Mengapa Kita Sebagai Manusia Wajib Beragama? – Bagian 2

  • Perspektif Strukturalisme Agama dalam Rangka Deraksasaisasi terhadap Manusia

Artikel Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja *)

  • Pendahuluan

Pada paparan terdahulu saya telah mencoba menjawab pertanyaan tersebut memakai pendekatan strukturalisme, dengan kesimpulan bahwa manusia wajib beragama dalam konteks debinatangisasi. Artinya, melalui agama manusia berharap mampu menekan, meniadakan atau mengendalikan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada dirinya.

Pada kesempatan ini saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang sama, yakni strukturalisme yang berfokus pada dewa beroposisi biner dengan raksasa. Uraian lengkapnya sebagai berikut.            

  • Apa Itu Dewa dan Apa itu Raksasa?

Apa itu dewa? Jawaban atas pertanyaan ini tidak terlepas dari teologi Hindu, bahwa Tuhan adalah Esa. Tuhan mempersonifikasikan Dirinya ke dalam berbagai bentuk dewa (berasal dari akar kata Div yang berarti sinar suci). 

Dewa berperan memberikan perlindungan kepada manusia agar hidup dan kehidupannya sejahtera. Dewa tidak sekadar menjaga manusia dari alam kedewaan, tetapi bisa pula langsung menjelmakan ke dunia berbentuk avatara.

Dua avatara terkenal yang dikisahkan dalam epos Ramayana dan Mahabharata – diyakini kebenarannya olah umat Hindu, yakni Rama dan Kresna. Keduanya sangat terkenal di Jawa dan Bali, karena sering dipentaskan dalam seni pertunjukan wayang kulit.

Apa itu raksasa? Jawaban atas pertanyaan ini adalah raksasa merupakan makhluk demonik yang secara mitologis selalu digambarkan berperan negatif.  Raksasa secara umum disebut bhuta kala. Wujud raksasa acap kali digambarkan sebagai makhluk yang berwajah menyeramkan.

Hal ini dapat dilihat pada ogoh-ogoh yang diarak oleh umat Hindu pada setiap Hari Raya Pengerupukan, berkaitan dengan Hari Raya Nyepi – berlangsung setiap tahun sekali dalam konteks perayaan pergantian tahun baru Saka. Siapa yang mengadakan raksasa? Jawabannya, tentu saja Tuhan karena Tuhan adalah Maha Pencipta.

  • Dewa versus Raksasa

Keberadaan raksasa adalah sebagai musuh dari dewa. Pemikiran ini dapat dicontohkan pada epos Ramayana, yakni Rama sebagai avatara Dewa Wisnu bermusuhan dengan Rahwana yang digambar sebagai raja raksasa. 

Pola ini berlaku pula pada epos Mahabharata, yakni partai Pandawa yang didukung oleh Kresna sebagai avatara Dewa Wisnu, berlawanan dengan partai Korawa. Ada perbedaan penggambaran antara Ramayana dan Mahabharata tentang dewa versus raksasa. Epos Ramayana menggambarkan raksasa memang bertul-betul sebagai raksasa. Sebaliknya,  epos Mahabharata menggambarkan raksasa bukan sebagai raksasa, tetapi berbentuk manusia – tercermin pada Duryadana.

Duryadana adalah manusia biasa, namun berkarakter sebagai raksasa. Penggambaran ini menyimbolkan bahwa raksasa bukan hanya masalah fisikal sebagaimana tercermin pada epos Ramayana, tetapi bisa pula menyangkut karakter – manusia pun bisa berkarakter raksasa.

Bagaimana ciri-ciri karakter raksasa? Mengacu kepada penggambaran pada epos Ramayana dan Mahabharata maka dapat dikemukakan ciri-ciri karakter raksasa adalah serakah, angkuh, egois, licik, membenarkan segala cara untuk mewujudkan tujuan, tidak mengenal rasa malu, tidak mengenal rasa takut, tidak mengenal rasa bersalah, tidak mengenal rasa berdosa, bertindak sewenang-wenang, menyukai kekerasan dalam menyelesaikan masalah (kekerasan fisik, psikologis, bahasa, dan simbolik, ekonomi), dsb.

Agama Hindu menunjukkan bahwa segala bentuk karakter negatif yang melekat pada raksasa disebut karakter adharma. Sebaliknya, dewa sebagai versusnya berkarakter berlawanan, sehingga dewa dapat disebut sebagai pembela dharma. Jadi hubungan dewa versus raksana dapat pula disebut dharma versus adharma.

Apa yang tergambar pada epos Ramayana dan Mahabharata merupakan pula pencerminan dari dharma versus adharma. Peran dewa sebagai pembela dharma yang tercermin pada tindakan Dewa Wisnu turun langsung ke dunia menjadi avatara untuk mengalahkan Rahwana – epos Ramayana dan Korawa – epos Mahabharata. Memiliki makna bahwa dewa (dharma) berkewajiban dapat mengendalikan raksasa (adharma) agar kedamaian di alam semesta  terwujudkan.

Bagaimana posisi manusia dalam pertarungan  antara dewa dan raksasa – dewa versus raksasa? Jawaban atas pertanyaan ini dapat dicermati pada gambar 1.

Gambar 1

Hubungan Segitiga antara Dewa, Raksasa, dan Manusia dalam Konteks Mengajak Manusia sebagai Pengikutnya

Mengacu kepada gambar ini maka dapat dijelaskan bahwa hubungan ketiganya membentuk segitiga. Dewa berada pada salah satu sudut segitiga berlawanan (versus) dengan posisi raksasa pada sudut segitiga lainnya. Manusia berada pada salah satu sudut yang berada di bawah, menghubungkannya baik dengan dewa maupun raksasa. Posisi ini secara simbolik menunjukkan bahwa manusia berada di bawah pengaruh dan/atau daya tarik dua kekuatan yang bertarung, yakni dewa dan raksasa.

Dalam pertarungan ini maka dewa sebagai sinar suci Tuhan memiliki kewajiban, pertama, mengalahkan atau mengendalikan raksasa agar dharma tegak dan alam semesta dengan segala isinya hidup secara damai. Kedua, mengajak manusia agar bakti kepadanya. Bakti kepada dewa tidak saja diwujudkan melalui ritual, tetapi yang lebih penting adalah mengikuti ajarannya, yakni agama (dharma). 

Namun, di sisi yang lain raksasa tindak tinggal diam. Dia pun tidak henti-hentinya ingin mengalahkan dewa. Begitu pula raksasa selalu berusaha mempengaruhi manusia agar mau berpihak, bahkan menjadi anak buahnya – mengikut kejahatan (adharma).

Tarik-menarik antara dewa dan raksasa berlangsung sepanjang zaman, dengan menggunakan kondisi psikogenetik manusia, yakni di dalam dirinya melekat dua karakter bawaan, yakni karakter kebaikan (kedewataan/dharma dan karakter kejahatan (keraksasaan/adharma). Daya tarik ini mengakibatkan manusia bisa ikut ajakan dewa (dharma) atau bisa pula sebaliknya, yakni ikut ajakan raksasa (adharma).

Dengan demikian, tidak mengherankan jika lontar-lontar di Bali melukiskan manusia adalah dewa ya bhuta ya. Artinya, manusia dapat berwatak seperti dewa, sebaliknya dapat pula berwatak seperti raksasa. Jika manusia memiliki karakter seperti raksasa maka dia akan berkarakter jahat (adharma)  maka dia menjadi bhuta ya. Jika berkarakter sebaliknya, yakni menjunjung tinggi kebajikan (dharma) maka manusia menjadi dewa ya.

  • Peran Agama dalam Konteks Deraksasaisasi

Bagaimana manusia menyikapi kondisi sepeti ini? Jawabannya, pertama-tama manusia harus menyadari bahwa semasa hidupnya ada pertarungan abadi antara dewa dan raksasa atau dharma versus adharma. Keduanya saling mengajak agar manusia  mau menjadi pengikutnya. Secara ideal manusia harus mengikuti ajakan dewa bukan raksasa.

Mengapa wajib mengikuti ajakan dewa? Jawabannya, pertama, dewa mengajak manusia ke arah kebajikan (dharma), sebaliknya menjauhkan manusia dari adharma. Kedua, ikut dewa = dharma memberikan jaminan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan, baik di alam fana maupun alam baka, baik untuk diri sendiri maupun makhluk lain penghuni alam semesta. Ketiga, hukum karma phala adalah hukum besi. Jika manusia mengikuti dewa maka phala atas karma-nya adalah positif. Jika mengikuti raksasa maka phala-nya negatif – phala positif dan negatif bisa dinikmati di sini atau di sana.

Bagaimana caranya agar ikut dewa? Jawabannya, taat pada ajaran agama. Tuhan mengajarkan agama kepada manusia. Misalnya, Kresna sebagai avatara Dewa Wisnu (Tuhan) mengajarkan agama dalam Kitab Suci Bhagavad Gita. Ikut Tuhan berarti manusia menyaturagakan dirinya secara totalitas dengan  agama, misalnya Bhagavad Gita.

Mengingat, Bhagavad Gita (kita suci agama Hindu secara keseluruhan) berasal dari Tuhan/dewa, maka proses menyaturagakan diri dengan agama yang berasal dari dewa, dapat disebut sebagai dewataisasi. Jika manusia melakukan dewataisasi, berarti manusia memutuskan diri dengan raksasa. Pemutusan hubungan diri dengan raksasa dapat disebut deraksasaisasi.

Artinya, manusia melalui suatu proses pendidikan  menjadikan dirinya tidak sebagai pengikut raksasa (adharma), melainkan sebaliknya, yakni menjadi anak buah dewa (dharma), baik secara kognitif maupun praksis untuk kedamaian di sini dan di sana – alam fana dan alam baka. (Bersambung)

*) Penulis adalah Guru Besar Emeritus pada Pascasarjana, STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *