Belabar Agung 

  • Esai Sejarah dr. Soegianto Sastrodiwiryo *)

SETAHUN lagi pemerintahan Inggris di Batavia berakhir. Sir Stamford Raffles, Gubernur Muda kesayangan Lord Minto, penguasa EIC itu mempersiapkan pasukannya tepat setelah terdengar letusan-letusan dahsyat tanggal 5 April 1815.

Ternyata dia keliru suara-suara meriam dahsyat itu bukan serangan lawan tapi bunyi letusan Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Sumbawa yang menghanguskan tiga kerajaan dan menyebabkan gelapnya seantero dunia selama beberapa hari. Gunung Tambora saat itu, termasuk salah satu gunung tertinggi di Indonesia.

Puncaknya yang mencapai 4.200 meter di permukaan laut tiba-tiba terpotong hampir setengahnya dan tersisa hanya 2.990 meter.

Letusan itu menyebabkan awan tebal yang mengelilingi dunia sebanyak 20 kali dan menyebabkan pola musim di Eropa Timur dan Amerika berubah selama 3 tahun di kedua tempat ini. Panen mengalami kegagalan. Udara seperti malam.

Beberapa hari setelah letusan itu, getaran-getaran seismiknya menyebabkan tepi utara Danau Tamblingan bobol dan menumpahkan sebagian airnya ke arah utara. Danau Tamblingan saudara kembar Danau Buyan, utara Bali memuntahkan sebagian airnya ke daerah Asah Gobleg dan berpusarlah air raksasa yang pecah hingga menjadi aliran Sungai Banyumala, Liran Bukit Balu yang menerobos celahnya menggenangi dataran Buleleng dan menenggelamkan Istana Panji Sakti.

Satu aliran lagi menerobos agak ke barat memasuki wilayah Banjar. Rakyat Banjar berteriak-teriak memanggil rajanya, orang tua Ide Made Rai yang memiliki keris bertuah Ki Gudug Lampus yang bisa menyurutkan banjir apapun.

Ratuu medalang  kerise, Tuu  medalang kerise,”  teriak rakyat Banjar yang ketakutan.

Pecahan air yang menuju Buleleng menyimpang dua di Bantang Banua. Satu ke kanan menuju Banyuning, satu ke utara lurus menuju Kaliuntu setelah menenggelamkan istana lama Panji Sakti.

Tumpahan jutaan kubik air dari Danau Tamblingan setelah menjebol dinding utara Tamblingan langsung tumpah ruah ke jurang di bawahnya dan mengisi cekungan itu dengan pusaran air raksasa melingkar-lingkar menyedot apa yang ada di sekitarnya.

Setelah pusaran ini penuh, maka air bah itu melintasi celah bukit Balu, lalu dengan deras menuju sebelah utara Gitgit dengan melewati Desa Pegayaman lalu ditampung oleh Tukad Buleleng yang menjadi batas barat Padang Bulia, menggenangi desa tua itu sebelum berkumpul memenuhi Tukad Tangis yang menjadi batas timur Desa Padangbulia.

Limpahan Tukad Buleleng ini menuju Desa Bantang Banua dengan membawa ribuan pohon-pohon tumbang lalu setelah melindas Desa Sukasada dan menghancurkan istana lama. Terkaman air bah ini berbelok ke kanan menuju Desa Banyuning dan bertemu dengan aliran lepas yang berasal dari Desa Padangbulia bersama curahan dari Naga Sepaha dan Petandakan.

Keempat curahan air ini benar-benar menenggelamkan Desa Banyuning sampai penduduknya bersisa setengahnya.

Aliran dari Desa Bantang Banua lepas memenuhi Sukasada lalu turun ke arah laut memenuhi dataran Pabean bersama aliran Tukad Buleleng. Aliran Tukad Buleleng meluap melimpah memenuhi Desa Kaliuntu yang sudah dipenuhi oleh limpahan Tukad Banyumala.

Di sini Desa Banyumala yang asalnya sebelah barat Tukad Banyumala, tenggelam sama sekali sehingga penduduk Banyumala pindah ke timur Tukad Banyumala mencari tempat yang lebih tinggi.

Desa-desa Banjar Petak, Banjar Peguyangan, Banyar Tengah, Banjar Delod Peken karena berada di ketinggian tertentu tidak dilalui air tapi Desa Kaliuntu, Kampung Anyar disapu bersih sama sekali.

Kampung Kajanan dan Kampung Bugis juga kena tapi dampaknya agak kurang. Masjid Keramat di Kajanan, anehnya tidak terkena.

Konon Thomas Stamford Raffles sempat meninjau dampak Belabar Agung di Buleleng, namun berita ini kurang begitu jelas. Kalaupun benar maka Raffles pasti datang menjelang turunnya dia dari kekuasaan lalu sempat berkuasa di Pulau Bangka kemudian mendirikan Singapura 1816.

Masjid Jami’ baru didirikan sekitar 1850, setelah Belanda berkuasa di Buleleng. []

Catatan Redaksi:

dr. Soegianto Sastrodiwiryo merupakan cendekiawan dan sejarawan. Menulis beberapa buku sejarah penting seperti I Gusti Anglurah Panji Sakti, Perang Jagaraga, Perang Banjar, Danghyang Nirartha, Jejak Islam di Bali, Perlawanan Bali Age serta buku novel Budak Pulau Surga, serta beberapa buku kumpulan esai.

dr. Soegianto Sastrodiwiryo meninggal dunia pada 18 Desember 2023 lalu di Bekasi, Jawa Barat. Esai-esai yang dimuat dalam balisharing.com dikutip dari bukunya “Mumbul Melintasi Zaman” dengan seizin Penerbit Indie Singaraja dan dari penulis semasa masih hidup. Yang berminat buku tersebut bisa menghubungi nomor +62 818-0533-9885

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *