Direktur PT Crop Nation Singapore Kunjungi Sekolah Cacing

TABANAN – Pada hari Sabtu, 1 Maret 2025 lalu, Direktur PT. Crop Nation yang berkantor pusat di Singapore, Mr. Jerry, mengunjungi Sekolah Cacing di Kampung Candi Kuning, Bedugul, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Kedatangan Mr. Jerry disambut oleh Pendiri Sekolah Cacing, Ir. Suprio Guntoro, dan Ketua Yayasan Al Hidayah, Candikuning, Khairil Anwar, SE. Kedatangan Mr. Jerry karena merasa tertarik dengan keberadaaan sekolah cacing dan ingin mengetahui aktivitas dan kegiatan apa saja yang dilakukan di sekolah ini.

Disamping itu, Mr. Jerry juga bermaksud menjajagi kemungkinan kerjasama dengan sekolah tersebut, untuk memproduksi sayuran organik dengan teknik budidaya “micro green“. Dimana sayuran tersebut dipelihara dalam waktu yang singkat, yakni sekitar 3-4 minggu dan paling lama 6 minggu, dengan media dan nutrisi (pupuk) khusus.

Titonia deversifola tanaman yang mampu memproduksi pupuk. Namun, untuk kemampuan itu diperlukan proses pelatihan

Sementara ini, PT Crop Nation telah berhasil memproduksi sayuran “micro green” tersebut, dan hasilnya telah dinpasarkan di Singapore, Malaysia, Jakarta, Taiwan, Korea dan Jepang. Bahkan juga memasok beberapa hotel berbintang di Bali.

Sedang untuk media dan pupuk sayuran “micro green” tersebut, hingga kini harus nendatangkan tanah dan pupuk organik dari Lituania, Rusia. Karena itu, Mr. Jerry berharap Sekolah Cacing ini nantinya bisa memproduksi sendiri pupuk organik yang spesial untuk “micro green“, sehingga nantinya tidak perlu lagi mendatangkan pupuk dari Lituania, agar lebih efisien dan murah dalam biaya pemeliharaan sayuran tersebut.

Menanggapi tawaran dari pengusaha Singapire tersebut, pendiri Sekolah Cacing, Suprio Guntoro, menyambut positif. “Namun kami perlu waktu untuk dapat memproduksi pupuk organik yang bermutu dengan harga yang murah, mulai dari membuat formula, hingga memproduksi pupuk yang berkualitas, yang dibuktikan dari hasil analisa laboratorium, hingga hasil ujicoba pada tanaman sayuran.”

“Sedikitnya memerlukan waktu 1 (satu) tahun untuk melakukan eksperimen tersebut,” ujar Guntoro. Agar biaya produksi murah, maka proses produksi dilakukan sesedikit mungkin menggunakan tenaga manusia maupun pengggunaaan alat-alat mekanis. Proses produksi pupuk akan lebih banyak menggunakan tenaga tanaman, sinar matahari dan mikroorganisme.

Guntoro mengaku bahwa pihaknya telah mengembangkan tanaman yang mampu memproduksi pupuk, yakni tanaman Titonia Deversifola. Tanaman ini di dunia hanya bisa dijumpai di 2 (dua) negara, yakni di Indonesia dan di Mexico. Di Indonesia, hanya bisa ditemukan di Jawa Barat, yakni di lereng Gunung Salak, Bogor dan di Cianjur.

Guntoro mengaku telah mengembangkan tanaman tersebut di beberapa tempat di Bali sejak sekitar 6 bulan yang lalu. Tujuan utamanya untuk membantu para petani agar mampu mempoduksi pupuk sendiri tanpa bergantung pada pupuk buatan pabrik yang harganya terlalu mahal.

Namun, beruntunglah, Menteri Pertanian di era Presiden Prabowo (Dr. Amran Sulaiman) telah menertibkan tata niaga pupuk dan telah menutup beberapa pabrik. “Pupuk palsu,” jelasnya.

“Dengan adanya tawaran kerjasama dari perusahaan Singapora ini, Titonia akan kami arahkan untuk memproduksi pupuk organik spesial guna mendukung produksi sayuran organik “micro green“,” tandas Guntoro, yang juga salah satu Dewan Pakar ICMI Orwil Bali ini. (bs)

Ket. foto utama : Direktur PT Crop Nation Singapore (paling kanan) bersama Suprio Guntoro, pendiri Sekolah Cacing (kiri) dan Khairil Anwar, S.E. (tengah) sedang meninjau kandang cacing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *