* Oleh Lewa Karma
MENJELANG HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, jalan-jalan di berbagai daerah kembali menjadi ruang perjumpaan antara semangat kebangsaan, kegembiraan rakyat, dan optimisme masa depan. Dari anak-anak SD/MI hingga pelajar SMA/MA dan santri pondok pesantren, dari desa hingga pusat kota, mereka berjalan membawa satu pesan sederhana, Indonesia masih memiliki harapan.
Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan kini sesekali diramaikan barisan anak-anak sekolah yang sedang berlatih gerak jalan. Di sepanjang jalan raya, sudut-sudut desa, lapangan sekolah, halaman madrasah, hingga ruas jalan perkotaan, terdengar aba-aba pemimpin regu yang mengatur langkah dan barisan.
Suara aba-aba dan derap langkah itu terdengar sederhana. Namun, di balik langkah kaki yang terkadang belum seragam, peluh yang membasahi seragam, dan wajah-wajah yang penuh semangat, terdapat sebuah makna besar tentang Indonesia. Gerak jalan bukan sekadar persiapan mengikuti perlombaan tujuh belasan. Gerak Jalan adalah sebuah ekspresi kebangsaan yang hidup di tengah masyarakat.
Di Buleleng, Bali, misalnya, semangat tersebut terasa semakin kuat. Persiapan gerak jalan berbagai kategori dan jarak mulai terlihat di sejumlah tempat. Dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten, masyarakat bersama para pelajar bersiap menyambut perayaan kemerdekaan. Anak-anak SD/MI, pelajar SMP/MTs, siswa SMA/MA, hingga santri pondok pesantren ikut mengambil bagian. Masyarakat umum pun tidak mau ketinggalan.
Pemandangan semacam ini sesungguhnya menghadirkan optimisme yang sangat berharga. Di tengah berbagai tantangan ekonomi, kenaikan biaya kebutuhan hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan tekanan sosial yang dirasakan sebagian masyarakat, rakyat Indonesia tetap memilih untuk merayakan kemerdekaan. Ini bukan sekadar pesta. Ini adalah optimisme.
Kemerdekaan yang Dirayakan dengan Langkah Kaki
Bangsa Indonesia memiliki banyak cara untuk merayakan kemerdekaan. Ada upacara bendera, lomba olahraga, pertunjukan seni, pengajian, kegiatan sosial, permainan rakyat, hingga berbagai festival budaya. Namun, gerak jalan memiliki tempat tersendiri dalam ingatan kolektif masyarakat. Gerak jalan mengajarkan sesuatu yang sangat fundamental bahwa perjalanan menuju tujuan tidak mungkin dilakukan sendirian.
Satu barisan harus bergerak bersama. Ketika satu orang terlalu cepat, barisan menjadi tidak rapi. Ketika satu orang tertinggal, seluruh kelompok harus menyesuaikan diri. Ada pemimpin yang memberi komando, ada anggota yang mengikuti, dan ada disiplin yang membuat semua orang bergerak dalam irama yang sama. Bukankah nilai-nilai itu juga yang dibutuhkan Indonesia?
Dalam kehidupan berbangsa, kita membutuhkan kemampuan untuk berjalan bersama. Perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, latar belakang sosial, dan pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persatuan. Justru keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia.
Karena itu, gerak jalan dapat dibaca sebagai sebuah metafora kebangsaan. Indonesia adalah bangsa besar yang sedang berjalan menuju masa depan. Tidak semua orang memiliki kecepatan yang sama. Tidak semua daerah memiliki tingkat kemajuan yang sama. Tidak semua keluarga memiliki kondisi ekonomi yang sama. Tetapi, bangsa ini harus tetap berjalan bersama.
Pancasila menjadi kompasnya. Konstitusi menjadi pijakannya. Persatuan menjadi kekuatannya. Pemikiran tentang nasionalisme seperti ini relevan dengan gagasan Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983), yang menjelaskan bahwa bangsa pada dasarnya dibangun melalui rasa kebersamaan dan imajinasi kolektif sebagai satu komunitas. Orang-orang yang tidak saling mengenal secara langsung dapat merasa menjadi bagian dari satu bangsa karena memiliki pengalaman, simbol, dan identitas bersama.
Gerak jalan tujuh belasan adalah salah satu ruang sederhana yang mempertemukan pengalaman kebangsaan tersebut. Seorang anak dari desa, seorang siswa madrasah, seorang santri, seorang pelajar sekolah umum, dan masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berdiri dalam satu barisan. Mereka mengenakan pakaian yang berbeda, membawa identitas kelompok masing-masing, tetapi bergerak di bawah satu bendera, yaitu Merah Putih.
Di situlah nasionalisme menemukan bentuknya yang paling sederhana dan manusiawi.
Optimisme di Tengah Tekanan Ekonomi
Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, masyarakat tidak hanya membutuhkan kebijakan fiskal, lapangan kerja, dan stabilitas harga. Mereka juga membutuhkan ruang sosial untuk menjaga optimisme. Perayaan kemerdekaan menjadi salah satu ruang tersebut.
Tentu, optimisme tidak boleh dimaknai sebagai sikap menutup mata terhadap persoalan. Rakyat tetap merasakan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya kesehatan, persoalan pekerjaan, dan berbagai tekanan ekonomi lainnya. Optimisme yang sehat justru harus berdiri di atas kesadaran terhadap realitas.
Namun, bangsa yang besar tidak boleh kehilangan harapan hanya karena menghadapi kesulitan. Sejarah Indonesia membuktikan bahwa kemerdekaan lahir bukan dari kondisi yang serba mudah. Proklamasi 17 Agustus 1945 lahir dari situasi penuh keterbatasan, konflik, dan ketidakpastian. Para pendiri bangsa memilih percaya bahwa Indonesia memiliki masa depan. Delapan puluh satu tahun kemudian, semangat itu harus terus dirawat.
Gerak jalan adalah salah satu simbol bahwa rakyat masih memiliki energi untuk percaya kepada masa depan. Anak-anak yang berlatih di jalanan mungkin belum memahami seluruh kompleksitas persoalan ekonomi nasional. Mereka belum tentu memahami statistik pertumbuhan ekonomi atau kebijakan fiskal pemerintah. Tetapi mereka memahami satu hal dimana mereka adalah bagian dari Indonesia. Dan rasa memiliki itulah yang sangat penting.
Pelajar dan Sekolah sebagai Laboratorium Nasionalisme
Keterlibatan pelajar dalam gerak jalan menjelang HUT ke-81 RI juga menunjukkan bahwa sekolah dan madrasah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan. Sekolah/Madrasah adalah ruang pembentukan karakter dan kebangsaan.
Pendidikan karakter tidak selalu harus diajarkan melalui ceramah. Nilai-nilai disiplin, kerja sama, tanggung jawab, kepemimpinan, toleransi, dan gotong royong dapat tumbuh melalui pengalaman nyata. Gerak jalan memberikan pengalaman tersebut.
Seorang siswa belajar bahwa mereka harus hadir tepat waktu. Belajar mengikuti aturan dan menghargai pemimpin regu. Mereka belajar bahwa keberhasilan kelompok tidak ditentukan oleh satu orang, tetapi sekaligus mengendalikan ego pribadi demi kepentingan bersama.
Ki Hadjar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter dan mampu hidup bersama dalam masyarakat. Pendidikan harus memerdekakan manusia agar mampu berdiri sebagai pribadi yang mandiri sekaligus bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya.
Dalam konteks itu, gerak jalan dapat menjadi pendidikan kebangsaan yang konkret. Para pelajar SD/MI belajar mengenal Indonesia melalui kegembiraan. Pelajar SMP/MTs belajar melalui disiplin dan kebersamaan. Siswa SMA/MA belajar melalui tanggung jawab dan kepemimpinan. Para santri pondok pesantren belajar bahwa kecintaan kepada tanah air dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai keagamaan.
Inilah nasionalisme yang inklusif. Nasionalisme bukan milik kelompok tertentu. Gerak Jalan Adalah representasi dari optimisme Nasionalisme warga negara. []
*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral IMK

