DENPASAR – Meskipun Bali pulaunya kecil, luasnya hanya 542.000 hektar, namun di dalamnya tersimpan sumber daya hayati yang unik dan istimewa. Yakni berupa plasma nutfah endemik, baik flora maupun fauna, yang hanya terdapat di Bali dan tidak ditemukan di kawasan lain di dunia.
Demikian dikatakan oleh aktivis yang juga pemerhati lingkungan, Ir. Suprio Guntoro, Minggu (22/2/2026). Plasma nutfah endemik Bali yang berupa flora, antara lain majegau, purnajiwa, salak Bali, bambu Bali dan gunggum (strowberry Bali), kopi Bali kuno, dan lain-lain.
Sedangkan yang berupa fauna, antara lain sapi Bali, jalak Bali, anjing Kintamani, ayam Bali, bebek Bali, kuntul karang, kambing gembrong, dan lain-lain.
Namun, Guntoro sangat menyayangkan karena sebagian dari plasma nutfah endemik tersebut kini kondisinya sudah sangat langka, bahkan hampir punah. Menurutnya, itu disebabkan kurangnya perhatian dari pemerintah maupun masyarakat Bali.
Kopi Bali Kuno
Guntoro menjelaskan, tanaman kopi Bali kuno bentuk dan warna batang maupun daunnya sama dengan kopi robusta. Sebagaimana kopi robusta, kopi Bali kuno bisa tumbuh dan berproduksi secara optimal di dataran medium hingga dataran tinggi.
Menurut seorang peneliti dari Puslit Kopi dan Kakao Jember, kopi Bali kuno termasuk kopi jenis liberika, yang dimasukkan ke Bali oleh Belanda pada sekitar awal abad ke-19. Rasa bijinya pahit, seperti kopi robusta.
Guntoro mengatakan, dengan perkembangan kopi robusta dan arabika yang pesat, menyebabkan populasi kopi Bali kuno kian terdesak. Bahkan saat ini di kebun-kebun di pedesaan sudah tidak ditemukan jenis kopi ini.
Padahal, kata dia, berdasarkan kesaksian beberapa petani tua (yang usianya di atas 70 tahun), tanaman kopi Bali kuno yang umurnya lebih dari 60 tahun, masih mampu berbuah, dengan produksi yang cukup tinggi. “Dan jika dalam proses roasting, kopi Bali kuno di-mix dengan kopi arabika, akan diperoleh cita rasa kopi yang khas dan enak, sehingga digemari oleh para wisatawan,” ujarnya.
Untuk melestarikan kopi Bali kuno tersebut, Guntoro dibantu oleh para tokoh petani dan para anggota Komunitas Peduli Desa, telah berhasil mengoleksi tanaman ini yang mereka peroleh di lereng Gunung Batukaru Tabanan.
Lantas bibit kopi yang telah dikoleksi disebarkan ke beberapa desa, kepada para petani yang benar-benar berkomitmen untuk melestarikannya, dengan merawatnya dengan baik.
Untuk memperbaiki cita rasanya, setelah umur 2 tahun atau lebih, sebagian tanaman kopi Bali kuno ini akan disambung pucuk dengan enteres (batang atas) dari jenis kopi arabika Ijen atau arabika Priangan, sehingga diharapkan akan diperoleh biji kopi dengan cita rasa yang khas, yakni kopi “Arabrika” (Arabika-Lyberika).
Salah seorang tokoh petani kopi Desa Mundeh Klod – Tabanan, I Ketut Perdi, mengaku, dirinya terus mengumpulkan bibit kopi Bali kuno di pinggir hutan di lereng Gunung Batukaru. “Ini untuk membantu Pak Guntoro dan teman-temannya agar program pelestarian kopi Bali kuno bisa berhasil,” jelas Pak Ketut dengan semangat.
Ir. Suprio Guntoro, mantan peneliti BPTP Bali, ini sejak muda dikenal sebagai aktivis lingkungan. Pada tahun 80-an, saat masih mahasiswa, dia bergabung dengan Yayasan Indonesia Hijau dan aktif menentang program reklamasi Pulau Serangan yang dianggap oleh para aktivis pro- lingkungan, dapat merusak ekosistem dan menyulitkan kehidupan para nelayan.
Tahun 1984, ia bergabung dengan WWF (World Wildlife Fund), aktif sebagai “Counter Part” dalam upaya pelestarian penyu hijau (cheloonia midas). Pada tahun 1996 bersama teman-temannya dari Fakultas Pertanian Unud).
Anggota Dewan Pakar ICMI ini giat melestarikan berbagai kultivar salak Bali langka seperti salak getih (daging buahnya merah), salah injin, salak bingin, salak emvadan, dll yang ada di Desa Sibetan Karangasem.
Pada tahun 1997 hingga tahun 2020, bersama kawan-kawannya yang bergabung dalam Yayasan Bali Teknoo Hayati, Dewan Penasehat Tani Merdeka Bali ini berusaha keras melestarikan kambing gembrong. Sejenis kambing yang hanya ada di Bali.
Dengan dukungan Ketua Yayasan Kehati (Prof. Dr. Emil Salim) dan Ketua HKTI Pusat (Jenderal TNI Prabowo Subianto), serta Direktur BITDEC (Dr. Frans Bambang Siswanto), jenis kambing yang paling unik di dunia itu akhirnya terselamatkan dari kepunahan. (yum)
Ket. Foto: Bersama rekan-rekannya dari Komunitas Peduli Desa, Ir. Suprio Guntoro menyebarkan bibit kopi Bali kuno dari Desa Mundeh ke areal konservasi di Banjar Awen – Desa Pulukan, Jembrana

