* Esai R. Azhari
DI manapun bumi Melayu dipijak, di sana tradisi pantun saling gayung bersambut. Tak pelak rasa ingin menikmati baris-baris pantun dari bait sederhana dapat mengungkapkan seluruh hasrat dan naluri seseorang pelantun.
Pantun merupakan kristalisasi pembentukan terstruktur sehingga lebih efektif dalam mengungkapkan emosi seseorang. Untuk itu, kata-kata dalam pantun dipilih lebih hati-hati mengungkapkan perasaan, pikiran dan mendalam.
Tak banyak orang paham cara merangkai sebuah pantun, sekalipun orang lebih suka mendengar dan menirukan sehingga pantun tak lebih dari sekadar hiburan membuka suasana agar tampak lentur.
Berbagai pilihan tema tentang aspek kehidupan bisa dibahasakan dalam bait pantun berupa nasehat, sindiran, jenaka, asmara, rumah tangga, palang pintu perkawinan dan lainnya.
Perhatikan berbalas pantun asmara muda-mudi tahun 1960-an ini ;
Pihak laki-laki :
Asal kapas menjadi benang
Jadilah benang menjadi kain
Kalau lah lepas tak usah dikenang
lebih baik carilah yang lain
Balasan pihak perempuan :
Dahulu kereta sekarang pedati
Karene pedati putus talinye
Dahulu cinte sekarang benci
Karene benci ade gantinye
Pantun berbalas ini biasanya mengisi jeda di sela-sela kesibukan urusan dapur persiapan hajatan perkawinan. Tempatnya pun di bawah kolong rumah panggung.
Ibarat sebuah tanding tanpa harus bertatap muka, cukup dilakukan dari balik bilik dinding anyaman bambu. Suara riuh sangat jelas terdengar antara kedua pihak.
Lantunan pantun terdengar mendayu-dayu diucapkan oleh seorang secara emosional atau penjiwaan. Setelah itu, terdengar gelak tawa yang menyaksikan. Kemudian pihak lawan membalas kebalikan dengan ungkapan kurang lebih sama dan terus bersambung sampai
terakhir mereka sendiri menyudahi.
Kala itu semua dilakukan tanpa menggunakan peralatan pengeras suara, langsung verbal dan tampak lugu. Saat itu, pantun dimanfaatkan oleh pemuda-pemudi menampilkan kebolehannya dari balik bilik.
Dan perhatikan pantun lama tentang pemuda sedang mencari kasih cintanya. Dia akan cari sampai liang kubur.
Pantun pemuda galau :
Kunang-kunang disangke api
kalaulah api mane putusnye
tunangan saye disangke mati
kalaulah mati mane kuburnye
Perhatikan petikan pantun seorang duda tua masih berhasrat mencari teman hidup;
Pantun duda – janda :
Anak Cine pergi ke gunung
Anak Belande pergi ke awan
Bagailah mane datok dak bingung
Melihat jande gemane perawan
Persoalan rumah tangga pun tak luput dari perhatian penikmat pantun.
Suami manja :
Burung cacian burung cacian
Burung belekok panjang kakinye
Kalau kasihan bilang kasihan
Ambilkan rokok sama kopinye
Balasan istri :
Anak memancing umpanye cacing
Anak menangguk lubuk yang dalam
Abang nak masuk pintu terkancing
Masa bodo pintu terkancing
Sekalipun selera berpantun terus berkembang mengikuti jaman di kalangan penikmat, tetapi dalam masyarakat tradisional pantun lama masih bisa bertahan sebagai media hiburan. Hal ini dikarenakan para pelantun itu masih hidup dan disukai.
Namun demikian akan lebih baik jika budaya lisan berpantun ini didokumentasikan tertulis selagi masih tersimpan dalam ingatan masyarakat Melayu Loloan. []
*) Penulis adalah Pemerhati Budaya dari Loloan Timur

