DENPASAR – Ketika musim kemarau tiba, banyak petani, terutama yang tinggal di daerah lahan marginal merasa waswas. Karena bila kemarau sampai berkepanjangan, maka peluang terjadinya puso (gagal panen) akibat banyak tanaman mati, semakin besar.
Manakala itu terjadi, maka petani pun panik untuk mencari pinjaman dana yang persyaratan dan prosesnya mudah dan cepat, demi menyambung hidup keluarga, kepada pihak manapun, termasuk kepada rentenir yang mematok bunga tinggi.
Namun kini para petani boleh bernafas lega, karena tidak terlalu lama lagi, akan hadir sejenis pupuk (pelengkap), yang disamping dapat meningkatkan produksi, juga mampu membuat tanaman lebih tahan kekeringan.
Teknologi baru ini ditemukan oleh mantan Peneliti BPTP Bali, yakni Ir. Suprio Guntoro. Ditemui di kediamannya di Kompleks Wahana Graha Dalung, Kuta Utara, Minggu (20/7/2025), Guntoro mengakui bahwa dirinya telah menemukan formula pupuk pelengkap cair (PPC) baru yang dapat meningkatkan produksi sekaligus memperkuat daya tahan tanaman dari kekeringan (di musim kemarau). Pupuk itu dinamai BIO ALTA 2, yang merupakan PPC BIO ALTA generasi ke-2.
Menurut mantan peneliti Badan Litbang Pertanian itu, sebelumnya dirinya telah menemukan formula PPC BIO ALTA 1, yang telah dicoba dan digunakan oleh berapa petani di Patas, Buleleng, di Negara Jembrana dan di Petang, dan Munduk Badung.
Mekanisme Proses
Sebagaimana BIO ALTA 1, pada PPC BIO ALTA 2 juga dapat memacu pertumbuhan dan produksi tanaman. Namun di samping itu, pada BIO ALTA 2 juga memiliki manfaat lebih, yaitu dapat memperkuat daya tahan tanaman dalam kondisi kekeringan (kemarau).
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Menurut Suprio Guntoro, salah satu anggota Dewan Penasehat “Tani Merdeka Bali” yang juga dikenal sebagai penulis novel itu, disebabkan oleh adanya 2 (dua) jenis agen hayati pada Bio ALTA 2 yang dapat bekerja sama (berkolaborasi).
Pada PPC BIO ALTA 1, masih menggunakan 1 (satu) jenis agen hayati, yakni Azotobacter yang mampu memacu pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Sedang pada PPC BiO ALTA 2, menggunakan 2 (dua) agen hayati, yakni Azotobacter dan Azosperillium. Keduanya memiliki kemampuan memfixasi (menambat) nitrogen dan mensintesa protein.
Di samping itu “kolaborasi” keduanya mampu menggeser kondisi PH tanah, dari kondisi asam atau basa menjadi netral atau mendekati netral (PH tanah 7 atau 6,5). Dalam keadaan tersebut, tanah akan mampu menyerap air secara optimal, bahkan maksimal. Hal ini menyebabkan kelembaban nisbi tanah tinggi, sehingga dapat menekan proses evaporasi. Akibatnya, tanaman tidak mudah layu.
Disamping itu, “kolaborasi” Azotobacter dan Azoserillium bisa menghasilkan Polysacharida (karbohidrat yang berantai komplek), yang dapat menyerap dan menyimpan air di dalam tanah. Hal ini dapat menghambat proses evaporasi, sehingga tanaman akan tetap segar, meski lingkungan sekitarnya panas dan kering.
Petir dapat menjatuhkan nitrogen dari angkasa ke bumi, serta dapat mendorong Azotobacter untuk beraktivitas mengubah nitrit menjadi nitrat agar bisa dimanfaatkan oleh tanaman. Disamping itu, kilat dan petir, dapat mendorong Azotobacter keluar dari tempatnya bersemayam (5-15 cm di bawah permukaan tanah, untuk bergerak naik ke atas permukaan bumi, bekerja menambat nitrogen dan mensitesanya menjadi protein untuk menjaga kelangsungan kehidupan di muka bumi.
Hal tersebut mendorong Guntoro untuk mencoba mengisolasi dan membiakkan Azotobacter secara murni, agar lebih mudah dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dan alam. Atas bantuan putrinya yang saat itu tengah kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung), dia mendapatkan isolat Azotobacter.
Melalui berbagai eksperimen bertahun-tahun, pada tahun 2019, Guntoro berhasil menemukan formula yang cocok untuk media perkembangan Azotobacter. Awal tahun 2021, formula pupuk tersebut ditemukan, yang kemudian diberi nama PPC BIO ALTA 1, yang telah dicoba dan digunakan oleh beberapa petani di Desa Patas (Gerokgak), Negara (Jembrana), di Desa Sulangai (Petang), dan Munduk Kabupaten Badung.
Nama Bio Alta diambil dari nama cucu Guntoro yang ke-3 (Altamis). Berita terkait dengan penemuan Suprio Guntoro ini kian bergaung, dan mendapat respon antusias dari kalangan petani.
Ketua Kelompok Tani “Kerthi Winangun” Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, I Made Supartha, menyatakan merasa amat gembira atas keberhasilan Guntoro menemukan teknologi baru tersebut dan berharap bisa segera diaplikasikan di lapangan.
“Kami berharap ujicoba pertama pupuk ini bisa dilakukan di Desa Bukti. Karena seluruh anggota kelompok kami sudah sepakat dan telah siap mencoba teknologi ini,” katanya.
Sementara itu, salah seorang tokoh petani dari Desa Sulangai Petang, I Wayan Duniarta, menyatakan sangat bangga dan sangat tertarik dengan hasil temuan mantan Peneliti BPTP ini. “Saya sangat bangga dan tertarik dengan karya mantan Peneliti BPTP Bali ini. Ini jawaban yang sangat tepat bagi persoalan Bali ke depan, yaitu masalah keterbatasan air,” ujar Wayan Duniarta.
“Secara pribadi saya sangat berterima kasih dan salut kepada Pak Gubtoro, yang tidak henti- hentinya memikirkan nasib petani Bali,” tandas Wayan dengan nada serius. (bs)

