannya, Sutrawan juga menguraikan perbedaan konsep, mekanisme pelaksanaan, hingga implikasi sistem pemilu langsung dan pemilu tidak langsung terhadap kualitas demokrasi. Ia menjelaskan bahwa pemilu langsung membuka ruang partisipasi publik yang lebih luas, sedangkan pemilu tidak langsung lebih menitikberatkan pada mekanisme perwakilan dalam pengambilan keputusan politik.
Tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, diskusi juga diarahkan pada pengalaman personal peserta saat menggunakan hak pilih pada Pemilu 2024. Mahasiswa diajak merefleksikan alasan di balik pilihan politik mereka, sekaligus menilai apakah keputusan yang diambil telah sesuai dengan harapan setelah proses pemilu berlangsung.
Diskusi yang berlangsung interaktif itu turut membuka ruang refleksi mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam demokrasi, tidak hanya pada saat menggunakan hak pilih, tetapi juga dalam mengawal jalannya pemerintahan pascapemilu.
Selain memperkuat literasi demokrasi, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa magang untuk memahami regulasi kepemiluan, fungsi pengawasan, hingga potensi pelanggaran dalam setiap tahapan pemilu. Pengalaman tersebut diharapkan mampu membentuk pemahaman yang lebih utuh antara teori demokrasi dan realitas praktik di lapangan.
Melalui kegiatan tersebut, Bawaslu Provinsi Bali menegaskan komitmennya untuk terus membangun sinergi dengan kalangan akademisi dan generasi muda dalam memperkuat budaya demokrasi yang partisipatif dan berintegritas. (bs)

