Peran Strategis Perempuan Dorong Gerakan PSBS di Buleleng

BULELENG – Peran perempuan, khususnya ibu rumah tangga, menjadi kunci utama dalam upaya Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) di Kabupaten Buleleng. Hal ini disampaikan oleh Ny. Wardhany Sutjidra dalam podcast “Petuah Ngopi, Penegak Peraturan Daerah Ngobrol Pintar dan Inspiratif” yang mengangkat tema peran perempuan di era kekinian dalam mewujudkan Buleleng yang bersih dan tertib, Bertempat di Ruang Sekretariat PKK Buleleng, Selasa (28/4/2026).

Menurut Ny. Wardhany Sutjidra, penanganan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Justru, langkah paling efektif dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga. Ia menegaskan bahwa pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi fondasi penting dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Jika pemilahan sampah dilakukan sejak dari rumah, baik organik maupun anorganik, maka hingga 65 persen persoalan sampah sebenarnya sudah bisa diselesaikan di tingkat masyarakat. Sisanya baru menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, melalui program PSBS (Pelemahan Kedas Desaku Bersih Tanpa Mengotori Desa Lain), masyarakat didorong untuk mengelola sampah secara mandiri dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Sampah organik diolah langsung di rumah, sementara sampah anorganik dikelola lebih lanjut oleh sistem pemerintah seperti TPS3R.

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan di lapangan, terutama terkait kebiasaan dan karakter masyarakat yang belum sepenuhnya disiplin dalam mengelola sampah. Pola lama yang mengandalkan pengangkutan oleh pemerintah tanpa pemilahan masih kerap ditemukan.

“Ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal kesadaran dan karakter. Tanpa perubahan pola pikir dan ketegasan dalam penegakan aturan, persoalan sampah akan terus berulang,” tegasnya.

Dalam hal ini, peran perempuan dinilai sangat strategis. Sebagai pengelola rumah tangga, perempuan memiliki posisi penting dalam membentuk kebiasaan keluarga, termasuk mengajarkan anak-anak untuk memilah dan membuang sampah sesuai aturan.

Momentum Hari Kartini juga dimanfaatkan untuk mengajak perempuan agar lebih aktif dan berdaya dalam mendukung kebersihan lingkungan. Ny. Wardhany menekankan bahwa menjadi ibu rumah tangga bukanlah peran kecil, melainkan memiliki dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi.

“Perempuan adalah pendidik pertama di keluarga. Dari rumah tangga yang disiplin mengelola sampah, akan lahir lingkungan yang bersih dan sehat,” tambahnya.

Ke depan, ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersinergi mendukung program pemerintah dalam pengelolaan sampah, sehingga Buleleng dapat menjadi daerah yang bersih, tertib, dan berdaya saing.

“Buleleng yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama. Mulai dari rumah, mulai dari diri sendiri,” ujarnya.

Di sisi lain dalam perbincangan tersebut, Ny. Wardhany juga menjelaskan bahwa Posyandu kini telah bertransformasi menjadi layanan berbasis 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM), tidak hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga mencakup pendidikan, pekerjaan umum, ketentraman dan ketertiban, serta bidang lainnya. Transformasi ini bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih komprehensif kepada masyarakat.

Selain itu, peran PKK sebagai gerakan nasional pemberdayaan keluarga juga ditekankan sebagai mitra strategis pemerintah. PKK dinilai memiliki kontribusi besar dalam membangun keluarga yang sejahtera, beriman, dan mandiri melalui berbagai program yang langsung menyentuh masyarakat.

Di akhir perbincangan, ia berharap masyarakat Buleleng dapat terus mendukung program pemerintah, khususnya dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memanfaatkan Posyandu serta program PKK secara optimal. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *