Kampanye JOSS24, Genjek dan Joget Dapat Panggung, Mangga Depeha Disiapkan Teknologi Pasca Panennya

TERA rore rara, tera rore rara JOSS. Tera rore rara tera rore nomor 2. Begitulah bunyi lagu yang dibawakan Genjek Suka Duka Dusun Bingin Desa Depeha. Diiringi musik khas genjek dan sautan dari anggota genjek, penampilan sekaa genjek tersebut penuh gelora dan gembira. JOSS, JOSS nomor 2. JOSS. 

Penampilan genjek tersebut mengawali kampanye pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Buleleng nomor urut 2, dr. I Nyoman Sutjidra-Gede Supriatna, di Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Kamis (10/10/2024).

Kampanye tersebut dipenuhi pentas seni. Jika genjek ditampilkan di awal kampanye, seni joget ditampilkan di akhir kampanye. Penari joget, Luh Widia Sari, tampil begitu ekspresit. Banyak penonton yang naik panggung, termasuk calon Bupati Sutjidra dan calon Wakil Bupati Supriatna. 

Sontak sorak penonton pun bergemuruh. Memberi aplaus pada penampilan calon pemimpin Buleleng dengan ciri khas jogetnya masing-masing tersebut. Tak ketinggalan Nyonya Supriatna pun naik panggung. Berjoget bersama Luh Widia Sari.

Sementara saat memberi sambutan, Ketua Tim Pemenangan JOSS24 Kecamatan Kubutambahan, Wayan Masdana, menargetkan pasangan Sutjidra-Supriatna menang di Kecamatan Kubutambahan. “Minimal 70 persen. Kalau bisa sampai 80 persen,” ujar Masdana, yang juga Ketua PAC PDI Perjuangan Kubutambahan ini.

Calon Bupati Sutjidra saat menyampaikan kampanye menyebut potensi mangga Depeha, yakni mangga harum manis. Menurutnya, mangga harum manis Depeha sudah terkenal, bahkan pernah menjadi juara 1 di Indonesia. 

Namun, kadang-kadang mangga khas Depeha itu diklaim oleh daerah lain. Misalnya, begitu dijual petani, dipacking dengan merek mangga Probolinggo dan dijual kembali ke Bali, termasuk ke Buleleng.

Selain itu, saat panen melimpah, harga komoditi tersebut jatuh, sehingga sangat merugikan petani. Oleh karena itu, kata Sutjidra, dirinya bersama Supriatna sebagai calon Wakil Bupati menyiapkan program, yakni menyiapkan teknologi pascapanen hasil pertanian di Buleleng.

Menurut Sutjidra, dengan teknologi yang bernama iradiator gamma tersebut, nantinya hasil panen pertanian, termasuk buah mangga akan bertahan 3 sampai 6 bulan. Karena itu, saat panen melimpah dan harga jatuh, mangga bisa disimpan dengan teknologi ini lebih dulu. Begitu harganya mulai bagus, baru mangga dijual. Dengan demikian petani tidak dirugikan. 

Sutjidra juga berjanji akan menyiapkan pelatihan pengolahan pasca panen, sehingga tumbuh UMKM baru di desa tersebut. Misalnya, kalau panen mangga berlebihan, bisa diolah menjadi asinan atau keripik. “Tentu ini akan menggerakkan UMKM,” tandasnya.

Sementara calon Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna memaparkan program JOSS24 di adat dan agama. Ia meyakinkan bahwa pasangan Sutjidra-Supriatna akan memberikan perhatian yang cukup besar pada kegiatan adat, semisal ngaben massal.

Ia mengungkapkan, setiap desa adat di Buleleng rata-rata melakukan kegiatan ngaben massal setiap 5 tahun sekali. Dengan hitung-hitungan kondisi APBD Buleleng, Supriatna yakin pemerintah dapat memberikan subsidi biaya ngaben massal.

Ia berjanji akan memberikan subsidi ngaben massal, dengan besaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per sawa. Menurutnya, jika rata-rata dalam setahun ada 40 desa adat yang melaksanakan ngaben massal, dengan peserta sekitar 200 orang, dibutuhkan dana sekitar Rp 8 miliar. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *