WAKIL Bupati Buleleng, Gede Supriatna, menghadiri buka puasa bersama di Saung Ukhuwah Kebon, Kelurahan Kampung Bugis Singaraja, Senin (9/3/2026). Pak Supit, demikian sapaan akrabnya, jalan kaki menyusuri gang-gang kampung sebelum menuju ke Saung Ukhuwah.
Pejabat yang dekat dengan masyarakat, termasuk masyarakat Muslim di Kampung Bugis, ini pertama berkunjung ke Musholla Al Falah, Kampung Bugis. Wabup Supit berjalan kaki sejauh sekitar 100 meter dari lokasi ia turun dari mobilnya. Ia tampak menyapa warga dengan senyum khasnya.
Di Musholla Al Falah, ia sudah ditunggu warga Muslim Kampung Bugis RT 1, yang dikenal dengan sebutan Gembong tersebut. Ikut menunggu juga antara lain Kadis Sosial Buleleng, I Putu Kariaman, Kaban Kesbangpol Buleleng, Nyoman Widiartha, Camat Buleleng, Putu Gopi Suparnaca, dan Takmir Musholla Al Falah Kampung Bugis.

Wabup Buleleng, Gede “Supit” Supriatna, mengaku bahagia bisa diterima oleh warga. “Ini lingkungan RT 1 tapi sering disebut Gembong. Mungkin bapak-bapak yang ikut dengan saya baru mendengar kalau lingkungan ini disebut Gembong,” tuturnya.
Menurutnya, kedatangannya ke Gembong Kampung Bugis untuk silaturahmi dan menjaga hubungan baik antara dirinya selaku Wakil Bupati Buleleng dengan masyarakat di lingkungan Gembong ini. “Saya bahagia bisa langsung bertemu bapak ibu dalam kondisi sehat. Semoga puasa bapak-ibu lancar, dan mendapat keberkahan,” ujarnya.
Ia mengatakan, sebagai pimpinan di Kabupaten Buleleng bersama Bupati Nyoman Sutjidra tentu harus tahu betul kondisi masyarakatnya, khususnya yang ada di kota Singaraja. Wabup Supit mengaku baru pertama masuk sampai ke Gembong ini. Padahal dirinya sering melewati Jalan Pattimura atau bersepeda di jalan pinggir pantai.

“Ini tentu merupakan pengalaman yang sangat menarik buat saya. Bisa bertemu bapak ibu sekalian. Kampung ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kota Singaraja. Sudah ada turun temurun, mungkin dari buyut bapak-ibu sudah di sini. Jadi warga di sini mungkin sukunya saja Bugis, tapi kalau orangnya sudah menjadi orang Buleleng. Sudah orang asli Buleleng, karena sudah dari kakek buyut tinggal di sini,” jelas Wabup Supit.
Ia juga menjelaskan apa yang menjadi keluhan warga Kampung Bugis selama ini, yakni Jl. Pattimura, khususnya di pengkolan yang rusak parah. Menurutnya, pada 2026, Dinas PU Buleleng sudah menganggarkan untuk perbaikan.
”Tinggal menunggu proses tender. Pertengahan tahun ini sudah bisa dikerjakan untuk perbaikan,” jelas Supit, dijawab warga dengan “gass, gass, amin”.

Usai menyerahkan bantuan sembako kepada beberapa warga kurang mampu di Musholla Al Falah, Wabup Supit melanjutkan acara ke Saung Ukhuwah/Musholla Baabus Suud. Jarak dari Musholla Al Falah ke Musholla Baabus Suud sekitar 500 meter. Mobil Dinas DK 2 U sudah menunggu di depan Musholla Al Falah.
Namun, ternyata Wabup Supit memilih jalan kaki menuju ke Saung Ukhuwah. Para pejabat dan warga pun ikut jalan kaki. Jadinya Wabup Supit dan rombongan menyusuri jalan dan gang-gang sempit menuju Musholla Baabus Suud. Menyusuri jalan kecil Jl. Rambutan dan Jl. Pattimura.
Dari Jl. Pattimura, Wabup Buleleng dan rombongan harus melewati gang sempit. Akses dari Jl. Pattimura menuju Saung Ukhuwah hanya lewat gang kecil. Kalau pun harus menggunakan kendaraan, hanya bisa sepeda motor.
Di Suung Ukhuwah, Wabup Buleleng yang juga Ketua Umum KONI Buleleng ini sudah ditunggu warga, termasuk sejumlah tokoh, seperti H. Hasyim, Ketua PD Muhammadiyah Buleleng, H. Moh. Ali Susanto, Sekretaris MUI Buleleng, H. Imam Syafi’i, Ketua DMI Buleleng, Muhammad Mujib, sejumlah pengurus PD Pemuda Muhammadiyah Buleleng, pengurus Saung Ukhuwah, dan warga.

Kedatangan Wabup Supit ke Saung Ukhuwah Senin (9/3/2026), merupakan kali keempat. “Saya hari ini merasa bahagia sekali, senang sekali, bisa bersilaturahmi dan diterima oleh bapak-ibu semua di Saung Ukhuwah (Musholla Baabus Suud) ini. Karena selalu ada rasa kangen, rasa rindu untuk bersilaturahmi ke Saung ini,” katanya, diselingi tawa renyahnya.
Menurutnya, sudah hampir setahun ia baru bisa kembali silaturahmi dengan warga di Saung Ukhuwah ini. Karena itu, ia mohon maaf. Kata dia, itu karena memang pada awal-awal menjabat sebagai Wakil Bupati bersama Bupati Nyoman Sutjidra, masih konsentrasi menata Pemkab Buleleng dan membuat program-program untuk pembangunan di Buleleng.
“Ini yang banyak menyita waktu dan pikiran. Karena masih menyesuaikan dulu. Biar match, baik dengan teman-teman di dinas, serta OPD lainnya, bagaimana menjalankan program-program yang sudah direncanakan saat kampanye dulu,” katanya.
Selain mendoakan warga agar puasanya lancar dan mendapat ampunan dan keberkahan, Wabup Supit juga memohon doa dan dukungan dari warga agar dalam menjalankan tugas-tugas bisa berjalan dengan baik. Sehingga program-program dan kegiatan yang sudah dirancang bisa berjalan dengan lancar.
“Kami mohon doa bapak-ibu agar kami selalu dalam lindungan Tuhan. Semoga tidak ada hal-hal yang menyebabkan kurang baik kepada kami dan seluruh perangkat daerah di Kabupaten Buleleng, supaya semuanya lurus, tidak ada persoalan, termasuk persoalan hukum,” harapnya.
Ia mengaku bersama Bupati Nyoman Sutjidra mempunyai tekad bagaimana menjalankan pemerintahan Buleleng dengan baik, melayani seluruh masyarakat di Kabupaten Buleleng.
“Itu menjadi komitmen kami berdua dan juga teman-teman di pemerintahan Kabupaten Buleleng. Karena itu saya ucapkan terima kasih. Tidak henti-hentinya saya mengucapkan terima kasih ini, karena kami sudah sangat-sangat diterima di Musholla Baabus Suud ini. Sudah seperti keluarga sendiri,” jelas Wabup Supit.
“Teman-teman OPD mungkin baru pertama di Saung ini. Suasananya penuh persaudaraan. Saya sangat senang sekali bisa datang ke Saung ini. Dibuatin masakan enak-enak dan khas Kampung Bugis. Kuliner khas kampung ini yang hanya bisa didapat saat bulan Ramadhan,” tambahnya.
Ia berharap, pejabat-pejabat di Buleleng bisa lebih mengenal situasi di kampung-kampung Muslim di Singaraja, termasuk tradisi dan kulinernya. “Supaya lebih kenal, maka saya ajak keliling. Yang namanya blusukan di kampung ini seru. Kita jadi tahu suasana kehidupan masyarakatnya,” katanya.
Menurut Wabup Supit, suasana kampungnya khas. Pemukiman muslimnya khas sekali. Terasa suasana yang beda. “Saya senang sekali. Saat saya kampanye dulu, mesimakrama di Kampung Singaraja misalnya, duduk di gang-gang sempit. Itu pengalaman yang menyenangkan,” katanya.
Malam-malam karena biasanya di kampung-kampung itu gangnya sempit, di sana langsung menggelar karpet, duduk-duduk, ngopi, dibuatkan pisang goreng sampai malam.
“Itu kan enak. Suasananya penuh kekeluargaan. Ini membuat saya senang blusukan ke kampung-kampung Muslim yang ada di kota Singaraja ini. Mudah-mudahan tetap terjaga hubungan silaturahmi sebagai masyarakat Buleleng,” harap Supit.
Di Saung Ukhuwah sore itu, Wabup Supit bersama rombongan dan warga menikmati menu buka puasa yang khas Kampung Bugis. Ada kopyor, teh pokak, dan nasib briyani –nasi rempah yang khas. Dan tentu saja kurma. (yum)

