Pegayaman Harus Tetap Menjadi Benteng Pertahanan Ekosistem Buleleng

BULELENG – Desa Pegayaman dengan kondisi kebun dan hutan yang ada harus tetap menjadi benteng pertahanan bagi ekosistem di Buleleng.

Saya pikir, kalau zaman dulu di zaman Kerajaan Buleleng (Raja I Gusti Ngurah Panji Sakti-red), Pegayaman adalah bentengnya Kerajaan Buleleng, sekarang Pegayaman harus menjadi bentengnya ekosistem Buleleng. Kenapa? Karena sumber air ada di sini,” kata Ketua Lab Inovasi Ulil Albab, Ir. Suprio Guntoro, saat melakukan sosialisasi tentang inovasi tanaman kopi kepada Kelompok Sari Mekar, Dusun Amerta Sari, Desa Pegayaman, Sabtu (1/6/2024).

Menurutnya, untuk menjadi benteng ekosistem di Buleelng, ekosistem di Pegayaman tidak boleh terganggu. Terutama tanaman kopi.

Ir. Suprio Guntoro mengatakan bahwa kopi merupakan tanaman yang suka bersedekah. Misalnya, sebelum berbuah, pohon kopi sudah memproduksi oksigen. Pohon kopi yang berumur 3-4 tahun, memproduksi oksigen 2 kg setiap harinya. Semntara satu orang, setiap harinya perlu oksigen 0,5 kg.

“Jadi satu pohon kopi memberikan oksigen kepada 4 orang per hari. Sekarang kan ada ribuan pohon kopi, berapa besar oksigen yang diproduksi setiap harinya yang disedekahkan kepada manusia,” ujar Ir. Suprio Guntoro, yang melaksanakan sosialisasi bersama Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Bali tersebut.  

Kata dia, itu baru dari bagian atas pohon kopi. Bagian bawah tanaman kopi yakni akarnya juga selalu besedekah kepada manusia. Akar pohon kopi tidak hanya bisa menyimpan air, tetapi juga akan memperbaiki siklus air. Sehingga air bisa mengalir ke bawah. “Itulah sedekah yang diberikan pohon kopi,” tambah Ir. Suprio Guntoro.

Dikatakan, Allah SWT sebenarnya sudah Maha Adil. Memberikan peluang yang sama kepada semua makkhluk untuk berbuat mulia. “Peluang berbuat mulia itu bukan monopoli para ustadz, dan kiayi, petani pun kalau mau dikasih peluang oleh Allah SWT untuk berbuat mulia. Sekarang tergantung mau diambil atau tidak,” katanya.

Anggota Dewan Pakar ICMI Orwil Bali ini, ke depan kondisi Buleleng sangat bergantung kepada Pegayaman. Utuh atau rusak ekosistem di Buleleng, bergantung kepada Pegayaman. “Kalau ekosistem di Pegayaman rusak, akan rusak daerah di bawahnya. Ini tugas mulia yang harus diambil orang Pegayaman,” katanya.

Apa yang disampaikan Ir. Suprio Guntoro disambut baik tokoh masyarakat Pegayaman, Drs. Ketut Muhammad Suharto dan Ketua Kelompok Tani Sari Mekar Dusun Amerta Sari, Desa Pegayaman, Wayan Inwan, yang juga hadir dalam sosialisasi tersebut. Mereka bertekad untuk berjuang mempertahankan kelestarian ekosistem di Desa Pegayaman.

“Tentu kami akan ambil tugas mulia ini. Sejak zaman Kerajaan Buleleng, Pegayaman selalu mengambil peran mulia untuk menjaga Buleleng. Dulu menjadi benteng pertahanan Kerajaan Buleleng dari serangan musuh dari luar. Kalau sekarang harus menjadi benteng ekosistem tentu itu tugas mulia bagi kami,” kata Ketut Suharto, yang juga pemerhati sejarah ini. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *