BULELENG – Aktivis perempuan yang getol memperjuangkan hak petani atas tanah serta kesejahteraannya, Dewi Kartika, hadir di Desa Pemuteran, Gerokgak, Buleleng, Bali, Jumat (17//2025).
Saat berada di lokasi Gerakan Desa Maju Refoma Agraria (Damara) Desa Pemuteran, Dewi Kartika, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) ini memberikan motivasi dan materi penguatan organisasi kepada Serikat Petani Buleleng (SPB).
Selain itu, aktivis yang telah aktif terlibat dalam berbagai kampanye pendidikan dan organisasi kemasyarakatan yang berfokus pada isu agraria ini juga menyerahkan 21 ekor sapi kepada Nengah Reni Ariani, kelompok petani ternak perempuan yang tergabung kelompok Sangha Perempuan Damara Saraswati (SPDS) Buleleng.
Sejumlah tokoh petani dan aktivis reforma agraria Bali ikut mendampingi Dewi Kartika. Di antaranya Koordinator KPA Wilayah Bali Ni Made Indrawati, Ketua SPB M Rasyid dan Ketua Tim Kerja Pengungsi Eks Tim-Tim, Desa Sumberklampok, Nengah Kisid.
Dewi Kartika mengatakan, lokasi pertanian yang terintegrasi dan peternakan sapi Damara Desa Pemuteran merupakan model ekonomi kerakyatan dari Gerakan Damara yang sebenarnya ingin memberikan contoh kepada pemerintah kalau betul-betul berniat ingin menjalankan reforma agrarian.
“Selain aspek paling penting pengakuan hak atas tanah lewat redistribusi tanah kepada petani di Pemuteran juga penguatan ekonominya. Tapi dalam Gerakan Damara justru yang didorong kemandirian ekonomi, keswadayaan dimana faktor yang penting dalam gerakan Damara adalah perempuan,” kata Dewi Kartika didampingi Ketua SPB M Rasyid.
Menurutnya, perempuan merupakan elemen paling penting dalam perjuangan reforma agraria di Indonesia dan secara khusus di Bali adalah perempuan. Ia menyebut sosok perempuan merupakan penjaga tanah dan penjaga kehidupan sehingga perannya sangat penting untuk meningkatkan kapasitasnya.
“Tidak hanya meningkatkan kapasitasnya dan pengetahuannya saja, tapi praktek-praktek reforma agraria dikembangkan oleh kelompok perempuan Saraswati ini harus terus didorong agar bisa menjadi contoh sekaligus inspirasi banyak orang yang tengah memperjuangkan hak atas tanahnya,” imbuh Dewa Kartika.
Atas dasar itu, KPA akan terus mendorong terus agar pusat-pusat produksi rakyat, pertanian dan peternakan yang dikembangkan seperti yang dilakukan oleh Serikat Petani Suka Makmur Desa Pemuteran bisa dikembangkan di banyak tempat.
“Saya harap lokasi pertanian yang terintegrasi dan peternakan sapi Damara Desa Pemuteran ini akan menjadi contoh buat pemerintah kalau betul-betul membicarakan reforma agraria, harus terintergrasi antara pengakuan hak atas tanah dan pengembangan ekonomi yang memajukan dan berdaulat,” tandasnya.
Sementara itu Koordinator KPA Wilayah Bali, Ni Made Indrawati, mengatakan, selama empat hari KPA melakukan kegiatan penguatan organisasi termasuk memberikan pelatihan pengembangan ekonomi produktif. Salah satunya memberikan keterampilan kelompok petani ternak perempuan yang tergabung kelompok Sangha Perempuan Damara Saraswati (SPDS) Buleleng berupa pembuatan sabun natural berbahan dasar kelor.
“Ada juga kegiatan penanaman ideologi tentang reforma agraria melalui Akademi Pendidikan Reforma Agraria Sejati (ARAS) selama dua hari. Dan dilanjutkan dengan rapat konsolidasi wilayah KPA Bali sebagai bentuk refleksi di tahun 2024 untuk perencanaan setahun kedepan,” ucap Indrawati. (bs)

