* Oleh Lewa Karma
DALAM konteks pendidikan, peran seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi akademik, tetapi juga menjadi teladan perilaku sosial yang baik, termasuk dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kebersihan badan yang meliputi mandi teratur, menjaga kuku, rambut, pakaian, serta kebersihan mulut merupakan bagian penting dari personal hygiene yang berdampak langsung pada kesehatan dan kualitas interaksi sosial di sekolah.
Interaksi yang berlangsung sepanjang hari antara guru, murid, dan kolega menuntut semua pihak untuk hadir dengan kondisi fisik yang bersih dan nyaman agar kohesi sosial dan tenggang rasa dapat terwujud.
Berbagai penelitian kesehatan menunjukkan bahwa kebersihan diri yang buruk merupakan faktor utama dalam penyebaran penyakit menular. Misalnya, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan dan diare secara signifikan karena sabun mampu mengangkat kuman dan bakteri dari kulit tangan. Cuci tangan merupakan bagian penting dari PHBS yang sangat dianjurkan di sekolah maupun di rumah tangga.
Pakar kesehatan masyarakat menegaskan bahwa kebiasaan hidup bersih, terutama pada individu yang sering berinteraksi dengan banyak orang, dapat menurunkan tingkat absensi karena sakit dan meningkatkan produktivitas kerja serta belajar. Enggannya seseorang untuk mandi secara teratur atau menjaga kebersihan pakaian dan tubuh tidak hanya berdampak pada kesehatannya sendiri, tetapi juga dapat menjadi sumber ketidaknyamanan bagi orang lain di sekitarnya.
Guru yang berada di ruang kelas berjam-jam setiap hari berinteraksi dengan puluhan murid dan rekan kerja. Interaksi sehari-hari ini sangat dipengaruhi oleh kesan pertama, kenyamanan fisik, dan lingkungan sosial yang sehat. Ketika seorang guru menjaga kebersihan badannya secara konsisten, hal ini dapat memberikan beberapa keuntungan sosial.
Untuk membentuk suasana kelas yang nyaman harus memperhatikan bau badan yang tidak sedap atau penampilan yang kurang rapi dapat mengalihkan perhatian siswa dan mengurangi kenyamanan belajar. Sebaliknya, guru yang bersih dan rapi menciptakan suasana kelas yang lebih fokus dan kondusif.
Perlu memperkuat kepercayaan dan rasa hormat siswa, karena anak didik cenderung meniru perilaku guru. Ketika guru menunjukkan disiplin dalam menjaga kebersihan diri, siswa akan lebih mudah menginternalisasi perilaku sehat ini sebagai bagian dari norma sosial.
Upaya memperkuat kohesi sosial antara kolega, karena lingkungan sekolah adalah sebuah komunitas kecil. Adanya saling menghormati kebersihan pribadi membantu terjalinnya tenggang rasa, mengurangi potensi konflik sosial yang sepele, dan membangun iklim kerja yang positif.
Sebuah kajian pendidikan menekankan bahwa pembiasaan PHBS sejak dini harus dimulai dari teladan orang dewasa, terutama guru, karena anak adalah peniru ulung yang akan menyerap apa yang ditunjukkan di sekitarnya.
Menurut pakar kesehatan pendidikan, guru merupakan salah satu role model yang paling berpengaruh di sekolah. Guru yang menjaga kebersihan diri tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan sikap dan nilai positif yang akan membentuk karakter siswa dalam jangka panjang. Dalam praktiknya, pendidikan kesehatan di sekolah termasuk pengajaran tentang kebersihan diri sangat efektif bila guru sendiri konsisten sebagai model perilaku.
Selain itu, pandangan ilmiah juga menunjukkan bahwa lingkungan yang bersih, termasuk kondisi tubuh pengajar yang higienis, berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis seluruh komunitas sekolah. Lingkungan yang bersih dan nyaman dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan perasaan aman selama proses belajar mengajar.
Dalam tradisi Islam, menjaga kebersihan bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan bagian dari iman dan akhlak seorang Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa “Kebersihan adalah separuh dari iman (cleanliness is half of faith).” Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya kebersihan dalam kehidupan seorang Muslim, termasuk dalam hubungan sosial sehari-hari.
Islam memandang kebersihan dalam dua dimensi utama, yaitu taharah (kesucian/kemurnian) yang mencakup aspek ritual dan fisik, seperti wudu, mandi, dan menjaga tubuh agar tetap bersih. Nazafah (kebersihan lingkungan dan perilaku) diantaranya menjaga lingkungan tetap bersih, merapikan pakaian, serta menyingkirkan kotoran dari badan dan sekitar.
Mengapa Islam sangat menekankan kebersihan? Karena kebersihan tidak hanya menjaga kesehatan fisik tetapi juga kesehatan sosial dan spiritual. Dalam konteks sekolah, seorang guru yang berhigienis menunjukkan akhlak terpuji yang mencerminkan nilai Islam: menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, dan menciptakan lingkungan yang baik.
Pendekatan Islam juga mengajarkan agar setiap individu memperhatikan kebersihan tubuh dan lingkungan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Sebagai contoh, Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta memelihara tubuh dari najis atau kotoran yang dapat mengganggu kesehatan maupun rasa nyaman orang lain.
Menjaga kebersihan tubuh merupakan keharusan profesional dan sosial bagi setiap guru. Dalam lingkungan pendidikan yang padat kegiatan dan interaksi, kebersihan pribadi berpengaruh besar terhadap kesehatan fisik guru dan murid, kualitas interaksi sosial, atmosfer kelas yang kondusif dan pembentukan karakter siswa melalui teladan.
Fakta dan pendapat pakar menegaskan bahwa perilaku hidup bersih harus menjadi bagian dari budaya sekolah yang dibangun bersama. Sementara itu, pendekatan Islam tidak hanya menganjurkan kebersihan sebagai praktik kesehatan, tetapi juga sebagai cerminan iman dan akhlak mulia yang memperkuat kohesi sosial serta tenggang rasa antar individu.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan badan bukanlah hal sepele, melainkan sebuah tuntutan moral, profesional, dan spiritual yang harus dijunjung tinggi oleh setiap pendidik demi terwujudnya lingkungan pendidikan yang sehat, harmonis, dan penuh hormat. []
*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng,Mahasiswa Program Doktoral Prodi IAK pada IMK

